UJI PENGGUNAAN BERBAGAI == Saputera; Maria A; Yuda A   Leave a comment

UJI PENGGUNAAN BERBAGAI JENIS KOAGULAN TERHADAP KUALITAS BAHAN OLAH KARET (Hevea brasiliensis)

(Usage Test Various Coagulant Types To Quality Of Material Process Rubber (Hevea brasiliensis))

H. Saputera*;  Maria Agustina dan Yuda Anugraha Rangkai

1 Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Palangka Raya

2 Mahasiswa Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Palangka Raya

E-mail: putracondo@yahoo.com

 

ABSTRACK

Quality of dry rubber material  was determined by the weight of dry rubber content and content contained therein. This study aims is to determine the effect of several types of coagulant on the quality of rubber materials produced though. The study was conducted on April 2011, at the Seed and Garden Produsi Pundu Plantation Office of Central Kalimantan Province Jl. Tjilik Riwut Km. 129 Pundu Kec. Cempaga Upper East Waringin City District, Central Kalimantan Province and Laboratory of Department of Agriculture Faculty of Agriculture, University of Palangkaraya. This research used Completely Randomized Design (CRD), one factor (single factor experiment), which consists of treatment, namely the addition of synthetic coagulant formic acid and acetic acid and natural coagulant dieorub, extract ubi gadung, extract nenas, extract belimbing wuluh and coconut water. Each treatment was repeated 4 times, so that there are 28 units in research experiments. In this study coagulant K3 (deorub) is the best treatment in improving the quality if the rubber material which has a dry rubber content (coagulum) an average of 60% so as to produce the highest Notary price on every kilogram of Rp. 14.000, -. Based on the use of best treatment in the process of coagulation of rubber, though the quality of rubber produced in this research is if the rubber material based on dry rubber content quality II which has a dry rubber content> 60%.

 

Keyword: dry rubber material, coagulant, and the dry rubber content.

 

ABSTRAK

Kualitas bahan olah karet ditentukan oleh bobot isi dan kadar karet kering yang terkandung didalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian beberapa jenis koagulan terhadap kualitas bahan olah karet yang dihasilkan. Penelitian dilaksanakan pada bulan April 2011, di  Balai Benih dan Kebun Produsi Pundu Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah Jl. Tjilik Riwut Km. 129 Pundu Kec. Cempaga Hulu Kabupaten Kota Waringin Timur, Provinsi Kalimatan Tengah dan Laboratorium Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor (single factor experiment),  yang terdiri dari perlakuan, yaitu penambahan koagulan sintetik asam semut dan asam asetat dan koagulan alami dieorub, ekstrak ubi gadung, ekstrak nenas, ekstrak belimbing wuluh dan air kelapa. Setiap perlakuan yang diulang sebanyak 4 kali, sehingga dalam penelitian terdapat 28 satuan percobaan. Dalam penelitian ini koagulan K3 (deorub) merupakan perlakuan terbaik dalam meningkatkan kualitas bahan olah karet dimana memiliki kadar kering karet (koagulum) rata-rata 60 % sehingga menghasilkan harga notary tertinggi pada setiap kilogramnya sebesar Rp. 14,000,-. Berdasarkan pengunaan perlakuan terbaik dalam proses koagulasi karet, mutu bahan olah karet yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah bahan olah karet berdasarkan kadar karet kering mutu II yaitu memiliki kadar karet kering > 60 %.

 

Kata Kunci : bahan olah karet, koagulan, dan kadar karet kering.

PENDAHULUAN

 

Karet (termasuk karet alam) merupakan kebutuhan yang vital bagi kehidupan manusia sehari-hari, hal ini terkait dengan mobilitas manusia dan barang yang memerlukan komponen yang terbuat dari karet seperti ban kendaraan, conveyor belt, sabuk transmisi, dock fender, sepatu dan sandal karet . Kebutuhan ka­ret alam maupun karet sintetik terus meningkat sejalan dengan meningkatnya standar hidup manusia. Kebutuhan karet sintetik relatif lebih mudah dipenuhi karena sumber bahan baku relatif tersedia walaupun harganya mahal, akan tetapi karet alam dikonsumsi sebagai bahan baku industi (Haryanto, 2010).

Bahan olah karet (bokar) berasal dari lateks atau getah yang digumpalkan dengan asam semut atau dengan bahan penggumpal laInnya yang direkomendasikan oleh Pusat Penelitian Karet atau gumpalan yang dihasilkan pekebun dan tidak tercampur dengan kontamina

Standar mutu kualitas dari lateks ditentukan melalui, 1)  Bobot atau isi lateks: Penyadap menuangkan lateks dari ember-ember pengumpul ke dalam ember-ember takaran melalui sebuah saringan kasar dengan ukuran lubang 2 mm, maksudnya untuk menahan lump yang terjadi karena prakoagulasi; 2) Kadar Karet Kering (KKK): Penentuan kadar karet kering (KKK) sangat penting dalam usaha mencegah terjadinya kecurangan para penyadap (Bina UKM, 2010).

Pada proses penanganan pasca panen lateks tanaman Karet yang dikelola pada perkebunan rakyat masih memiliki banyak kendala seperti produktivitas karet rakyat jauh lebih rendah dibanding PTP / PNP dan perusahaan besar swasta dan mutu bokar (bahan olah karet) masih rendah, beragam, dan tidak konsisten serta sistem pemasaran yang kurang menguntungkan petani. Rendahnya mutu ini disebabkan oleh penanganan pasca panen lateks tanaman karet diantaranya penggunaan koagulan yang beragam sehingga menyebabkan kualitas mutu dari bokar petani juga beragam yang dapat menurunkan kualitas mutu dari bokar tersebut    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian beberapa jenis koagulan terhadap kualitas bahan olah karet yang dihasilkan.

 

BAHAN DAN METODE

 

Penelitian dilaksanakan pada bulan April 2011, di  Balai Benih dan Kebun ProduKsi Pundu Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah Jl. Tjilik Riwut Km. 129 Pundu Kec. Cempaga Hulu Kabupaten Kotawaringin Timur, Provinsi Kalimatan Tengah dan Laboratorium Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya.

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah lateks karet, koagulan alami dan sintetik koagulan asam semut, asam asetat, deorub, ekstrak ubi gadung, ektrak ekstrak nenas, belimbing wuluh, dan air kelapa. Bahan lainnya yang digunakan adalah ragi. Sedangkan alat-alat yang digunakan yaitu alat-alat sadap, oven, bak koagulasi, timbangan, penggilingan, pH meter, cawan petridish, gunting, kamera, alat-alat tulis, dan alat pendukung lainnya.

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor (single factor experiment),  yang terdiri dari perlakuan, yaitu penambahan koagulan sintetik asam formiat dan tawas dan koagulan alami dieorub, ekstrak belimbing wuluh, ekstrak nenas, ekstrak ubi gadung dan air kelapa dengan dosis disesuaikan dengan nilai pH pada titik isoelektriks 4,7 untuk masing-masing koagulan. Adapun  perlakuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. Koagulan sintetik: K1 = Asam Semut, dan K2 = Asam Asetat. Koagulan alami : K3 = Deorub, K4 = Ekstrak Ubi Gadung,  K5 = Ekstrak Nenas, K6 = Ekstrak Belimbing Wuluh, dan    K7 = Air Kelapa.

Pada penelitian ini setiap perlakuan yang diulang sebanyak 4 kali, sehingga dalam penelitian terdapat 28 satuan percobaan.

Metode linier aditif yang digunakan dalam penelitian ini menurut Yitnosumarto (1993) adalah:

Yij = µ + ti + eij

Yijk  =         Nilai respon lateks yang diamati

µ     =   Nilai tengah umum

ti    =   Pengaruh pemberian beberapa jenis koagulan  ke-i

eij   =   Komponen acak (galat pengamatan perlakuan ke-i dan ulangan ke-j).

Adapun proses pelaksanaan uji pengunaan berbagai jenis koagulan terhadap kualitas bahan bahan olah karet (Hhevea brasiliensis) adalah sebagai berikut yaitu pembuatan koagulan (meliputi koagulan sintetik dan alami), pembuatan bak koagulasi, pengambilan sampel lateks, proses koagulasi, penimbangan lateks, pengukuran mutu kualitas bahan olah karet ( meliputi pengukuran ketebalan dan kkk (kadar karet kering) koagulum )

Variable yang diamati dalam penelitian ini adalah ph lateks. Volume lateks (gram), ketebalan (cm), bobot atau isi lateks (gram), kkk koagulum (kadar kering karet) (%) dan harga notaring bahan olah karet (rupiah).

Data hasil  penelitian akan dianalisa dengan menggunakan RAL satu factor (single factor experiment), untuk mencari pengaruh  antara masing-masing perlakuan. Jika uji F pada analisis ragam menunjukkan pengaruh yang nyata, maka dilanjutkan dengan uji BNJ taraf 5%, untuk melihat perbedaan antara jenis koagulan.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. 1.        pH Bahan Olah Karet

Berdasarkan nilai rata-rata tertinggi pada penelitian ini koagulan yang menghasilkan perubahan pH dengan rata-rata tertinggi adalah koagulan K2 (asam asetat) dengan rata-rata pH 4,65 sedangkan perlakuan yang menghasilkan perubahan pH dengan rata-rata terendah adalah koagulan    K4 (ekstrak ubi gadung) dengan rata-rata pH 4,80.

Tingginya pH lateks memberikan indikasi bahwa pH lateks tersebut berada jauh diatas titik isolelektrisnya (pH 4,6). Hal ini membuktikan keadaan lateks masih stabil dan ketahanan terhadap penyimpanan akan lebih lama. Penurunan pH lateks menjadi 4,6 pada lateks menyebabkan terjadinya proses pengumpalan lateks sehingga dapat mengakibatkan rusaknya sistem emulsi pada lateks. Sifat asam dari bahan pengumpal (koagulan) menyebabkan menurunnya sifat basa dari lateks yang memiliki pH 6,0–7,0

Pada penilitian ini nilai pH pada saat proses koagulasi lateks pada masing-masing koagulan menghasilkan perubahan pH yang relative sama yaitu antara 4,6–4,7. Penambahan jenis koagulan menurunkan pH lateks segar yang berasal dari proses penyadapan adalah 6,0–7,0 menjadi 4,7 yang disebabkan pada bahan koagulan terdapat bahan asam, basa atau larutan elektrolit dapat mempengaruhi kestabilan atau kemantapan lateks akibatnya lateks akan menggumpal dimana dalam penelitian ini bahan asam dihasilkan oleh koagulan baik koagulan sintetik ataupun alami.

Pada koagulasi sintetik K1 (asam semut) dan          K2 (asam asetat) bahan asam adalah asam anorganik dimana asam yang diperoleh dari mineral anorganik melalui reaksi kimia (Hariana, 2004). Pada koagulan K5 (ekstrak buah nanas) dan K6 (ekstrak belimbing) sifat asam tersebut dapat dapat diketahui dari rasa buah yang masih belum masak dimana bagian tersebut yang diekstrak. Pada bahan koagulan alami seperti nanas mengandung asam cukup tinggi. Kandungan asamnya dapat ditingkatkan melalui proses fermentasi.  Pada koagulan K3 (deorub) kandungan asam diperoleh melalui proses pengasapan bahan cangkang kelapa sawit sehingga menghasilkan senyawa-senyawa asam dan sifat asap. Pada koagulan K7 (air kelapa) sifat asam tersebut diperoleh dari proses fregmentasi dari bakteri dari penambahan bahan ragi dan pada bahan koagulan K4 (ekstrak ubi gadung) kadungan asam tersebut terkadung dalam ubi sebagai senyawa-senyawa asam organik yang terkandung di dalamnya.

Pada koagulan alami kandungan alami dapat dihasilkan melalui suatu proses kimia ataupun kadungan asam tersebut sudah merupakan kandungan penyusun bahn tersebut. Asam – asam yang dihasilkan oleh bahan alami berupa asam – asam organik dimana asam yang diperoleh dari mineral anorganik melalui reaksi kimia. Asam sulfat, asam khlorida (HCl), asam nitrat (HNO3) dan asam fosfat (H3PO4) merupakan asam anorganik yang banyak dijumpai (Hariana, 2004).

 

  1. 2.        Volume

Dalam penelitian ini koagulan menghasilkan volume tertinggi adalah koagulan K5 (ekstrak nenas) dengan rata-rata berat volume 1,07 kg sedangkan koagulan yang menghasilkan volume terendah adalah koagulan K3 (Deorub) dengan rata-rata volume 0,89 kg dan tidak berbeda nyata dengan koagulan K7 (air kelapa) dengan rata-rata volume 0,91 kg.

Volume bahan olah karet adalah berat keseluruhan bahan olah karet hasil dari proses koagulasi lateks pada bak-bak percobaan dalam satuan kilogram. Pada penelitian ini lateks yang digunakan pada tiap perlakuan sebanyak 1 liter yang pada penimbangan awal sebelum proses koagulasi memiliki volume 1,17 kg. Volume bahan olah karet diukur setelah proses koagulasi lateks berlansung. Koagulan K5 (ekstrak nenas) memiliki volume yang lebih besar dibading koagulan lainnya hal ini disebabkan pada koagulasi yang dihasilkan bahan ekstrak nenas masih banyak mengandung air di dalam bahan olah karetnya. Koagulan K5 (ekstrak nenas) memiliki sifat menahan air yang  memudahkan  berkembangnya mikroorganisme pengurai protein dan hidrokarbon karet.

Hasil rata-rata uji tengah volume bahan olah karet (Havea brasiliensis) uji penggunaan berbagai jenis koagulan sintetik dan alami disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1.    Hasil Rata-Rata Uji Tengah Volume Bahan Olah Karet (gram).

Koagulan

Rata-rata

K1 (Asam semut)

0,96 ab

K2 (Asam Asetat)

0,99 ab

K3 (Deurob)

0,89 a

K4 (Ekstrak Ubi Gadung)

1,01 ab

K5 (Ekstrak Nenas)

1,07 b

K6 (Ekstrak Belimbing Wuluh)

0,99 ab

K7 (Air Kelapa)

0,91 a

BNJ 5% = 0,16

Pada koagulan K5 (ekstrak nenas) terjadi proses fregmentasi oleh bakteri secara alami pada saat penyimpanan koagulan, sebelum digunakan sebagai bahan penggumpal. Melalui proses fregmentasi tersebut selain menghasilkan kandungan asam koagulan juga menghasilkan senyawa alkohol. Penambahan senyawa alkohol akan mengakibatkan terjadinya ikatan hidrogen antara alkohol dengan air, ikatan ini lebih kuat dari ikatan hidrogen antara air dengan protein yang melapisi karet, sehingga kestabilan partikel karet di dalam lateks akan terganggu dan akibatnya karet akan menggumpal. Alkohol dan asteon merupakan senyawa penarik air, dimana pengumpalan dengan cara penambahan senyawa penarik air, jarang dilakukan karena karet yang dihasilkan memiliki mutu yang kurang baik.

Secara umum yang dipakai sebagai penggumpal lateks adalah bahan yang mampu menetralkan muatan negatif dari lateks dan yang mampu mengikat air dari fasa karet. Zat-zat seperti asam , alkohol, dan elektrolit yang mengandung ion logam dapat digunakan untuk menggumpalkan lateks (Dalimunthe,1983).

  1. 3.        Ketebalan Lateks

Hasil rata-rata uji tengah ketebalan bahan olah karet (Havea brasiliensis) dari uji penggunaan berbagai jenis koagulan disajikan dalam Tabel 2.

Tabel 2.  Hasil Rata-Rata Uji Tengah Ketebalan Bahan Olah Karet Koagulan (cm)

Koagulan

Rata-rata

K1 (Asam semut)

4,13 a

K2 (Asam Asetat)

4,18 ab

K3 (Deurob)

3,70 a

K4 (Ekstrak Ubi Gadung)

6,03 d

K5 (Ekstrak Nenas)

6,60 d

K6 (Ekstrak Belimbing Wuluh)

5,70 c

K7 (Air Kelapa)

4,65 b

BNJ 5 % = 0,76

 

Dalam penelitian ini koagulan yang menghasilkan ketebalan bahan olah karet tertinggi adalah koagulan K5 (ekstrak belimbing wuluh) dengan rata-rata ketebalan 6,60 cm dan tidak berbeda nyata dengan koagulan K4 (ekstrak ubi gadung) dengan rata-rata ketebalan 6,03 cm. Sedangkan koagulan yang menghasilkan ketebalan bahan olah karet terendah adalah koagulan K3 (deorub) dengan rata-rata ketebalan bahan olah karet 3,70 cm dan tidak berbeda nyata dengan koaguluan K1 (asam semut) dengan rata-rata ketebalan 4,13 cm.

Ketebalan bahan olah karet selain menunjukan tingkat kandungan lateks pada bahan olah karet juga menunjukkan spesifikasi mutu dan penggunaan bahan olah karet. Semakin tipis (ketebalan kecil) maka semakin tinggi mutu bahan olah karet hal ini disebabkan pada bahan olah karet yang tipis memiliki jumlah kadungan air yang kecil (Dalimunthe, 1983).

Pada penelitian ini ketebalan bahan olah karet yang dihasilkan sangat beragam dan secara umum berbanding lurus dengan besar volumenya. Pada koagulan K5 (ekstrak nenas) yang bersifat mengikat air yaitu memiliki ketebalan yang tinggi dibandingkan koagulan lain, dimana kandungan selain lateks didalam bahan olah karet terutama air masih tingggi sehingga menambah ketebalan bahan olah karet.

Ketebalan bahan olah karet yang tidak merata juga dapat disebabkan karena pencampuran lateks dan asam yang tidak seragam, pemberian asam yang tidak cukup, lateks terlalu encer, atau letak bak yang miring. Gelembung gas yang timbul bahan olah karet dapat disebabkan karena penggumpalan terjadi terlalu cepat dengan menggunakan asam yang berlebih, atau asam yang terlalu pekat, penyaringan yang kurang baik, waktu penggumpalan terlalu lama dan kurang sempurna (Dalimunthe, 1983). Selain itu disebabkan protein dan komponen bukan karet mengabsorbsi air dan meningkatkan berbagai efek yang tidak diinginkan, antara lain mengurangi modulus.

  1. 4.        Bobot Isi

Berdasarkan nilai rata-rata bobot isi masing-masing koagulan, koagulan yang menghasilkan bobot isi tertinggi adalah perlakuan koagulan K4 (ekstrak ubi gadung) dengan rata-rata bobot isi 0,76 kg. Sedangkan koagulan yang menghasilkan rata-rata bobot isi terendah adalah perlakuan  koagulan K2 (asam asetat) dengan rata-rata bobot isi 0,61 kg.

Bobot isi adalah berat dari kandungan lateks murni yang terdapat di dalam lateks terutama selain air dan bahan lainnya yang terdapat didalam bahan olah karet. Untuk memperoleh bobot isi bahan olah karet harus melalui pengepresan atau penggilingan dengan ketebalan gilingan 3-5 mm, dimana proses penggilingan tersebut bertujuan untuk menyusutkan jumlah kandungan air didalam air selain juga digunakan sebagai langkah dalam pengujian kadar kering karet.

Pada penelitian ini koagulan alami khususnya koagulan hasil ekstraksi menghasilkan bobot isi diatas 0,70 kilogram, hal ini menunjukkan perbandingan lurus dengan volume yang dihasilkan koagulan tersebut. Pada pengukuran bobot isi tidak terdapat perbedaan yang nyata bobot isi yang dihasilkan oleh masing-masing koagulan meskipun koagulan-koagulan ektraksi menghasilkan rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan koagulan lainnya. Hal ini disebabkan proses penggilingan  konstan (sama) pada tiap pengukuran bobot isi dan kemantapan bahan olah karet yang bervariasi sesuai dengan bahan koagulasinya.

Proses penggilingan yang dilakukan adalah penggilingin sebanyak 7 kali dengan ukuran celah 5 mm ini dilakukan konstan (sama) untuk tiap bahan olah karet hasil koagulasi yang bertujuan tahapan uji tersebut besifat homogen dan dapat menghasilkan perbandingan pada masing-masing bahan olah karet. Kemantapan koagulan yang berbeda mempengaruhi jumlah air yang dikeluarkan pada proses penggilingan dimana ikatan protein-protein yang melapisi bahan karet juga mengikat partikel air (terutama pada koagulan hasil ekstraksi), sehingga proses penggilingan belum dapat mengeluarkan kandungan air di dalam bahan olah karet dan perlu proses pengovenan untuk mengetahui jumlah bahan karet murni yang terdapat didalam bahan olah karet.

Pada proses pengilingan menurunkan berat bahan olah karet mencapai 30 % dari berat volume bahan olah karet tersebut. Penyusutan tersebut akibat berkurangnya partikel air yang terdapat didalam bahan olah karet akibat penggilingan. Pada lateks yang diperoleh dari penyadapan tanaman karet mengandung sekitar 25-40 % bahan karet mentah (crude rubber) dan 60-75 % serum (air dan zat yang terlarut). Bahan karet mentah mengandung 90-95 % karet murni; 2-3 % protein; 1-2 % asam lemak; 0,2 % gula; 0,5 % garam- garam Na, K, Mg, P, Ca, Cu, Mn, dan Fe. Partikel karet tersuspensi dalam serum lateks dengan ukuran 0,04-3,00 µ (Goutara, 1985).

  1. 5.        Kadar Kering Karet Koagulum

Dalam penelitian ini koagulan menghasilkan kadar karet kering (koagulum) tertinggi adalah koagulan K1 (asam semut) dengan rata-rata kadar karet kering (koagulum) 63,09 % dan tidak berbeda nyata dengan koagulan K3 (deorub) dengan rata-rata kadar karet kering (koagulum) 62,81 %. Sedangkan koagulan yang menghasilkan kadar kering karet terendah adalah perlakuan K5 (ekstrak nenas) dengan rata-rata kadar karet kering (koagulum) 31,21 % dan tidak berbeda nyata dengan koagulan K4 (ekstrak ubi gadung) dan K7 (air kelapa) dengan rata-rata kadar karet kering (koagulum) 33,97 % dan 42,53 %.

Hasil rata-rata uji tengah kadar kering karet koagulum bahan olah karet (Havea brasiliensis) uji penggunaan dari pemberian berbagai jenis koagulan sintetik dan alami disajikan dalam Tabel 3.

Tabel 3.    Hasil Rata-rata Uji Tengah Kadar Kering Karet Koagulum Bahan Olah Karet (%) persen.

Koagulan

Rata-rata

K1 (Asam semut)

63,09 b

K2 (Asam Asetat)

55,19 ab

K3 (Deurob)

62,81 b

K4 (Ekstrak Ubi Gadung)

33,97 a

K5 (Ekstrak Nenas)

31,21 a

K6 (Ekstrak Belimbing Wuluh)

43,05 ab

K7 (Air Kelapa)

42,53 a

BNJ 5 % = 26,17

Penentuan KKK (koagulum) pada dasarnya adalah mengukur kandungan karet kering per satuan berat. Untuk itu diperlukan proses pembersihan dan pengeringan contoh uji. Koagulum dibersihkan dengan penggilingan dan pencucian. Jenis gilingan yang cocok untuk pembersihan adalah mesin creper. Untuk bekuan yang sangat kotor harus dilengkapi dengan mesin hammermill. Tingkat kebersihan contoh diukur dengan pengujian kadar kotoran dan kadar abu sesuai dengan norma skema pengujian SIR (Standard Indonesian Rubber).

Pada penelitian ini bahan olah karet yang digumpalkan dengan menggunakan koagulan K1 (asam semut) dan K3 (Deorub) memberikan rata-rata tertinggi dalam menghasilkan pada kadar karet kering koagulum. Namun koagulan terbaik dalam meningkatkan kualitas bahan olah karet adalah koagulan K3 (Deorub), meskipun berdasarkan uji Beda Nyata Jujur    taraf 5 % menunjukan hasil yang berbeda nyata dengan koagulan K1 (asam semut). Koagulan K3 (deurob) memiliki kelebihan diantaranya adalah koagulan K3 (deorub) merupakan koagulan alami yang aman, baik bagi petani ataupun tanaman dibandingkan koagulan sintetik sehingga lebih ramah lingkungan; Koagulan  tersebut dapat diproduksi oleh petani sendiri secara swadaya sehingga dapat menurunkan biaya produksi dan dapat menjadi sumber ekonomi apabila koagulan diproduksi secara masal dan dijual oleh petani untuk meningkatkan pendapatan petani; Dapat mengawetkan bahan olah karet sehingga dapat meningkatkan lama penyimpanan bahan olah karet sebelum digunakan dalam pembuatan karet spesifikasi; dan Mengandung senyawa-senyawa yang dapat menurunkan jumlah air dalam bahan olah karet sehingga meningkatkan kadar kering karet.

Deorub merupakan koagulan yang terbuat dari bahan alami. Yang dibuat melalui proses pendinginan atau pengembunan asap, yang berasal dari proses pengasapan cangkan buah kelapa sawit. Deorub dapat mengatasi masalah tersebut di atas karena mengandung senyawa-senyawa yang dapat berfungsi sebagai antibakteri, antioksidan, pembeku, dan mengandung senyawa-senyawa yang mudah menguap. Ketika bahan deorub disemprotkan di karet maka air yang ada di karet tersebut akan dengan cepat menguap keluar, maka karet cepat kering dan kadar karet meningkat dan sebelum diolah bisa mencapai 10-15 % yang khas. Senyawa karbonil, fenol, alkohol dan ester kan menyebabkan warna coklat dan akan memberikan bau asap khas pada bokar. Deorub merupakan koagulan yang berasal dari proses pengasapan sehingga memiliki sifat seperti bahan-bahan yang dihasilkan melalui pengasapan. Asap memiliki kemampuan untuk mengawetkan bahan makanan karena adanya senyawa asam, fenolat dan karbonil.

Pengaruh Deorub terhadap pembekuan (pH larutan, pH bekuan, kecepatan bekuan, kondisi bekuan) dan mutu teknis seperti kadar kering karet antara Deorub  dan asam semut (format) dan asam asetat  tidak terjadi perbedaan yang nyata. Dalam S solihin, dkk (2006) untuk beberapa sifat fisik vulkanisat menunjukkan bahwa kuat tarik, modulus 500 % dan perpanjangan putus dari kompon karet yang menggunakan pembeku Deorub K lebih tinggi dibandingkan dengan asam semut sedangkan kekerasan sama. Hal inimenunjukkan bahwa pembeku Deorub K lebih baik sedikit dibandingakan dengan asam semut.

Pada koagulan K3 tersebut memiliki kandungan asam amino yang lebih besar, sehingga selain bertujuan menggumpalkan koagulan tersebut dapat mengeluarkan air yang terdapat didalam karet. Ciri khas struktur protein diturunkan oleh asam amino, yaitu mengandung gugus –COOH dan –NH2 yang terikat pada atom karbon yang sama, saling bergabung melalui gugus amino dari salah satu molekul asam dan gugus karboksil asam berikutnya sambil menghilangkan air (Cowd, 1991).

  1. 6.        Harga Notari

Pada penelitian ini koagulan menghasilkan harga notari tertinggi adalah K1 (asam semut) dengan rata-rata harga notari Rp.14.946,44,- dan tidak berbeda nyata dengan koagulan K3 (deurob) dengan rata-rata harga notari  Rp. 13.892,28,- . Sedangkan koagulan yang menghasilkan harga notari terendah adalah K5 (ekstrak nenas) dengan rata-rata notari Rp. 8.295,38,- dan tidak berbeda nyata dengan koagulan K4 (ekstrak ub gadung) dan K7 (Air kelapa) dengan rata-rata notary Rp. 8.550,00,- dan Rp. 9.662,28.

Hasil rata-rata uji tengah harga notari bahan olah karet (Havea brasiliensis) uji penggunaan dari pemberian berbagai jenis koagulan sintetik dan alami disajikan dalam Tabel 5.

Tabel 5.  Hasil Rata-Rata Uji Tengah Harga Notari Rupiah (Rp)

Koagulan

Rata-rata

K1 (Asam semut)

14.946,44 b

K2 (Asam Asetat)

13.545,55 ab

K3 (Deurob)

13.892,28 b

K4 (Ekstrak Ubi Gadung)

8.550,00 a

K5 (Ekstrak Nenas)

8.295,38 a

K6 (Ekstrak Belimbing Wuluh)

10.046,56 ab

K7 (Air Kelapa)

9.662,28 a

BNJ 5 % = 5.324,55

 

Koagulan K3 (deorub) adalah koagulan terbaik dalam meningkatkan harga notari dari bahan olah karet , deorub merupakan koagulan alami yang pembuatan bisa dilakukan sendiri oleh petani sehingga menurunkan biaya produksi dan sehingga meningkatkan pendapatan petani. Koagulan K3 (deorub) merupakan koagulan yang baik dalam memberikan harga yang tinggi untuk bahan olah karet pada tingkat notari atau perusahaan karet yang menjadikan kadar kering karet sebagai salah satu faktor penentu harga karet. Dengan penggunaan koagulan K3 (deorub) bahan olah karet yang dijual memiliki keuntungan ekonomi yang lebih besar dibandingkan dengan perlakuan lainnya.

Volume dan bobot dari bahan olah yang tinggi tidak menjamin mutu dari bahan olah karet. Bedasarkan Standar Nasional Indonesia mutu dari bahan olah karet ditentukan kadar kering karet, sehingga bahan olah karet yang memiliki kadar kering karet yang tinggi memiliki mutu yang baik. Dalam meningkatkan mutu bahan olah karet terutama pada tingkat petani, petani terutama dalam penanganan pasca panen perlu menggunakan bahan koagulan yang dapat meningkatkan kadar kering karet dan menghindari perlakuan pasca panen yang dapat menurunkan mutu bahan olah karet seperti proses pra-koagulasi (koagulasi secara alami), perendaman bahan olah karet didalam air, dan pengelolaan bahan olah karet yang tidak bersih.

Sebagai gambaran 2 (dua) buah truk memiliki muatan maksimal 8 ton, apabila truk a menggunakan koagulan dengan mutu rendah seperti ekstrak nenas dengan hasil pengukuran kadar karet kering (koagulan) 40 % dan harga notary Rp. 25.000,- maka total pembayaran yang diterima petani adalah Rp. 80 juta; sedangkan truk b menggunakan koagulan dengan mutu tinggi seperti koagulan deorub meskipun mengalami penurunan berat sebanyak 20 % akibat hilanganya air pada proses koagulasi sehingga berat tersisa 6,5 ton dengan hasil pengukuran kadar karet kering (koagulan) 60% dan harga notari Rp. 25.000,- maka total pembayaran yang diterima  adalah Rp. 96 juta. Hal ini menunjukan penggunaan koagulan K3 (deorub) selain meningkatkan kualitas bahan olah karet juga meningkatkan harga jualnya terutama harga notari bahan olah karet.

Berdasarkan pengunaan perlakuan terbaik               K3 (deorub) dalam proses koagulasi karet, mutu bahan olah karet yang terbaik dihasilkan dalam penelitian ini adalah bahan olah karet berdasarkan kadar karet kering mutu II yaitu memiliki kadar karet kering > 60 % . sedangkan kualitas bahan olah karet yang terendah dihasilkan koagulan            K5 (ekstrak nenas) dalam standar SNI termasuk dalam mutu III yaitu memiliki kadar karet kering < 60 %.


KESIMPULAN

 

Berdasarkan hasil penelitian uji penggunaan berbagai jenis koagulan terhadap mutu bahan olah karet (Hevea brasiliensis) dapat disimpulkan sebagai berikut :

1.  Seluruh perlakuan koagulan dapat digunakan sebagai bahan koagulasi dimana seluruh koagulan yang digunakan sebagai bahan koagulasi dapat menurunkan pH lateks segar dari pH 6,0 menjadi 4,7 yang merupakan titik isoelektriks koagulasi lateks.

2.  Koagulan K5 (ekstrak nenas) menghasilkan volume, ketebalan tertinggi, dan koagulan K4 (ekstrak ubi gadung) menghasilkan bobot isi yang tertinggi, hal ini dikarenakan bahan koagulan tersebut dapat mengikat air dalam bahan olah karet sehingga kandungan air didalam bahan olah karet tersebutlah yang meningkatkan volume, ketebalan, dan bobot bahan olah karet.

3.  Dalam penelitian ini koagulan K3 (deorub) merupakan perlakuan terbaik dalam meningkatkan kualitas bahan olah karet dimana memiliki kadar kering karet (koagulum) rata-rata 60 % sehingga menghasilkan harga notari tertinggi pada setiap kilogramnya sebesar             Rp. 14.000,-

4.  Berdasarkan penggunaan koagulan terbaik dalam proses koagulasi karet K3 (deorub), mutu bahan olah karet yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah bahan olah karet berdasarkan kadar karet kering mutu II yaitu memiliki kadar karet kering > 60 %. Sedangkan kualitas bahan olah karet yang terendah dihasilkan koagulan K5 (ekstrak nenas) dalam standar SNI termasuk dalam mutu III yaitu memiliki kadar karet kering < 60 %.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Bina UKM, 2010. Pengolahan Getah Karet (Lateks) (hptt:www.binaukm.co.htm) (31 Januari 2011)

Birt,T.1993.Kimia Fisika Untuk Universitas. PT.Gramedia Pusaka Utama,Jakarta.

Cowd, M. A. 1991. Kimia Polimer. Terjemahan. ITB, Bandung.

Dalimunthe, R.,1983. Kandungan Lateks serta Keterkaitannya dengan Pembuatan Barang Jadi, Medan.

Goutara. 1985. Dasar Pengolahan Karet. Agro Industri Press Departemen Teknologi Industri Pertanian, Bogor.

Haryanto, Dwi. 2010. Budidaya Tanaman Karet (hptt://www.htysite.co.tv.htm) (31 januari 2011)

Hariana, H. A, 2004. Tanaman Obat dan Khasiatnya. Seri I. Penebar Swadaya, Jakarta.

Sunarti, 2010. Pedoman Penanganan Pasca Panen Direktorat Penanganan Pasca Panen Direktorat Jendral Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (hptt://bloger.co.htm)

Ompusunggu, M dan Darussamin, A. 1989. Pengolahan Umum Lateks. Balai Penelitian Sungai Putih, Sumatra Utara.

Priyanto, I. 2010. Investasi Kebun Karet (hptt://www.deptan.com) (31 Januari 2011)

Riset, P. 2004. Pengaruh Bahan Skunder Pada Kestabilan lateks Alam Irridiasi. Badan Tenaga Nuklir Nasional, Jakarta.

Safitri, 2010. Pengaruh Ekstrak Belimbing Wuluh (Averrhoa Blimbi L) sebagai Penggumpal Lateks Terhadap Mutu Karet. Jurusan Kimia MIPA USU, Sumatra Utara.

Tarbiyatul, 2009. Kaji Kerap Lateks Dadih Pada Perkebunan Karet Rakyat Untuk Meningkatkan Kualitas Olahan Karet di Kalimantan Timur (http://www.litbang.deptan.go.id)

Tim Penulis, 2004. Karet, Strategi Pemasaran Tahun 2005Budidaya dan Pengolahan. Cetakan keenam. Penebar Swadaya, Jakarta.

Zahara, 2005. Pengeruh Campuran Pengawet (Amonia-AsamBorat) Terhadap Nilai Plastisitas Awal (Po) dan Plastisitas Retensi Index (PRI) Karet Dengan Penggumpalan Asam Asetat. Skripsi Jurusan MIPA USU, Sumatra Utara.

Posted Mei 11, 2012 by Jurnal Ilmiah Agripeat in Penelitian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: