EFEKTIFITAS PEMBERIAN DAN WAKTU == Pandriyani; Lilies S   Leave a comment

EFEKTIFITAS PEMBERIAN DAN WAKTU APLIKASI JAMUR ANTAGONIS Trichoderma spp. SEBAGAI PENGENDALI PENYAKIT LAYU FUSARIUM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN TOMAT

(Effectiveness of Giving and Application Times Fungi Antagonistic Trichoderma spp. For Fusarium Wilt Disease Control on Growth and Yield of Tomato)

Pandriyani, dan Lilies Supriati*

Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya

*E-mail : lilies_supriati@yahoo.com

ABSTRACT

The time and dosage of application Trichoderma spp. on peat soil to suppress fusarium wilt disease and the effect on growth and yield of tomatoes have been conducted since September to December 2010. Complete Randomized Design (CRD) method with two-factor factorial treatment was using with the first factor; dosage were Trichoderma spp. (T) consists of 4 treatments i.e. without Trichoderma spp. (T0); Trichoderma spp. 5 g/plant (T1); Trichoderma spp 10      g/plant (T2) and 15 g/plant (T3). The second factor; Trichoderma spp application consists of three treatment i.e. the time of planting (W0), 1 week before planting (W1) and 2 weeks before planting (W2). Application of Trichoderma spp. with a dose of 5 g, 10 g and 15 g/plant was able to suppressed the intensity of disease on tomato plants to 0% (no attacks), while those not given the Trichoderma spp (T0). the intensity of the disease reached 66.67%. All doses of Trichoderma spp have the same effectiveness that is 100%. Application of Trichoderma spp one week before planting is an effective time due to an effect increases in plant height and weight of fresh fruit.

Keywords:  Tomato, Trichoderma spp.,dosage, times application, Fusarium wilt disease.

ABSTRAK

Penelitian dosis dan waktu aplikasi jamur  Trichoderma spp. pada tanah gambut untuk menekan serangan penyakit layu fusarium serta pengaruhnya terhadap pertumbuhan serta hasil tomat telah dilakukan sejak bulan September sampai Desember 2010. Metode menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama; dosis jamur Trichoderma spp. (T) terdiri dari 4 taraf yaitu: tanpa Trichoderma spp (T0) ; Trichoderma spp 5 g/tanaman (T1) ; Trichoderma spp 10 g/tanaman (T2) dan 15 g/tanaman (T3).  Faktor kedua; waktu aplikasi jamur  Trichoderma spp terdiri dari 3 taraf yaitu : saat tanam (W0) ; 1 minggu sebelum tanam (W1) dan 2 minggu sebelum tanam (W2).  Pemberian Trichoderma spp. dengan dosis 5 g, 10 g, dan 15 g/tanaman mampu menekan intensitas serangan penyakit layu fusarium pada tanaman tomat sampai 0% (tidak ada serangan), sedangkan yang tidak diberi Trichoderma spp. intensitas serangan penyakit mencapai 66,67 %.  Semua dosis Trichoderma spp mempunyai keefektifan yang sama yaitu 100 %.  Aplikasi Trichoderma spp satu minggu sebelum tanam merupakan waktu yang efektif karena berpengaruh meningkatkan tinggi tanaman dan bobot buah segar.

Kata Kunci : Tomat, dosis, waktu aplikasi, Trichoderma spp., penyakit layu fusarium.

 PENDAHULUAN

Dalam usaha peningkatan produksi tanaman tomat petani sering mendapat kesulitan, disebabkan tanaman sering mendapat serangan patogen, antara lain  serangan penyakit layu fusarium yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum f.sp. lycopersici. Serangan penyakit ini dapat menimbulkan kerugian yang cukup besar dan menyebabkan penurunan hasil tanaman mencapai 30 – 50% karena tanaman menjadi layu dan tidak dapat berproduksi (Suastika, 2010). Pengendalian yang ramah lingkungan dapat dilakukan untuk menekan serangan Fusarium oxysporum f.sp. lycopersici dengan  menggunakan agensia hayati Trichoderma spp. (Kurbaini dkk., 2009). Saat ini belum diketahui dosis dan waktu aplikasi jamur antogonis Trichoderma spp. yang efektif untuk mengendalikan penyakit layu fusarium sehingga pertumbuhan dan hasil tomat menjadi lebih baik.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh interaksi antara dosis dan waktu aplikasi jamur  Trichoderma spp. yang efektif untuk menekan serangan  jamur layu fusarium serta pengaruhnya terhadap  pertumbuhan dan hasil tomat.

 METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan sejak bulan September sampai dengan bulan Desember 2010 di rumah kaca kebun percobaan Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Palangka Raya. Bahan yang digunakan: tanah gambut pedalaman yang diambil dari Kelurahan Kalampangan, pupuk kotoran sapi, dolomit, pupuk NPK, beras, jagung, benih tomat varietas Permata, dan media PDA. Alat yang digunakan: ayakan tanah, cangkul, ember, meteran, kamera, hand sprayer, peralatan laboratorium dan alat pendukung lainnya.

Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial dengan 2 (dua) faktor perlakuan. Faktor pertama: perlakuan dosis jamur antagonis Trichoderma spp terdiri dari 4 taraf yaitu: dosis 0 g per tanaman, dosis 5 g per tanaman, dosis 10 g per tanaman dan dosis 15 g per tanaman.  Faktor kedua: perlakuan waktu aplikasi jamur antogonis Trichoderma spp terdiri dari 3 taraf yaitu : saat tanam, 1 minggu sebelum tanam, dan 2 minggu sebelum tanam.  Variabel yang diamati adalah intensitas serangan penyakit, tinggi tanaman, dan bobot segar buah saat panen.

 HASIL DAN PEMBAHASAN

Intensitas Serangan Penyakit

Semua perlakuan yang diberi Trichoderma spp.  dengan dosis 5 g, 10 g, dan 15 g per tanaman, dapat menekan penyakit layu Fusarium sampai 66,67% dimana sejak umur 2 mst sampai 4 mst tidak menimbulkan gejala penyakit (Tabel 1).

Perbedaan yang nyata terhadap intensitas serangan penyakit layu Fusarium antara tanaman tomat yang tidak diberi (kontrol) dengan yang diberi Trichoderma spp menunjukkan bahwa telah terjadi mekanisme antagonis yang dimiliki Trichoderma spp. yaitu berupa kompetisi, mikoparasit dan antibiosis.  Menurut Elfina dkk., (2001), bahwa mekanisme antagonis yang dimiliki Trichoderma spp. dapat berupa kompetisi, mikoparasitisme dan antibiosis.  Mekanisme mikoparasitisme merupakan mekanisme yang paling berperan karena Trichoderma spp. menghasilkan enzim litik, terutama kitinase dan ß 1-3 glukanase yang dapat mengakibatkan lisisnya dinding sel jamur patogen Fusarium oxysporum f.sp. lycopersici. Sastrahidayat (1992), menambahkan bahwa Trichoderma bertindak sebagai mikoparasit bagi cendawan lain dengan tumbuh mengelilingi miselium patogen dan menghasilkan enzim dari dinding miselia atau disebut dengan senyawa antibiosis yang dapat menghambat bahkan membunuh pathogen.

Pada aplikasi Trichoderma spp antara  dosis 5 g, 10 g dan 15 g tidak terdapat  pengaruh yang nyata terhadap intensitas serangan penyakit layu kecuali terhadap kontrol.  Dalam hal ini semua perlakuan dosis Trichoderma spp. mempunyai kemampuan yang sama dapat menghambat intensitas serangan penyakit layu fusarium pada tanaman tomat, berarti pemanfaatan Trichoderma spp. pada dosis 5 g dapat dikatakan sudah efisien.  Pernyataan ini didukung oleh Sukamto (2003) menyatakan penggunaan Trichoderma harzianum 200 g L-1 dan 300 g L-1mempunyai keefektifan yang sama menekan intensitas serangan penyakit busuk buah kakao sebesar 66,59% dan 64,10% dengan kriteria baik.

Tabel 1.    Rata-rata intensitas serangan (IS) penyakit layu Fusarium pada tanaman tomat (%) umur 2, 3, dan 4 mst

Umur

Trichoderma spp. (T)

Waktu Aplikasi(W)

Rata-rata

W0

W1

W2

2 mst

T0

T1

T2

T3

12,00

0,00

0,00

0,00

2,22

0,00

0,00

0,00

3,56

0,00

0,00

0,00

5,93 b

0,00 a

0,00 a

0,00 a

Rata-rata

3,00

0,56

0,89

BNJ 5%

T = 5,35

3 mst

T0

T1

T2

T3

80,00

0,00

0,00

0,00

2,22

0,00

0,00

0,00

3,56

0,00

0,00

0,00

43,89 b

0,00 a

0,00 a

0,00 a

Rata-rata

20,00

0,56

0,89

BNJ 5%

T = 22,29

4 mst

T0

T1

T2

T3

100,00

0,00

0,00

0,00

33,33

0,00

0,00

0,00

66,67

0,00

0,00

0,00

66,67 b

0,00 a

0,00 a

0,00 a

Rata-rata

25,00

83,33

0,89

BNJ 5%

T = 27,29

Keterangan :        –  Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama pada setiap umur yang sama, tidak berbeda nyata menurut uji BNJ 5 %.

–   Data dianalisis dalam bentuk transformasi Arc Sin

Sedangkan waktu aplikasi Trichoderma spp. pada 1 minggu dan 2 minggu sebelum tanam tidak berpengaruh nyata terhadap intensitas serangan penyakit layu fusarium.  Namun bila dilihat data intensitas serangan penyakit pada Tabel 1, aplikasi Trichoderma spp.pada saat tanam menunjukkan intensitas serangan lebih tinggi disbanding waktu aplikasi 1 dan 2 minggu sebelum tanam.  Kenyataan ini mengindikasi bahwa aplikasi Trichoderma spp.sebelum tanam lebih baik dibanding aplikasi pada saat tanam, karena aplikasi sebelum dapat memberikan kesempatan bagi jamur Trichoderma spp berkembang dan menekan pertumbuhan jamur pathogen pada media tanam.  Hal ini didukung oleh Lidia, dkk. (2005) bahwa aplikasi jamur Trichoderma sp dan Gliocladium sp.pada 7 dan 14 hst mempunyai keefektifan yang sama menekan intensitas serangan penyakit layu fusarium pada bibit taman cabe dengan nilai efektifitas 97,33%-100% hingga pengamatan 28 hst.

 Tinggi Tanaman Tomat

Pemberian Trichoderma spp. pada semua dosis (5, 10 dan 15 g/tanaman) menunjukkan rata-rata tinggi tanaman yang lebih tinggi yaitu masing-masing 51,10 cm; 53,68 cm dan  53,71 cm (4 mst) dan berbeda nyata dibandingkan tanpa pemberian (kontrol) dengan rata-rata tinggi tanaman lebih rendah yaitu 21,56 cm.  Sedangkan pengaruh waktu aplikasi Trichoderma spp. pada umur 3 mst, diketahui perlakuan waktu aplikasi 1 minggu sebelum tanam (W1) menunjukkan waktu yang lebih baik dan berbeda nyata terhadap waktu aplikasi Trichoderma spp. pada saat tanam (W0), tetapi W1 tidak berbeda nyata terhadap waktu aplikasi 2 minggu sebelum tanam (W2).

Perbedaan yang nyata terhadap tinggi tanaman terjadi pada pengamatan umur 3 mst terutama pada perlakuan waktu aplikasi 1 minggu sebelum tanam (W1), sedangkan pengamatan pada minggu ke 4 sudah tidak terjadi perbedaan yang nyata.  Pada fenomena ini pupuk kandang yang digunakan adalah pupuk kandang kotoran sapi yang merupakan pupuk dingin, artinya perombakan oleh jasad-jasad renik berlangsung perlahan-lahan, sehingga zat makanan yang dilepaskan berangsur-angsur dengan lambat (Soemarno, 1981).  Hal ini dapat terlihat pada pengamatan 3 mst tinggi tanaman memperlihatkan perbedaan yang nyata dibanding tanpa pemberian Trichoderma sp.  Sedangkan pada umur 4 mst sudah tidak terjadi perbedaan tinggi tanaman pada semua perlakuan, hal ini disebabkan pada umur tersebut tanaman tomat mulai memasuki fase vegetatif lambat sehingga tidak terjadi perbedaan yang nyata

Pemberian Trichoderma spp. mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman tomat yang lebih baik dibandingkan dengan yang tidak diberi. Hal ini dapat terjadi karena selain mampu menekan pertumbuhan patogen F. oxysporum f.sp. lycopersici di rhizosfer perakaran tanaman tomat, Trichoderma spp. juga mampu membantu menguraikan bahan organik dari tanah gambut  yang masam menjadi hara yang diperlukan tanaman untuk pertumbuhannya.

Pada pertumbuhan tanaman khususnya fase vegetatif seperti pertumbuhan tinggi tanaman,  tersedianya unsur nitrogen (N) sangat dominan diperlukan.  Hal ini sesuai pernyataan Lingga dan Marsono (2001), bahwa unsur nitrogen (N) sangat penting untuk pertumbuhan vegetatif tanaman  karena dapat merangsang pertumbuhan secara keseluruhan, khususnya batang, cabang dan daun.  Menurut Hindersah dan Simarmata (2004), ketersediaan unsur nitrogen adalah penting pada saat pertumbuhan tanaman, karena nitrogen berperan dalam seluruh proses biokimia di tanaman.

Tinggi Tanaman Tomat

Berdasarkan Tabel 2, diketahui bahwa perlakuan pemberian Trichoderma spp. pada semua dosis (5, 10 dan 15 g/tanaman) menunjukkan rata-rata tinggi tanaman yang lebih tinggi yaitu masing-masing 51,10 cm; 53,68 cm dan  53,71 cm (4 mst) dan berbeda nyata dibandingkan tanpa pemberian (kontrol) dengan rata-rata tinggi tanaman lebih rendah yaitu 21,56 cm.

Tabel 2. Rata-rata tinggi tanaman tomat (cm) umur 2, 3 dan 4 mst

Umur

Trichoderma spp.

 (T)

Waktu Aplikasi(W)

Rata-rata

W0

W1

W2

2 mst

T0

T1

T2

T3

15,70

16,03

19,63

21,10

16,97

20,73

21,53

22,57

15,10

20,57

21,93

19,47

15,92 a

19,11 ab

21,03  b

21,18 b

Rata-rata

18,12

20,55

19,27

BNJ 5%

T = 4,19

3 mst

T0

T1

T2

T3

15,70

28,37

34,33

35,70

30,57

36,90

37,10

39,83

15,60

35,27

37,63

34,07

20,62 a

33,51 b

36,36 b

36,53 b

Rata-rata

26,79 a

36,10 b

31,39 ab

BNJ 5%

T = 10,33 & W = 8,10

4 mst

T0

T1

T2

T3

15,70

45,50

53,57

52,87

33,37

55,20

54,07

57,40

15,60

52,60

53,40

50,87

21,56 a

51,10 b

53,68 b

53,71 b

Rata-rata

37,98

50,01

43,03

BNJ 5%

T = 15,94

Keterangan :    Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama pada setiap umur yang sama, tidak berbeda nyata menurut uji BNJ 5 %.

Sedangkan pengaruh waktu aplikasi Trichoderma spp. pada umur 3 mst, diketahui perlakuan waktu aplikasi 1 minggu sebelum tanam (W1) menunjukkan waktu yang lebih baik dan berbeda nyata terhadap waktu aplikasi Trichoderma spp. pada saat tanam (W0), tetapi W1 tidak berbeda nyata terhadap waktu aplikasi 2 minggu sebelum tanam (W2).

Pemberian Trichoderma spp. mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman tomat yang lebih baik dibandingkan dengan yang tidak diberi. Hal ini dapat terjadi karena selain mampu menekan pertumbuhan patogen F. oxysporum f.sp. lycopersici di rhizosfer perakaran tanaman tomat, Trichoderma spp. juga mampu membantu menguraikan bahan organik dari tanah gambut  yang masam menjadi hara yang diperlukan tanaman untuk pertumbuhannya.

Untuk pertumbuhan tanaman khususnya fase vegetatif seperti pertumbuhan tinggi tanaman,  tersedianya unsur nitrogen (N) sangat dominan diperlukan.  Hal ini sesuai pernyataan Lingga dan Marsono (2001), bahwa unsur nitrogen (N) sangat penting untuk pertumbuhan vegetatif tanaman  karena dapat merangsang pertumbuhan secara keseluruhan, khususnya batang, cabang dan daun.  Menurut Hindersah dan Simarmata (2004), ketersediaan unsur nitrogen adalah penting pada saat pertumbuhan tanaman, karena nitrogen berperan dalam seluruh proses biokimia di tanaman.

Bobot Segar Buah Tomat

Bobot segar buah tomat menunjukkan adanya perbedaan yang nyata antara perlakuan yang diberi dengan yang tidak diberi Trichoderma spp. Pemberian Trichoderma spp. pada semua dosis (5, 10 dan 15 g/tanaman) menunjukkan rata-rata bobot segar buah yang lebih baik yaitu masing-masing 0,494 kg; 0,568 kg dan  0,665 kg dan berbeda nyata dibandingkan tanpa pemberian Trichoderma spp. (kontrol) dengan rata-rata hanya yaitu 0,118 kg.

Tabel 3. Rata-rata bobot segar buah tanaman tomat (kg/tanaman) saat panen

Tricho-derma spp. (T)

Waktu Aplikasi(W)

Rata-rata

W0

W1

W2

T0

T1

T2

T3

0,000

0,400

0,530

0,536

0,254

0,526

0,581

0,783

0,102

0,555

0,592

0,676

0,118 a

0,494 b

0,568 b

0,665 b

Rata-rata

0,367 a

0,536 b

0,481 b

BNJ 5%

T = 0,128 &  W = 0,100

Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama, tidak berbeda nyata menurut uji BNJ 5 %.

Kesimpulannya bahwa perlakuan yang diberi Trichoderma spp mampu menghasilkan rata-rata hasil panen bobot segar buah tanaman tomat selama tiga kali panen pada perlakuan yang diberi Trichoderma spp jauh lebih tinggi yaitu  0,4 – 0,7 kg/tanaman apabila dibanding yang tidak diberi yaitu 0,1 – 0,2 kg/tanaman.

Hal ini dapat terjadi karena selain mampu menekan pertumbuhan patogen F. oxysporum f.sp. lycopersici di rhizosfer perakaran tanaman tomat, Trichoderma spp. juga mampu membantu menguraikan bahan organik dari tanah gambut  yang masam menjadi hara yang diperlukan tanaman untuk pertumbuhannya.  Hakim dkk (1986), mengemukakan bahwa peranan umum dari jamur saprofit seperti  Penicillium, Mucor, Trichoderma dan Aspergillus adalah mendekomposisi bahan organik dan melakukan sintesa humus.  Dalam suasana masam jamur lebih berperan dalam dekomposisi bahan organik daripada bakteri dan actinomycetes yang tidak tahan masam.  Baker  et al. (1986), mengemukakan bahwa Trichoderma spp sebagai jamur saprofit mampu menguraikan sellulosa menjadi makanan, akan dapat membantu mempercepat perombakan bahan organik sehingga unsur hara lebih tersedia bagi tanaman. Lestari dan Indrayati (2000), menambahakan bahwa Trichoderma spp. menghasilkan enzim-enzim pengurai yang dapat menguraikan bahan organik, penguraian ini akan melepaskan hara yang terikat dalam senyawa komplek menjadi tersedia terutama unsur N, P, dan S.  Tersedianya hara-hara tersebut menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik.

Hasil bobot buah per tanaman dari penelitian ini memang masih sangat rendah apabila dibandingkan potensi hasil pada deksripsi tanaman tomat varietas Permata yang dapat mencapai 3 – 4 kg/tanaman. Rendahnya hasil bobot buah per tanaman dari penelitian ini diduga selain karena disebabkan pemanenan hasil hanya dilakukan tiga kali padahal tanaman yang tidak terserang masih berproduksi, juga diduga disebabkan produktivitas tanaman di tanah gambut memang masih rendah karena ketersediaan unsur hara seperti N,P dan K  rendah.  Radjagukguk (2000) mengemukakan bahwa tanah gambut mempunyai ketersediaan hara N, P, dan K yang rendah.

Trichoderma spp selain berperan sebagai pengendali bagi patogen F.oxysporum f.sp. lycopersici yang dapat mengurangi atau menggagalkan hasil panen tomat, tetapi juga dapat membantu tersedianya unsur hara, seperti unsur P pada tanah gambut yang sulit tersedia menjadi lebih tersedia karena Trichoderma spp berperan sebagai dekomposer tanah. Tersedianya unsur P ini dibutuhkan tanaman saat pertumbuhan dan sangat berpengaruh untuk meningkatkan hasil panen.  Rosmarkam dan Yuwono (2002), menyatakan bahwa fosfor (P) berperan untuk pembentukan sejumlah protein tertentu, berperan dalam fotosintesis dan respirasi sehingga sangat penting untuk pertumbuhan tanaman keseluruhan, selain itu berperan penting memperbaiki sistem perakaran tanaman.  Nyakpa, dkk (1988), menambahkan bahwa pengaruh fosfor (P) dapat meningkatkan hasil tanaman, perbaikan kualitas hasil dan mempercepat pematangan

Waktu aplikasi mempengaruhi bobot segar buah tomat. Waktu aplikasi Trichoderma sp pada umur 1  (W1) dan 2 minggu  (W2) sebelum tanam memberikan hasil terbaik bobot segar buah yaitu 0,536 kg dan 0,481 kg dibanding dengan aplikasi pada saat tanam (W0) yaitu 0,367 kg (Tabel 3).

Berdasarkan nilai rata-rata dari hasil pengamatan secara keseluruhan,  perlakuan W1 memiliki kecenderungan merupakan waktu yang tepat untuk aplikasi jamur antagonis Trichoderma spp.  Waktu 1 minggu atau 7 hari sebelum tanam tomat tampaknya sudah cukup memberikan waktu untuk pertumbuhan dan perkembangan Trichoderma spp yang pesat di tanah dan mampu berperan sebagai antagonis bagi patogen tanah dan juga berperan aktif mendekomposisi bahan organik yang ada pada tanah gambut menjadi hara tersedia yang dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhan dan hasil. Sedangkan pemberian Trichoderma spp saat tanam tampaknya kurang memberikan waktu yang cukup bagi pertumbuhan dan perkembangan Trichoderma spp sehingga aktivitasnya  belum optimal dan proses dekomposisi bahan organik masih berjalan lambat.

KESIMPULAN

                      Berdasarkan hasil penelitian efektifitas pemberian dan waktu aplikasi jamur antagonis Trichoderma spp. sebagai pengendali penyakit layu Fusarium terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman tomat dapat disimpulkan bahwa:

  1. Interaksi pemberian dosis dan waktu aplikasi Trichoderma spp tidak berpengaruh nyata terhadap intensitas serangan penyakit layu Fusarium pada tanaman tomat, demikian pula terhadap pertumbuhan dan hasil tomat.
  2. Pemberian Trichoderma spp. pada dosis 5, 10, dan 15 g/tanaman mempunyai kemampuan yang sama menekan intensitas serangan penyakit layu Fusarium, meningkatkan pertumbuhan tanaman dan bobot buah tomat umur 2-4 mst. Pemberian Trichoderma spp dapat menekan intensitas penyakit layu Fusarium hingga 0%.
  3. Waktu aplikasi Trichoderma spp 1 dan 2 minggu sebelum tanam menunjukkan pengaruh lebih baik terhadap tinggi tanaman dan bobot buah tomat dibanding aplikasi Trichoderma spp saat tanam.

DAFTAR PUSTAKA

 

Baker, K.F. , N.T. Flantje, C.M. Olsen, and H. M. Stretton.  1986.  Effect of antagonism on growth and survival of. R. Solani in Soil.  Phytopathology 57 : 591-597.

Elfina, Y., Mardinus, T. Habazar, dan A. Bachtiar.  2001.  Studi Kemampuan Isolat-isolat Jamur Trichoderma spp. yang Beredar di Sumatera Barat untuk Pengendalian Jamur Patogen Sclerotium rolfsii pada Bibit Cabai (Makalah Seminar) dalam Prosiding Kongres Nasional XVI dan Seminar Ilmiah PFI, 22-24 Agustus 2001, Bogor.

Hakim, N., Y.M. Nyakpa, M.A. Lubis, G.S. Nugroho, A.M. Diha, B.G. Hong, and H.H. Bailey. 1986. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung. Lampung.

Hindersah, R dan T. Simarmata.  2004.  Potensi Rizobakteri Azotobacter dalam Meningkatkan Kesehatan Tanahwww. unri. ac. id.  02 Februari 2011

Kurbaini, D., J. Prasetyo, dan T.N. Aeny. 2009.  Pengaruh Trichoderma viride dan Solarisasi Tanah Terhadap Populasi Fusarium oxysporum (Scleht.) f.sp. lycopersici (Sacc) Snyd Et Hans. Penyebab Penyakit Layu pada Tanaman Tomat.  www.pustaka_deptan.org. 21 Agustus 2010.

Lestari, Y. dan L. Indrayati. 2000. Pemanfaatan Trichoderma dalam Mempercepat Perombakan Bahan Organik pada Tanah Gambut Di dalam:  Prosiding Seminar Hasil Penelitian Tanaman Pangan Lahan Rawa.  Balittra Banjarbaru.

Lidia, M., S. Rasminah dan T. Hadiastono.  2005.  Pemanfaatan Jamur Trichoderma sp dan Gliocladium sp. Sebagai Agen Hayati terhadap Penyakit Layu Fusarium (F. oxysporum f.sp. capsici) pada Tanaman Cabe Merah.  Jurnal Habitat XVII (1):29-44.  Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya.  Malang.

Lingga, P. dan Marsono.  2001.  Petunjuk Penggunaan Pupuk.  Penebar Swadaya.  Jakarta.

Nyakpa, M.Y.  A.M. Lubis, M.A. Pulung, A.G. Amrah, A. Munawar, G.B. Hong, dan N. Hakim.  1988.  Kesuburan Tanah.  Penerbit Universitas Lampung.  Lampung.

Radjagukguk, B.  2000.  Perubahan Sifat-sifat Fisik dan Kimia Tanah Gambut Akibat Reklamasi Lahan Gambut untuk Pertanian.  Dalam Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan.  Vol. 2. Yogyakarta.

Rosmarkam, A dan N.W. Yuwono.  2002.  Ilmu Kesuburan Tanah.  Kanisius.  Yogyakarta.

Sastrahidayat. I. R. 1992. Ilmu Penyakit Tanaman. Usaha Nasional. Surabaya.

Suastika, I.B.K.  2010.  Impelementasi Pengendalian Hama Terpadu (PHT) untuk Mengendalikan Penyakit Layu Fusarium.  Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali.  http://bptp-bali@litbang.deptan.go.id. 2 April 2011.

Sukamto, S.  2003.  Pengendalian Secara Hayati Penyakit Busuk Buah Kakao dengan Jamur Antagonis Trichoderma harzianum.  Prosiding Kongres Nasional XVII dan Seminar Ilmiah PFI.  Bandung 6-8 Agustus 2003.

Soemarno.  1981.  Dasar-dasar Ilmu Pemupukan.  Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya.  Malang.

Posted Mei 11, 2012 by Jurnal Ilmiah Agripeat in Uncategorized

PEMETAAN DAERAH PENYEBARAN == Melhanah; Giyanto; Warismun   Leave a comment

PEMETAAN DAERAH PENYEBARAN SERANGAN TIKUS PADA TANAMAN PADI DI KALIMANTAN TENGAH

(Mapping the distribution of rat attack on rice plants in Central Kalimantan)

Melhanah1*), Giyanto1),  dan Warismun2)

1) Staf Pengajar Jurusan Budidaya Pertanian Faperta UNPAR

2)Balai PerlindunganTanaman pangand dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Tengah

*E-mail : melhanah@yahoo.co.id

ABSTRACT

The objective of the study was to analyze and identify and map the spread of the rat attack on rice crops during the dry season in Central Kalimantan. The data collected consists of 13 districts and 1 city in the province of Central Kalimantan. Data during the period of 7 (seven) years (2002-2008) obtained the data set 6 planting season and 6 during the dry season. Analysis and mapping of regional distribution in rat attack rice plants using the method of analysis of seasonal crops. The results showed that: The attack rats for 7 years (2002-2008/6 dry season) as a whole has caused damage and loss of rice crops in Central Kalimantan province, spread across 11 districts (78.57%), with an average the highest attack  an area of 95.02 ha  occurred in Kapuas district, and area attacks rats are endemic in the district of Kapuas and Pulang Pisau.

Keyword : Mapping, rat attack, rice plant

 

ABSTRAK

 Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengidentifikasi  serta pemetaan penyebaran  daerah serangan tikus pada tanaman padi selama musim kemarau di Kalimantan Tengah.   Data yang dikumpulkan terdiri atas data sekunder serangan tikus dan luas serangan berasal  dari 13 kabupaten dan 1 kota di Provinsi Kalimantan Tengah.  Data selama periode 7 (tujuh) tahun (2002-2008) diperoleh kumpulan data 6 musim tanam dan 6 musim kemarau.  nalisis dan pemetaan daerah penyebaran serangan tikus pada tanaman padi menggunakan metode analisis tanaman musiman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: serangan tikus selama 7 tahun terakhir (2002-2008/ pada 6 musim kemarau) secara keseluruhan telah menimbulkan kerusakan dan kerugian pada tanaman padi di Provinsi Kalimantan Tengah yang tersebar di 11 kabupaten (78,57%); dengan rata-rata tertinggi serangan seluas 95,02 ha terjadi di kabupaten Kapuas, dan daerah serangan tikus endemis terdapat di kabupaten Kapuas dan Pulang Pisau.

.Kata kunci : pemetaan,serangan tikus,tanaman padi

 PENDAHULUAN

Pengembangan produksi padi dewasa ini terus ditingkatkan karena  padi merupakan makanan pokok penduduk Kalimantan Tengah, selain itu  usaha tani padi  dapat memberikan keuntungan yang cukup tinggi.  Salah satu  kendala yang dihadapi dalam usaha peningkatan produksi padi di Kalimantan Tengah adalah adanya serangan tikus.

Tikus merupakan salah satu hama penting pada tanaman padi dengan risiko yang harus diperhitungkan dalam setiap budidaya tanaman padi, karena tingkat serangannya selalu dominan  pada setiap musim tanam, baik musim kemarau maupun musim penghujan.   Serangan tikus sawah dijumpai sepanjang musim dan menyerang pertanaman mulai stadia persemaian, vegetatif, generatif, bahkan sampai di gudang penyimpanan (Anonim, 2006;  Balai Proteksi Tanaman Pangan VIII Banjarmasin, 1993).

Luas serangan hama tikus pada tanaman padi di Kalimantan Tengah dalam 7 tahun terakhir (th 2002-2008) mencapai 6.925,3 ha atau  rata-rata seluas 989,33 ha/tahun.  Selama kurun waktu tersebut luas serangan tikus dari tahun ke tahun berfluktuasi namun ada kecenderungan meningkat (Anonim, 2008). Kumulatif luas tambah serangan tikus pada tanaman padi di Provinsi Kalimantan Tengah pada tahun 2010 mencapai 1.239,83 Ha (Anonim, 2010)

Prioritas utama yang diperlukan untuk mengetahui serangan tikus adalah pemetaan daerah penyebaran serangan tikus. Penyebaran serangan tikus dapat menjadi dasar untuk menentukan strategi menghadapi permasalahan yang timbul akibat adanya serangan tikus.  Informasi ini juga penting bagi para petani dan pengusaha padi sehingga dapat memahami dan dapat mengantisipasi terhadap kemungkinan timbulnya serangan tikus yang dapat menurunkan kualitas dan produksi usaha taninya (Lanya dan Suwardiwijaya, 2003). Dalam upaya memberikan informasi yang dapat digunakan sebagai dasar dalam membuat perencanaan dan pengambilan kebijakan pengendalian tikus  pada musim kering di Kalimantan Tengah, maka diperlukan analisis dan identifikasi daerah penyebaran serangan tikus di Provinsi Kalimantan Tengah .

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menganalisis dan mengidentifikasi daerah penyebaran serangan tikus pada tanaman padi menurut kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Tengah dan (2) Pemetaan daerah penyebaran serangan tikus pada tanaman padi di Provinsi Kalimantan Tengah berdasarkan kategori serangannya (endemis, sporadik, potensial dan aman).

 

BAHAN DAN METODE

Penelitian dilaksanakan di Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Kalimantan Tengah, Kota Palangka Raya, pada bulan November 2009 sampai dengan Januari 2010. Bahan yang digunakan adalah data-data sekunder serangan tikus, peta Kalimantan Tengah skala 1:1.250.000 (Digital, batas administrasi kabupaten).  Sedangkan alat-alat yang digunakan terdiri atas alat tulis, kalkulator, seperangkat komputer dan printer.

Data yang diolah dan dianalisis adalah data skunder berupa laporan musiman, laporan tahunan berdasarkan data historis luas tambah serangan (LTS).  Data dikumpulkan  dari 14 lokasi di Provinsi Kalimantan Tengah yang terdiri atas 13 kabupaten dan 1 kota, data yang dikumpulan selama 7 (tujuh) tahun ( periode April 2002-Maret 2008), sehingga diperoleh data 6 musim tanam yang terdiri atas  6 musim kemarau (data serangan dari bulan April sampai September) Data dikumpulkan dari Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Tengah.

Pelaksanaan

Tahapan mengidentifikasi daerah penyebaran serangan tikus pada tanaman padi menurut kabupaten/kota dan  proses pembuatan peta,  langkah langkah yang  dilaksanakan adalah: 1) Menentukan kriteria luas terkena serangan untuk masing masing kabupaten/kota. Diawali dengan; a). Menghitung  Klasifikasi Rata-rata Terkena (RTJ);  dimana, RTj=  Rata-rata T untuk masing-masing K-j; m=Banyaknya musim tanam yang disertakan dalam analisis dan  Tij=Luas T pada masing-masing K-j disetiap musim-I, i=1, 2, 3,  m=musim dan j=1, 2, 3, , k; b). Menentukan  selang klasifikasi rata-rata T (SRT)

Maks RTj = Nilai tertinggi dari RT dari seluruh K yang terlibat dalam analisis. Nilai 3 =Tiga kelompok data RT (rendah, menengah, dan tinggi), 3), Menentukan kelas RTj. Nilai SRT yang diperoleh  selanjutnya dimasukkan dalam Tabel 1

 

Tabel 1.    Klasifikasi rata-rata terkena untuk masing-masing kabupaten/kota

KRTj

Kisaran RTj

Kriteria

0

0

Tidak pernah terkena serangan

1

>0 sampai SRT

Luas terkena serangan rendah

2

>SRT sampai 2 * SRT

Luas terkena serangan menengah

3

>2 * SRTsampai 3 * SRT

Luas terkena serangan tinggi

Sumber: Balai Besar Peramalan Organisme Penganggu Tumbuhan Pangan dan Horiultura.  2003

Tabel 2.Klasifikasi frekuensi serangan untuk masing-masing kabupaten/kota

KFj

Kisaran Fj

Kriteria

0

0

Tidak pernah terjadi serangan

1

> 0 sampai SF

Frequensi serangan rendah

KFj

Kisaran Fj

Kriteria

2

> SF sampai 2 * SF

Frequensi serangan menengah

3

> 2 * SF sampai 3 * SF

Frequensi serangan tinggi

Sumber: Balai Besar Peramalan Organisme Penganggu Tumbuhan Pangan dan Hortikultura.  2003

Tabel 3.  Batasan pemetaan daerah penyebaran serangan tikus pada tanaman padi di Kalimantan Tengah berdasarkan kelas dan kriteria

Kelas

Kisaran KRTFj

Kategori daerah serangan

Batasan

Rata-rata Luas Serangan

Frekuensi Kejadian

0

0

Aman

Tidak pernah terjadi serangan

1

1 – 2

Potensial Rendah Pernah Terjadi

2

3 – 4

Sporadik Rendah Sering sampai terus menerus terjadi

  Menengah Pernah sampai sering terjadi

  Tinggi Pernah terjadi

3

5 – 6

Endemik Menengah Terus menerus

  Tinggi Sering terjadi

 


2) Menentukan  Klasifikasi Frekuensi Serangan.  Langkah yang dilaksanakan adalah: a) Menghitung frekuensi terkena serangan (Fj); b) menentukan selang klasifikasi frekuensi terkena serangan (SF) dengan rumus: SF=1/3 Maks F. Maks F = Banyaknya musim tanam yang dilibatkan dalam analisis; Nilai 3 = Tiga kelompok frequensi serangan (rendah, menengah, dan tinggi; c). Menentukan kelas Fjsesuai dengan klasifikasi yang seperti pada Tabel 2.

 

3). Analisa Kriteria Daerah SeranganLangkah yang dilaksanakan adalah  a); menghitung jumlah kombinasi KRTj dan KFj.   KRTFj=KRTj+KFj j=1,2,3, b). Menentukan kelas kategori daerah serangan.  Nilai klasifikasi daerah serangan (KKRTFj) didistribusikan kedalam masing-masing  lokasi (K) untuk dibuat peta. Peta  menggunakan fasilitas Sistem Informasi Geografis (SIG). Formulasi  dan tabel yang digunakan untuk mengidentifikasi penyebaran serangan tikus berdasarkan formula berasal dari Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan Pangan dan Hortikultura (2003).

4). Menentukan batasan pemetaan daerah penyebaran serangan tikus pada tanaman padi di Kalimantan Tengah. Penetapan batasan-batasan daerah serangan tikus pada tanaman padi (Lanya, dkk., 2002), seperti pada Tabel 3.

Untuk menyamakan persepsi dan memudahkan dalam membaca peta,  maka dalam membuat peta digunakan simbol arsiran  berwarna hitam (Wahyudin dan Suwardiwijaya, 2003).

Analisa Data

Metode analisis dan pemetaan daerah penyebaran serangan tikus pada tanaman padi di Kalimantan Tengah menggunakan metode analisis tanaman musiman, dengan parameter yang diamati adalah rata-rata luas tambah serangan terkena (T), dan frekuensi serangan (F) atau banyaknya kejadian serangan.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis dan identifikasi daerah penyebaran serangan tikus pada tanaman padi  di Provinsi Kalimantan Tengah

Hasil identifikasi menunjukkan bahwa di provinsi Kalimantan Tengah tikus menyerang di 11  Kabupaten dengan frekuensi serangan tertinggi mencapai enam (6) kali terjadi di empat (4) Kabupaten dan tidak pernah terjadi serangan  terdapat di tiga (3) Kabupaten/Kota. Rata-rata  luas terkena terkena dan rata-rata puso pada  tanaman padi yang diserang tikus  selama musim kemarau mencakup 11 kabupaten (78,57%) dari seluruh kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Tengah (Tabel 4).

Nilai maksimun rata-rata terkena (RTj) pada musim kemarau sebesar 95,02 ha terdapat di kabupaten Kapuas, dengan demikian maka selang klasifikasi rata-rata terkena (SRT) termasuk kategori luas serangan tinggi (Tabel 5)

 

 

Tabel 4.  Frekuensi (F),  Rata-rata luas terkena (T) dan puso (P) serangan tikus pada tanaman padi selama musim kemarau (2002-2007) menurut kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Tengah.

No.

Kabupaten/Kota

Frekuensi Serangan

(Kali)

Rata-rata luas terkena (T) (Ha)

Puso (P) (Ha)

1.

Kapuas

6

95,02

0,5

2.

Pulang Pisau

5

85,67

0

3.

Gunung Mas

1

2,59

0

4.

Kotawaringin Timur

6

15,81

0

5.

Seruyan

1

1,41

0

6.

Katingan

1

1,92

0

7.

Kotawaringin Barat

5

15,08

1,08

8.

Lamandau

2

0,58

0

9.

Sukamara

0

0

0

10.

Barito Selatan

6

29,10

0

11.

Barito Timur

5

9,17

0

12.

Barito Utara

6

3,44

0

13.

Murung Raya

0

0

0

14.

Palangka Raya

0

0

0

Kalimantan Tengah

44

259,78

1,58

 

 

 

 

Tabel 5   Klasifikasi rata-rata T (RTj) serangan hama tikus pada musim kemarau

Kelas

Kisaran

Kriteria

0

0 Tidak pernah terjadi serangan

1

> 0 – 31,67 ha Luas serangan rendah

2

> 31,67 – 63,34 ha Luas serangan menengah

3

> 63,34 ha – 95,02 ha Luas serangan tinggi

 

Hasil Pemetaan

Berdasarkan 2 (dua) parameter rata-rata terkena serangan (RTj) dan frekuensi kejadian serangan (Fj) di atas maka dapat diidentifikasi kategori daerah serangan hama tikus untuk masing-masing kabupaten/kota (Tabel 6)

Hasil pemetaan kategori daerah penyebaran serangan tikus menurut kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Tengah pada musim kemarau dapat dilihat pada gambar 1 berikut.

Kegiatan pemetaan pada dasarnya bertujuan membantu manusia dalam proses pengambilan keputusan dalam menangani permasalahan.  Pengambilan keputusan melalui pemetaan dan analisis keruangan dapat dibuat sebuah perencanaan yang mengacu pada alternatif terbaik, akurat, efektif dan efisien, baik ditinjau dari sasaran, waktu maupun biaya.

 

 

Tabel 6.  Jumlah dan persentase kabupaten/kota menurut kategori daerah serangan tikus di Provinsi Kalimantan Tengah pada musim kemarau

Kategori daerah

serangan

Jumlah Kabupaten

%

Kabupaten

Aman

3

21,4

Sukamara, Murung Raya ,Palangka Raya

Potensial

4

28,6

Gunung Mas, Seruyan, Katingan,Lamandau

Sporadis

5

35,7

Kotawaringin Timur, Kotawa-ringin Barat, Barito Selatan, Barito Timur, Barito Utara

Endemis

2

14,3

Kapuas, Pulang Pisau

Jumlah

14

100,0

14

Gambar 1    Peta penyebaran daerah serangan tikus pada tanaman padi musim kemarau menurut kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Tengah

 

Pada Gambar 1 menunjukkan tikus sudah menyerang pada 11 Kabupaten di Provinsi Kalimantan Tengah, dan Kabupaten Kapuas dan Pulang Pisau  termasuk kategori endemis sehingga perlu diwaspai juga  kemungkinan serangan tikus akan menyebar ke kabupaten yang terdekat di dua kabupaten tersebut.  Hasil pemetaan penyebaran serangan tikus tersebut dapat digunakan sebagai informasi awal untuk mengetahui kemungkinan menyebarnya tikus ke daerah kabupaten lain, maupun terjadinya migrasi tikus ke daerah lain.  Hal ini sesuai dengan pendapat Daryanto (2002) bahwa pemetaan merupakan langkah awal untuk mengetahui penyebaran organisme pengganggu tanaman, sebagai dasar menentukan langkah-langkah dalam menghadapi masalah yang timbul, sehingga dampak pada masa yang akan datang penurunan kualitas dan kuantitas produksi dapat padi dapat ditekan.

Data dan hasil pemetaan  yang diperoleh dapat digunakan untuk memprediksi serangan tikus pada tahun yang akan datang dan langkah langkah pengendalian yang dapat dilaksanakan. Prediksi tersebut antara lain: a). Kabupaten Kapuas dan Pulang Pisau masih akan terserang tikus; b) Serangan tikus akan menyebar ke daerah tetangga terdekat seperti Kabupaten Barito Selatan, Barito Utara, Katingan dan Gunung Mas; Langkah pengendalian yang dapat dilakukan antara lain dengan memanfaatkan musuh alami yang tersedia di lapangan, dan pelaksanaan pengendalian harus dilakukan oleh petani secara berkelompok dan terkoordinasi dalam cakupan skala yang luas.  Hal ini sesuai dengan pendapat Natanegara dan Suwardiwijaya, (2003), Lanya dan Suwardiwijaya, (2003),  Departemen Pertanian (2008) bahwa hasil pemetaan dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan mendasar seperti : (a) dimana organisme pengganggu tanaman itu menyerang?; (b) kemana organisme pengganggu  akan menyebar?; (c) berapa luas serangannya?;  dan (d) bagaimana cara mengatasi hama/penyakit tersebut? serta perlunya pengendalian hama tikus secara terpadu dengan memanfaatkan berbagai teknologi pengendalian yang sesuai.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pemetaan dan penyebaran serangan tikus pada tanaman padi di provinsi kalimantan Tengah disimpulkan sebagai berikut: 1) Serangan tikus selama 7 tahun terakhir (tahun 2002-2008) atau (selama 6 musim kemarau tahun 2002- 2007) secara keseluruhan telah menimbulkan kerusakan dan kerugian pada tanaman padi di Provinsi Kalimantan Tengah yang tersebar di 11 kabupaten (78,57%) ; 2).     Rata-rata tertinggi serangan tikus pada tanaman padi selama 6 musim kemarau seluas 95,02 ha terjadi di kabupaten Kapuas; 3).Berdasarkan hasil analisis dan pemetaan daerah serangan tikus menunjukkan bahwa pada musim kemarau yang dikategorikan daerah endemis ada di dua kabupaten, yaitu kabupaten Kapuas dan Pulang Pisau.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2006. Pemetaan Daerah Penyebaran Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) Tanaman Padi Di Kalimantan Tengah. Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalimantan Tengah. Palangka Raya. Hal 1. Tidak dipublikasikan.

_________, 2008. Kumulatif Luas Tambah Serangan OPT Pangan di Provinsi Kalimantan Tengah Selama 7 tahun (2002-2008 Data Sampai Dengan Bulan Maret 2008). Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Tengah Tahun. Palangka Raya.

_________, 2010. Laporan Tahunan Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2010. Palangka Raya.

Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan Pangan dan Hortikultura. 2003. Analisis Daerah Endemis Organisme Pengganggu Tumbuhan. Pelatihan Analisis Data dan Pemetaan OPT/GIS di Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan Pangan dan Hortikultura. Jatisari-Karawang, 9-16 September 2003.

Balai Proteksi Tanaman Pangan VIII Banjarmasin.1993. Brosur Pengendalian Tikus Dengan Bubu dan Strategi Pengendalian Penggerek Batang Padi.Balai Proteksi Tanaman Pangan VIII Banjarmasin Bekerjasama dengan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan. Banjarbaru. Hal. 1-2.

Lanya, H., Natanegara, F., Suwardiwijaya, E., Kusprayogie, Y., Wahyudin, Hendarto, T., Srimulyati, T., Limbong, R., Dulalim, Nurpiah, Mulyaman, S., Antulat, M.T., Wahyudin Y. 2002. Peta Daerah Endemis OPT Hortikultura (Penyakit Layu Fusarium dan Layu Bakteri pada Pisang, Hama Penggerek Ranting pada Mangga, Penyakit CVPD pada Jeruk). Balai Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan. Karawang.

 

 

Lanya, H., Suwardiwijaya, E. 2003. Peranan Pemetaan Dalam Pengembangan Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan. Pelatihan Analisis Data dan Pemetaan OPT/GIS. Balai Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan Jatisari-Karawang, 9-16 September 2003.

Natanegara, F., Suwardiwijaya, E. 2003. Sistem Informasi Geografis dan Pemetaan. Pelatihan Analisis Data dan Pemetaan OPT/GIS. Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan Pangan dan Hortikultura Jatisari-Karawang, 9-16 September 2003.

Wahyudin, Y., Suwardiwijaya, E. 2003. Analisis Daerah Endemis Organisme Pengganggu Tumbuhan. Pelatihan Analisis Data dan Pemetaan OPT/GIS. Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan Pangan dan Hortikultura Jatisari-Karawang, 9-16 September 2003.

Posted Mei 11, 2012 by Jurnal Ilmiah Agripeat in Penelitian

KAJIAN BERBAGAI JENIS KEMASAN == Muliansyah   Leave a comment

KAJIAN BERBAGAI JENIS KEMASAN PLASTIK TERHADAP SIFAT FISIKOKIMIA BUAH RAMBUTAN TEROLAH MINIMAL

 (Study Of Various  Plastic Packaging on Physicochemical  Characteristic

Of Minimally Processed Nephelium lappaceum Fruit)

Muliansyah

Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya

E-mail : muliansyah_tpp@ymail.com

                                                                                                ABSTRACT

The purpose of this study was to determine changes in physicochemical characteristic of minimally processed Nephelium lappaceum fruit in various types of plastic packaging are stored at different temperatures. Experimental design used was Completely Randomized Design (CRD) with two factors. The first factor was the treatment of type packaging material (P), as follow P1 ( polyethylene plastic), P2 (polypropylene plastic) and P3 (stretch plastic).  The second factor was the storage temperature (T) consist of  T1 (room temperature) and T2 (10° C). Each treatment was repeated three times. The results showed that a decrease in O2 consumption and CO2 production at room temperature storage and cold temperatures for all types of packaging. Water content increased, especially in stretch plastic packaging that was stored at cold temperatures, while the total acid at room temperature was lower than other packaging.  Flesh fruit texture decreased weak during storage both at room temperature or cold temperatures for all types of packaging, while the total dissolved dolids tend to declined with the same storage time.

Keywords: rambutan fruit, minimally processed, type of packaging

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan sifat fisikokimia buah rambutan terolah minimal pada berbagai jenis plastik kemasan yang disimpan pada suhu yang berbeda. Rancangan Percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama adalah perlakuan jenis bahan pengemas (P), yaitu : P1 (Plastik polietilen), P2 (Plastik polipropilen) dan P3 (Plastik stretch). Faktor kedua adalah suhu penyimpanan (T) terdiri dari : T1 (suhu ruang) dan T2 (10oC).  Tiap perlakuan diulang 3 kali.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi penurunan konsumsi O2 dan produksi CO2 pada penyimpanan suhu ruang   maupun suhu dingin untuk semua  jenis kemasan. Kadar air meningkat setelah disimpan baik pada suhu ruang maupun suhu dingin. Total asam meningkat terutama pada kemasan plastik  stretch  yang disimpan pada suhu dingin, sedangkan pada suhu ruang total asamnya lebih rendah dari kemasan lainnya.  Pada tekstur daging buah terjadi penurunan  kekerasan selama penyimpanan baik pada suhu ruang maupun suhu dingin untuk semua  jenis kemasan.  Sedangkan total padatan terlarut cenderung menurun dengan waktu penyimpanan yang sama.

Kata Kunci : Buah rambutan, terolah minimal, jenis kemasan

PENDAHULUAN

Rambutan (Nephelium lappaceum, L) dalam perdagangan internasional dikelompokkan sebagai buah tropis eksotis. Permintaan komoditas itu semakin meningkat, karena masyarakat negara maju mulai cenderung mengkonsumsi makanan segar demi alasan kesehatan. Konsumsi dan permintaan pasar rambutan di dalam negeri juga meningkat. Peningkatan di pasar domestik terutama didorong oleh meningkatnya jumlah penduduk, kesadaran gizi masyarakat, pendidikan dan konsekuensi dari meningkatnya pendapatan masyarakat.

Produk rambutan budidaya dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan agroindustri. Kendala lain masih banyak, diantaranya pengetahuan dan keterampilan pekebun mesih kurang dalam hal pasca panen.

Rambutan dapat dimakan secara langsung sebagai buah segar. Buah ini sangat baik sebagai sumber vitamin C. Selain itu rambutan juga dapat dikonsumsi setelah diolah. Sebagai makanan olahan rambutan digunakan untuk campuran koktail, manisan dan sirup rambutan.

Teknologi pengolahan dan pengawetan rambutan sangat diperlukan, terutama untuk menghindari buah yang mubazir pada musim panen. Bila sebagian besar rambutan yang melimpah itu diolah sebagai makanan awetan, ketersediaan rambutan akan selalu ada di pasar sehingga bisa dinikmati sepanjang tahun.

Untuk mempertahankan mutu rambutan agar tetap segar,  dapat dilakukan penyimpanan sementara dengan cara memasukkan rambutan yang telah diikat ke dalam kantung plastik (PE, polyetilene) yang diberi lubang-lubang dengan jarum. Pada suhu ruangan sekitar 290C, rambutan yang disimpan dengan cara tersebut ternyata mampu bertahan selama 2 hari dalam kondisi yang masih baik. Untuk pengiriman jarak jauh, yang membutuhkan waktu 2 – 3 hari perjalanan, ada kalanya rambutan dipak dalam peti.

Dengan semakin majunya teknologi khususnya dalam hal penanganan buah-buahan, maka akan semakin beragam pula jenis produk yang dihasilkan. Banyak hal yang dapat diterapkan dalam penanganan buah-buahan sebagai usaha mempertahankan mutu, salah satunya dengan penerapan teknologi olah minimal. Melalui teknologi ini diharapkan sebagai upaya mendiversifikasikan produk sehingga tetap dapat dikonsumsi dalam kondisi segar. Shewfelt (1987) mengemukakan bahwa teknologi olah minimal adalah seluruh kegiatan pengolahan seperti pencucian, sortasi, pembersihan, pengupsan, pemotongan, dan lain sebagainya yang tidak mempengaruhi sifat mutu bahan segarnya, khususnya kandungan gizinya.

Produk yang diolah minimal, bila dilihat secara biologis maupun fisiologis tetap aktif, oleh karena itu produk yang dihasilkan hanya mampu bertahan dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan dengan bahan bakunya. Namun demikian penerapan teknologi olah minimal ini agak sedikit berbeda dengan pengolahan lainnya yang dapat dipertahankan dalam waktu yang relatif lama dan lebih stabil.

Film kemasan akan memberikan lingkungan yang berbeda sehingga dengan berkurangnya konsentrasi O2 dan bertambahnya konsnetrasi CO2 dalam udara lingkungan buah, akan memperlambat perubahan fidiologis yang berhubungan dengan proses pematangan buah.  Pengemasan dengan menggunakan film kemasan merupakan salah satu cara mempertahankan RH udara agar tetap tinggi (Pantastico, et al., 1986).  Muhidin (1989) melaporkan bahwa buah rambutan Lebak Bulus yang disimpan dalam kantong plastik tertutup rapat yang diisi gas CO2 10% pada suhu kamar memberikan kerusakan paling kecil dalam hal kandungan vitamin C, kadar gula dan penampakan buah selama penyimpanan 8 hari.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan sifat fisikokimia buah rambutan terolah minimal pada berbagai jenis plastik kemasan yang disimpan pada suhu yang berbeda..

BAHAN DAN METODE

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Teknik Pengolahan Pangan dan Hasil Pertanian (TPPHP) Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor. Waktu pelaksanaan penelitian mulai bulan Januari sampai Pebruari 2004.  Bahan baku yang digunakan adalah buah rambutan segar, bahan untuk pengemas, yaitu plastik polietilen, polipropilen dan stretch film dan styrofoam. Sedangkan bahan untuk analisis kimia adalah NaOH 0.1 N dan fenolftalein. Alat-alat yang digunakan adalah oven, cawan porselin, refraktometer, pnetrometer, kosmotektor, timbangan analitik, bak plastik, stoples, selang plastik, rak tempat penyimpanan buah rambutan, refrigerator, styrofoam, masker kain, sarung tangan, kantong plastik, desikator dan alat-alat gelas untuk analisis. Rancangan Percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor perlakuan dan diulang 3 kali.  Faktor pertama adalah perlakuan jenis bahan pengemas (P), yaitu : P1 (Plastik polietilen), p2 (Plastik polipropilen) dan P3 (Plastik stretch). Faktor kedua adalah suhu penyimpanan (T) yang terdiri dari : T1 (ruhu ruang) dan T2 (10oC).

Penelitian diawali dengan  melakukan sortasi buah rambutan segar, pengupasan kulit dan pengambilan daging buah utuh. Sebelum diberi perlakuan daging buah utuh dilakukan pengamatan awal terhadap kadar air, kekerasan, total padatan     terlarut, total asam. Selanjutnya daging buah utuh diletakan pada Styrofoam dan dikemas dengan plastik pengemas sesuai perlakuan. Buah rambutan yang sudah dikemas disimpan pada suhu ruang (t1) dan 10oC (t2) selama 8 hari. Pengamatan yang dilakukan meliputi laju respirasi (pengukuran konsentrasi O2 dengan menggunakan Cosmotector type XPO-318 dan CO2 menggunakan Cosmotector type Xp-314), kadar air (Metode Oven (AOAC), 1984), Kekerasan (menggunakan Rheometer Model CR-300), total asam (metode titrasi).

Diagram alir percobaan adalah sebagai berikut :

Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan analisis ragam (Uji F) pada taraf kepercayaan 95% dan 99%.  Apabila hasil analisis ragam berpengaruh nyata atau sangat nyata maka dilakukan analisis data lanjutan dengan menggunakan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf  α 5%.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Laju Respirasi Buah Rambutan Terolah Minimal

Hasil perhitungan perubahan laju konsumsi O2 dan produksi CO2 dalam masing-masing kemasan plastik pada penyimpanan suhu ruang disajikan dalam Gambar 1 dan 2 dan suhu dingin (10oC) disajikan dalam Gambar 3 dan 4.

Hasil pengukuran respirasi buah rambutan terolah minimal pada berbagai jenis kemasan terlihat bahwa perubahan konsentrasi gas O2 cenderung terus menurun karena O2 yang terdapat dalam kemasan digunakan untuk respirasi buah rambutan atau kegiatan metabolisme lainnya. Sedangkan CO2 cenderung meningkat karena CO2 ini terus diproduksi selama buah rambutan tersebut tetap melangsungkan kegiatan respirasi. Selain itu terdapat beberapa komposisi O2 dalam kemasan mengalami peningkatan dan komposisi CO2 yang mengalami penurunan, hal ini disebabkan karena keadaan buah yang kritis sehingga membutuhkan O2 yang lebih besar dari keadaan biasa atau normal.  Burn (1995) menyatakan bahwa kehilangan kulit dan gangguan keutuhan sel akibat pengupasan, pengirisan maupun pemotongan menyebabkan terjadinya perubahan fisiologis sehingga mengakibatkan peningkatan transpirasu, akitivitas enzim dan respirasi.

Pada pengemasan stretch film dengan suhu penyimpanan ruang dan penyimpanan dingin memiliki sifat lebih permeabel dibandingkan polietilen dan polipropilen. Hal ini terlihat dari pengembunan yang terjadi pada masing-masing kemasan, pada kemasan stretch film uap air hasil respirasi lebih sedikit karena uap air dapat merembes keluar sedangkan pada polietilen dan polipropilen sebagian uap air tidak dapat merembes keluar, maka terbentuk titik-titik air dibalik kemasan. Perubahan konsentrasi oksigen maupun CO2 menunjukkan penurunan yang nyata pada penyimpanan suhu ruang, sedangkan pada penyimpanan dingin terjadi penurunan yang kecil.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Laju Respirasi Buah Rambutan Terolah Minimal

Hasil perhitungan perubahan laju konsumsi O2 dan produksi CO2 dalam masing-masing kemasan plastik pada penyimpanan suhu ruang disajikan dalam Gambar 1 dan 2 dan suhu dingin (10oC) disajikan dalam Gambar 3 dan 4.

Hasil pengukuran respirasi buah rambutan terolah minimal pada berbagai jenis kemasan terlihat bahwa perubahan konsentrasi gas O2 cenderung terus menurun karena O2 yang terdapat dalam kemasan digunakan untuk respirasi buah rambutan atau kegiatan metabolisme lainnya. Sedangkan CO2 cenderung meningkat karena CO2 ini terus diproduksi selama buah rambutan tersebut tetap melangsungkan kegiatan respirasi. Selain itu terdapat beberapa komposisi O2 dalam kemasan mengalami peningkatan dan komposisi CO2 yang mengalami penurunan, hal ini disebabkan karena keadaan buah yang kritis sehingga membutuhkan O2 yang lebih besar dari keadaan biasa atau normal.  Burn (1995) menyatakan bahwa kehilangan kulit dan gangguan keutuhan sel akibat pengupasan, pengirisan maupun pemotongan menyebabkan terjadinya perubahan fisiologis sehingga mengakibatkan peningkatan transpirasu, akitivitas enzim dan respirasi.

Pada pengemasan stretch film dengan suhu penyimpanan ruang dan penyimpanan dingin memiliki sifat lebih permeabel dibandingkan polietilen dan polipropilen. Hal ini terlihat dari pengembunan yang terjadi pada masing-masing kemasan, pada kemasan stretch film uap air hasil respirasi lebih sedikit karena uap air dapat merembes keluar sedangkan pada polietilen dan polipropilen sebagian uap air tidak dapat merembes keluar, maka terbentuk titik-titik air dibalik kemasan. Perubahan konsentrasi oksigen maupun CO2 menunjukkan penurunan yang nyata pada penyimpanan suhu ruang, sedangkan pada penyimpanan dingin terjadi penurunan yang kecil.

Gambar 1. Laju konsumsi O2 buah rambutan terolah minimal dalam kemasan plastik selama penyimpanan pada suhu ruang.

Gambar 2. Laju produksi CO2 buah rambutan terolah minimal dalam kemasan plastik selama penyimpanan pada suhu ruang.

Gambar 3.  Laju konsumsi O2 buah rambutan terolah minimal dalam kemasan plastik selama penyimpanan pada suhu dingin (10oC).

Gambar 4.  Laju produksi CO2 buah rambutan terolah minimal dalam kemasan plastik selama penyimpanan pada suhu dingin (10oC).

Kadar Air

Tabel 1. Rata-rata kadar air buah rambutan terolah minimal yang disimpan pada kemasan dan suhu berbeda

Kemasan

Kadar Air

Awal

Akhir

Suhu Ruang

Suhu Dingin

————–   %   —————–

Polietilen

84.852

86.689

85.057

Polipropilen

84.852

86.786

85.576

Stretch Film

84.852

86.688

85.722

Berdasarkan Tabel 1 terlihat adanya peningkatan kadar air buah rambutan setelah penyimpanan, baik pada suhu ruang maupun pada suhu dingin. Peningkatan kadar air lebih tinggi pada suhu ruang dibandingkan suhu dingin. Tingginya kadar air pada suhu ruang disebabkan karena sudah mulai terjadi perubahan pada buah, buah menjadi lebih lembek karena kerusakan komponen sehingga kadar air meningkat. Tingginya kadar air pada suhu ruang dibandingkan suhu dingin karena adanya perbedaan laju respirasi, dimana diketahui bahwa respirasi yang lebih cepat akan menghasilkan uap air yang tentunya akan berpengaruh pada kadar air. Desrosier (1988) mengemukakan bahwa bahan pangan yang disimpan memerlukan perlindungan sedemikian rupa sehingga suhu dapat terkendali dan kehilangan air minimum dengan cara penyimpanannya pada suhu rendah dan dengan memberikan pengemasan yang memadai.

 

Kekerasan

Kekerasan buah rambutan terolah minimal diukur dengan menggunakan rheometer. Pada buah rambutan terolah minimal, kekerasan merupakan salah satu indikator kerusakan, artinya semakin lunak daging buah maka dikatakan semakin rusak dan tidak disukai.

Tabel 2. Rata-rata kekerasan buah rambutan terolah minimal yang disimpan pada kemasan dan suhu berbeda

Kemasan

Kekerasan

Awal

Akhir

Suhu ruang

Suhu dingin

—————————–   kg   ————————

Polietilen

0.1372

0.0823

0.0870

Polipropilen

0.1372

0.1067

0.0580

Stretch Film

0.1372

0.1190

0.1117

Berdasarkan Tabel 2 terlihat bahwa nilai rata-rata kekerasan menurun baik pada penyimpanan suhu ruang maupun suhu dingin. Hal ini menunjukkan bahwa selama proses penyimpanan buah rambutan terolah minimal pada pengemasan dengan stretch film mengalami penurunan yang lebih kecil dibandingkan dengan pengemasan polietilen dan polipropilen. Secara umum dapat dikatakan bahwa rambutan yang dikemas dengan stretch film dapat mempertahankan kekerasan, sedangkan yang dikemas dengan polietilen dan polipropilen relatif tidak dapat mempertahankan kekerasan. Winarno dan Wirakartakusuma (1981) menyatakan bahwa perubahan kekerasan pada buah selama penyimpanan terutama disebabkan oleh pembongkaran protopektin yang tidak larut menjadi senyawa pectin yang larut sehingga ketegaran buah berkurang. Pantastico, et.al., (1986) menambahkan melunaknya buah selama penyimpanan juga disebabkan oleh aktivitas enzim poligalak-turonase yang menguraikan protopektin dengan komponen utama asam poligalakturonat menjadi asam-asam galakturonat.

 

Total Asam

Asam tertitrasi buah rambutan terolah minimal yang disimpan pada suhu ruang dan suhu dingin cenderung mengalami peningkatan selama penyimpanan.

Tabel 3. Rata-rata total asam buah rambutan terolah minimal yang disimpan pada kemasan dan suhu berbeda

Kamasan

Total asam

Awal

Akhir

Suhu ruang

Suhu dingin

 ————————–   (%)   ————————

Polietilen

7.29

8.0500 b

7.0933 a

Polipropilen

7.29

7.8867 b

7.5633ab

Stretch Film

7.29

7.1500 a

8.0467 b

Keterangan : angka dalam kolom yang sama dan diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada uji BNJ 5 %

Berdasarkan Tabel 3 terlihat bahwa pada suhu ruang untuk kemasan stretch film nilai total asamnya nyata lebih rendah dibandingkan kemasan polipropilen dan polietilen sebaliknya pada penyimpanan suhu dingin, total asamnya nyata lebih tinggi terhadap bahan kemasan lainnya. Hal ini diduga karena pada suhu ruang, laju produksi CO2 lebih rendah dan penurunannya lebih sedikit (Gambar 2), demikian pula dengan konsumsi O2 (Gambar 1)dibandingkan dengan laju produksi CO2 dan konsumsi O2 pada kemasan polietilen dan polipropilen. Wills, et. al. (1992) menyatakan bahwa menurunnya asam organic selama penyimpanan biasanya digunakan untuk respirasi.  Asam-asam tersebut digunakan sebagai sumber energy bagi buah, dengan demikian maka jumlah asam yang terkandung dalam buah semakin menurun

Sebaliknya pada suhu dingin terjadi peningkatan total asam untuk kemasan stretch film nyata lebih tinggi dibandingkan dengan kemasan polietilen dan polipropilen. Hal ini diduga karena pada suhu dingin laju produksi CO2 lebih tinggi (Gambar 4) demikian pula dengan laju konsumsi O2 (Gambar 3) dibandingkan dengan laju produksi CO2 dan konsumsi O2 pada kemasan polietilen dan polipropilen.

 

Padatan Terlarut

Tabel 4. Rata-rata padatan terlarut buah rambutan terolah minimal yang disimpan pada kemasan dan suhu berbeda

Kemasan

Padatan Terlarut

Awal

Akhir

Suhu Ruang

Suhu Dingin

  ——————————–   (oBrix)    ————————–
Polietilen

21.2

20.100

20.000

Polipropilen

21.2

21.333

19.433

Stretch Film

21.2

20.300

20.267

Berdasarkan Tabel 4 terlihat bahwa terjadi penurunan total padatan terlarut, kecuali pada kemasan polipropilen pada suhu ruang terjadi kenaikan sedikit (0.13 oBrix). Berdasarkan analisis ragam bahwa bahan pengemas yang digunakan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap total padatan terlarut.

Hidrolisis pati akan terus berlangsung selama penyimpanan buah rambutan terolah minimal. Hal ini akan menyebabkan terjadinya perubahan nilai total padatan terlarut, karena pati yang tadinya tidak larut dalam air melalui proses hidrolisis akan dipecah menjadi gula sederhana yang larut dalam air. Menurut Syarief (1994), kenaikan gula disebabkan oleh hidrolisis pati menjadi senyawa-senyawa sukrosa, glukosa dan fruktosa dan kecepatan hidrolisis ini lebih besar daripada kecepatan pengubahan glukosa menjadi energi dan air sehingga dalam jaringan terjadi penimbunan gula selama penyimpanan.

Penurunan total padatan terlarut pada berbagai jenis kemasan yang digunakan disebabkan karena terjadinya hidrolisis gula menjadi energi dan air sehingga total total padatan terlarutnya menurun namun menyebabkan peningkatan kadar air (Tabel 3). Penyebab lainnya diduga karena hidrolisis pati sudah sedikit dengan semakin lamanya penyimpanan, sedangkan proses respirasi menurun dan sintesa asam yang mendegradasi gula berjalan terus. Anzueto dan Rizvi (1985) menyatakan bahwa kecepatan konsumsi gula dalam buah apel dikurangi selama penyimpanan buah pada suhu 3oC yang mungkin disebabkan oleh pengurangan dalam kecepatan respirasi dan proses-proses metabolisme.

Pengamatan Visual

            Hasil pengamatan secara visual terlihat bahwa terjadi perubahan penampakan terutama terhadap warna. Perubahan warna terjadi pada buah rambutan terolah minimal yang disimpan pada suhu ruang.  Pada hari ketiga penyimpanan warna buah berubah dari warna putih menjadi kuning dan berlendir. Perubahan warna ini lebih banyak terjadi pada kemasan stretch film dibandingkan dengan kemasan lainnya. Pada penyimpanan suhu dingin tidak terjadi perubahan warna buah dari ketiga jenis kemasan yang digunakan sampai pengamatan terakhir (hari ke-8), tetapi sudah tercium aroma asam yang menandakan sudah terjadi penurunan mutu.

Perubahan lainnya adalah adanya uap air pada kemasan polietilen dan polipropilen, sedangkan pada Stretch tidak ditemukan adanya uap air (suhu ruang dan suhu dingin). Hal ini disebabkan karena adanya sifat permeabilitas yang berbeda  antara kemasan stretch film dengan kedua jenis kemasan yang lainnya. Rusmono (1989), menyatakan adanya pengembunan uap air pada permukaan film kemasan akibat proses respirasi dan transpirasi.

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat ditarik beberapa kesimpulan, bahwa pada penyimpanan buah rambutan terolah minimal menggunakan suhu ruang maupun suhu dingin dengan semua jenis kemasan menurunkan konsumsi O2 dan produksi CO2, meningkatkan kadar air, menurunkan kekerasan dan menurunkan total padatan terlarut.  Sedangkan pada total asam pada penyimpanan suhu ruang dengan kemasan stretch lebih rendah dibandingkan dengan kemasan lainnya, sebaliknya pada penyimpanan suhu dingin total asamnya lebih tinggi dari bahan kemasan lainnya.


DAFTAR PUSTAKA

Anzueto, C.R., dan S.S.H. Rizvi. 1985. Individual Packaging of Apples For Shelf Life Extension. J. Food Sci. 50: 897-900, 904.

Pantastoco, E.B., H. Subramanyam, M.B. Bhatti, N. Ali dan E.K. Akamine. 1986. Petunjuk Untuk Pemanenan Hasil. Didalam : Pantastico, E.B. (ed) Fisiologi Pasca Panen, Penanganan dan Pemanfaatan Buah-buahan dan Sayur-sayuran Tropik dan Subtropik. Gadjah Mada Press, Yogyakarta.

Syarief, R. 1994. Pemodelan Pengemasan Sistem Atmosfer Termodifikasi dan Pendugaan Masa Simpan Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) Laporan Penelitian Lembaga Penelitian, IPB.

Posted Mei 11, 2012 by Jurnal Ilmiah Agripeat in Penelitian

POLA PEMANFAATAN LAHAN GAMBUT == Erlinda Y   Leave a comment

POLA PEMANFAATAN LAHAN GAMBUT OLEH PETANI LIDAH BUAYA

DI KOTAMADYA PONTIANAK

(Utilization of Peat land by Aloe Vera Farmers in Municipality of Pontianak)

 

Erlinda Yurisinthae

Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura, Pontianak

e-mail : erlindayurisinthae@yahoo.co.id

 

ABSTRACT

This study was aimed to analyze the pattern of peat land used for farming by farmers in Aloe Vera Agribusiness Center in the Municipality of Pontianak. This study was conducted for six months, from January 2010 until June 2010, by using survey methods that were. descriptive. Location was determined purposively by considering that those locations were The Center of Aloe Vera’s production in the Province of West Borneo and farmers were still active to do aloe vera farming activity. The research showed there was a change in the pattern of land used by farmers of aloe vera, from the special pattern became a mixed pattern. The pattern of mixed farming by farmer’s Aloe vera was intercropping between the aloe and vegetables, maize and papaya.

 

Key words : utilization of peat land, aloe vera farmers.

 

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola pemanfaatan lahan gambut oleh petani lidah buaya di Kotamadya Pontianak. Penelitian dilaksanakan selama enam bulan dari Januari 2010 sampai Juni 2010, dengan menggunakan metode survey yang bersifat deskriptif. Pemilihan lokasi penelitian ditentukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan lokasi-lokasi tersebut merupakan daerah sentra produksi lidah buaya di Provinsi Kalimantan Barat dan petani masih aktif melakukan kegiatan usahatani lidah buaya. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perubahan pola pemanfaatan lahan usahatani oleh petani lidah buaya, dari usahatani dengan pola khusus menjadi usahatani dengan pola campuran.  Pola usahatani campuran yang dilakukan oleh petani lidah buaya adalah usahatani tumpang sari antara tanaman lidah buaya dengan tanaman sayur-sayuran, jagung dan pepaya.

Kata Kunci : pemanfaatan lahan gambut, petani lidah buaya

PENDAHULUAN

 

Pemerintah Daerah Kalimantan Barat (Kalbar) memiliki program  pengembangan produk pertanian yang mempunyai keunggulan komperatif. Salah satu komoditi  pertanian yang dijadikan komoditi unggulan adalah lidah buaya (Aloe vera L.). Produk ini merupakan salah satu produk pertanian yang diharapkan akan mempunyai daya saing di pasar internasional (Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kalbar, 2008).

Usahatani lidah buaya di Kalbar pada awalnya ditanam masyarakat dalam pot di halaman rumah dan diproduksi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.  Minat petani  untuk mengembangkan tanaman lidah buaya semakin meningkat seiring dengan meningkatnya permintaan sehingga lambat laun terjadi pergeseran dari pertanian subsisten ke arah pertanian komersil dan menjadi sumber pendapatan pokok bagi petani.

Tanaman lidah buaya mulai dibudidayakan secara komersil di Kalbar khususnya Kotamadya Pontianak pada tahun 1996 dengan luas tanaman 14,80 ha dengan jumlah populasi tanaman sebanyak 109.520 pohon, dan produksi rata-rata 140,18 ton/tahun (Bank Indonesia, 2008). Kondisi ini terus meningkat sampai tahun 2004 dengan luas tanaman 161 ha, dan produksi 26.304 ton, dengan jumlah petani lidah buaya sebanyak 105 orang. Selanjutna mulai tahun 2005 kondisi ini terus menurun, sampai dengan tahun 2009 dengan luas tanaman 38,1 ha dan produksi 1.512 ton dengan jumlah petani masih aktif sebanyak 43 orang (UPTD Terminal Agribisnis Kota Pontianak, 2010).

Pendapatan petani dari usahatani lidah buaya  di sentra produksi lidah buaya Kotamadya Pontianak sejak tahun 2005  berfluktuatif dan cenderung menurun. Beberapa  penyebabnya diduga karena berkurangnya luas lahan usahatani lidah buaya (Tabel 1),  belum efisien dan efektifnya petani dalam mengalokasikan sarana produksi (input) dalam usahatani lidah buaya, kurangnya permintaan akan daun lidah buaya serta pengaruh berfluktuatifnya harga kebutuhan pokok sarana produksi usahatani (input produksi) dan harga daun lidah buaya segar.

 

Tabel 1.    Perkembangan Luas Tanaman dan Produksi Lidah Buaya di Kotamadya  Pontianak Tahun 2004 – 2009

Tahun

Luas Areal

(Ha)

Luas Panen

(Ha)

Produksi

(ton/bln)

Produksi

(ton/th)

2004

2005

2006

2007

2008

2009

161

121

100

60

60

38,1

137

121

65

43

55

35

2.192

1.888

845

559

869

126

26.304

22.651

10.140

6.708

10.428

1.512

Total

540,1

556

6.479

77.743

Sumber : UPTD Terminal Agribisnis, 2010.

 

Tingkat keuntungan yang diperoleh petani lidah buaya diduga dipengaruhi juga oleh sistem distribusi pemasaran dan cakupan wilayah pemasaran daun lidah buaya ke konsumen. Kendala yang dihadapi oleh petani sebagai produsen dalam hal pemasaran adalah terbatasnya kemampuan produsen untuk memasarkan secara langsung ke wilayah antar pulau dan ekspor.

Petani produsen sangat ketergantungan dengan pedagang pengumpul atau pedagang besar untuk dapat memasarkan produk daun lidah buaya ke luar daerah atau ekspor.  Hal ini menyebabkan wilayah pemasaran daun lidah buaya menjadi lebih sempit  atau terbatas,  akibatnya  penyerapan produk yang dihasilkan oleh petani tidak seimbang dengan kemampuan atau daya beli dari pedagang pengumpul, pedagang besar atau eksportir.  Bahkan berdasarkan penelitian Muin et.al. (2010) R/C rasio hasil penelitian pada tahun 2010 lebih rendah dibandingkan hasil penelitian Burhansyah (2002), yakni dari adalah 2,11 menjadi 1,19.

Menghadapi keadaan ini, terdapat indikasi petani lidah buaya mengalami pergeseran dalam pemanfaatan lahan usahataninya.  Semula pola usahatani yang dilakukan bersifat khusus, yaitu untuk budidaya lidah buaya menjadi pola usahatani campuran.  Berdasarkan uraian maka rumusan permasalahan  yang akan dianalisis adalah bagaimanakah pola pemanfaatan lahan gambut oleh petani lidah buaya di Kotamadya Pontianak ?

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola pemanfaatan lahan gambut oleh petani lidah buaya di Kotamadya Pontianak. Hasil penelitian ini bermanfaat terutama bagi pihak-pihak yang terkait dengan pengembangan lahan usahatani serta produksi usahatani lidah buaya.  Pergeseran pola usahatani yang terjadi pada akhirnya akan mempengaruhi strategi pembangunan pertanian secara umum dan khususnya usahatani lidah buaya.

 

METODE ANALISIS

Penelitian ini menggunakan metode survey yang bersifat deskriptif. Pemilihan lokasi penelitian ditentukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan lokasi-lokasi tersebut merupakan daerah sentra produksi lidah buaya di Provinsi Kalimantan Barat dan petani masih aktif melakukan kegiatan usahatani lidah buaya. Penelitian dilaksanakan selama enam bulan, yakni dari Januari 2010 sampai Juni 2010. Berdasarkan data yang diperoleh dari UPTD Terminal Agribisnis Dinas  Ketahanan Pengan dan Penyuluhan  Kotamadya Pontianak (2010), sampai dengan tahun 2010 jumlah petani lidah buaya di sentra produksi lidah buaya Kotamadya  Pontianak yang masih aktif adalah sebanyak 43 orang. Sehingga penelitian ini menjadi penelitian sensus. Data yang  dikumpulkan dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kota Pontianak merupakan Ibukota Provinsi Kalimantan Barat yang didirikan pada tanggal 23 Oktober 1771 dengan luas wilayah 107.82 km2 atau 0.07 persen dari luas Kalimantan Barat. Secara geografis terletak tepat di lintasan khatulistiwa, sehingga menjadikan Kota Pontianak dijuluki dengan sebutan Kota Khatulistiwa (Bappeda dan BPM Kota Pontianak dalam Ellyta, 2006). Sesuai dengan Peraturan Daerah Kota Pontianak Nomor 5 Tahun 2002, secara administratif Kota Pontianak dibagi menjadi lima kecamatan. Adapun luas wilayah Kota Pontianak menurut kecamatan seperti pada Tabel 2.

Tabel 2.   Luas Wilayah Kotamadya Pontianak Menurut Kecamatan.

 

No.

Kecamatan

Luas (km2)

Persentase (%)

1

2

3

4

5

Pontianak Utara

Pontianak Selatan

Pontianak Timur

Pontianak Barat

Pontianak Kota

37,22

29,37

8,78

22,11

10,34

34,52

27,24

8,14

20,51

9,59

  Jumlah

107,82

100,00

Sumber : BPS Kota Pontianak dalam Ellyta (2006).

Sentra Produksi lidah buaya yang merupakan lokasi penelitian termasuk dalam  kawasan sentra agribisnis Pontianak yang terletak di Kecamatan Pontianak Utara. Kawasan Sentra Agribisnis (KSA) merupakan salah satu kawasan yang dibangun oleh Pemerintah Kota Pontianak sebagai salah satu bentuk perencanaan ruang sektor strategis khususnya di bidang pertanian. Pengembangan KSA Pontianak dipandang dapat mengakomodir hal tersebut dengan pendekatan produk unggulan daerah, dan salah satu produk unggulan yang dikembangkan adalah tanaman lidah buaya (Aloe vera L.).

Kawasan Sentra Agribisnis  Kota Pontianak terletak di Kecamatan Pontianak Utara meliputi Kelurahan Siantan Hulu, Siantan Tengah dan Siantan Hilir. Luas KSA adalah 800 ha dan secara geografis wilayah kawasan tersebut terletak antara 109° 19,621’ BT -109° 21,648’BT dan 0°00,211’LU – 0° 02,178’LU.

Data dari Stasiun Badan Meteorologi dan Geofisika Supadio Pontianak, KSA Pontianak termasuk daerah beriklim tropis tipe A dengan curah hujan rata-rata setiap tahunnya mencapai 3.102 mm atau 258.5 mm/bulan dengan kisaran antara 225.3 mm-325.7 mm/bulan. Suhu udara rata-rata per hari mencapai 26.6 0C dengan kisaran 26.30C-26.90C. Kelembaban udara rata-rata tahunan adalah 86.2 persen. Intensitas penyinaran matahari rata-rata tahunan adalah 59.2 persen dan tekanan udara rata-rata tahunan adalah 1.010.6 mb. Secara agroklimat Kota Pontianak memenuhi persyaratan sebagai daerah pengembangan lidah buaya karena Kota Pontianak terletak tepat pada garis Khatulistiwa (0°) yang mendapat penyinaran penuh sepanjang hari.

Sebagai salah satu kawasan yang diusahakan untuk pengembangan tanaman lidah buaya maka KSA sangat tepat. Hal ini disebabkan karena tanaman lidah buaya sudah lama diusahakan oleh petani keturunan etnis Cina di Kelurahan Siantan Hilir dan Siantan Hulu. Di Kota Pontianak tanaman lidah buaya sudah mulai banyak ditanam sekitar tahun 1980 an yang pemanfaatannya saat itu masih terbatas pada tanaman hias dan tanaman obat panas dalam.  Sejalan dengan tumbuhnya permintaan, maka tanaman ini mulai diusahakan secara serius oleh petani.

Berdasarkan hasil penelitian, karakteristik petani lidah buaya di KSA adalah sebagian besar (55,81 %) berumur  40- 50, dengan tingkat pendidikan adalah SD (58,14 persen).  Rata-rata petani lidah buaya di sentra produksi lidah buaya Kalbar memiliki pengalaman usahatani lidah buaya antara 8 – 18 tahun (Tabel 3).

 

Tabel 3.           Komposisi Luas Lahan Yang Dimiliki Petani Berdasarkan Lama Berusahatani Lidah Buaya

No

Luas Lahan (Ha)

Lama Berusahatani Lidah Buaya (Tahun)

Total

8

9

10

11

12

13

18

1

0.20

1

1

2

0.30

3

1

4

3

0.40

1

1

4

0.50

2

4

6

3

4

2

1

22

5

0.75

1

1

6

1.00

1

3

1

2

7

7

1.50

1

1

2

4

8

2.00

1

1

2

9

8.00

1

1

 

Total

3

10

12

6

8

2

2

43

Keterangan : Angka dalam table yang tercetak miring dalam satuan orang.

Sumber : Data Primer, 2010.

Tabel 4. Profil Petani Lidah BuayaBerdasarkan Pekerjaan Utama dan Sampingan.

 

No

 Profil Usahatani

Jumlah (org)

Persetase (%)

1.

 Sebagai Pekerjaan Utama

 1. Tani Lidah Buaya

38

88.37

 2. Tani sayur

 3. Tani Pepaya

1

2.33

 4. Tani pepaya/sayur/jagung

 5. Satpam Swasta

1

              20.00

 6. TNI

1

              20.00

 7. Dagang

2

                8.33

Total Utama

43

            100.00

2.

 Sebagai Pekerjaan Sampingan

   1. Tani Lidah Buaya

5

              11.63

   2. Tani sayur

5

              11.63

   3. Tani Pepaya

24

              55.81

   4. Tani pepaya/sayur/jagung

9

              20.93

   5. Satpam Swasta

                   –

   6. TNI

                   –

   7. Dagang

                   –

 

Total Sampingan

43

            100.00

Sumber : Data Primer, 2010.

 

Tabel 5. Perbandingan Luas Lahan Dimiliki Dan Ditanami Lidah Buaya

Sumber : Data Primer, 2010.

 

Petani lidah buaya rata-rata memiliki tanggungan keluarga berjumlah lima orang. Anggota keluarga ini sekaligus juga membantu dalam usahatani lidah buaya. Petani lidah buaya di KSA, selain berusahatani lidah buaya sebagai pekerjaan utama maupun sampingan, petani tersebut mempunyai usaha lain yakni sebagai petani yang berkebun sayur, jagung dan pepaya serta menjadi pedagang (Tabel 4).

Sebagian besar petani lidah buaya (29 petani) mengusahakan usahatani lidah buaya dengan luasan kurang dari satu  hektar, dan 14 petani yang mengusahakan usahatani lidah buaya dengan luas lahan satu hektar atau lebih. (Tabel 5). Luasan lahan usahatani lidah buaya  yang dimiliki petani pada saat penelitian sama dengan luas lahan pada waktu awal dilakukan usahatani lidah buaya.  Selanjutnya luas lahan yang digunakan untuk usahatani  lidah buaya sekitar 58 persen dari total luas lahan usahatani yang dimiliki. Luas lahan yang tidak ditanami atau diusahakan untuk tanaman lidah buaya umumnya ditanami dengan tanaman pepaya, jagung dan sayuran.

Berdasarkan pengklasifikasian yang dikemukakan oleh Suratiyah (2008), usahatani dikelompokan menjadi usahatani dengan pola khusus, pola tidak khusus dan pola campuran. Petani lidah buaya semula mengusahakan lahan yang dimiliki dengan pola khusus, yaitu usahatani lidah buaya, maka saat ini lahan yang dimiliki diusahakan dengan pola usahatani campuran.  Pola tanam yang dilakukan oleh petani lidah buaya terdokumentasi pada gambar 1 – 4.

Berdasarkan hasil wawancara dengan petani lidah buaya, kurangnya keinginan petani untuk memperluas lahan usahatani lidah buaya dikarenakan harga pelepah daun lidah buaya tidak pernah meningkat dan sejak tahun 2000 harga daun lidah buaya segar  sebesar Rp 900,- per kilogram serta permintaan daun lidah buaya tidak rutin setiap saat.

Oleh karena itu, petani lebih memilih memanfaatkan lahan yang belum diusahakan untuk ditanami pepaya dan sayuran daripada ditanami lidah  buaya, karena dari  produksi usahatani sayur dan pepaya dengan pola usahatani campuran dapat dijual setiap saat, sehingga setiap harinya petani tersebut akan mendapatkan pemasukan tunai.  Bahkan hasil dari usahatani lainnya dipergunakan untuk membeli sarana produksi untuk usahatani lidah buaya.

Tanaman pepaya merupakan jenis tanaman yang paling banyak diusahakan oleh petani (Tabel 4) karena permintaan akan buah pepaya segar relatif stabil setiap hari, pemeliharaan yang tidak memerlukan perlakuan khusus dan kemudahan pemasaran karena pedagang pengumpul akan mengambil hasil produksi setiap hari dari petani.  Dari segi harga, buah pepaya dijual Rp 4.000,- sampai Rp 5.000,- /kg.  Bahkan untuk pepaya madu dapat mencapai Rp 6.500,-/kg.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil analisis maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perubahan pola pemanfaatan lahan usahatani oleh petani lidah buaya, dari usahatani dengan pola khusus menjadi usahatani dengan pola campuran.  Pola usahatani campuran yang dilakukan oleh petani lidah buaya adalah usahatani tumpang sari antara tanaman lidah buaya dengan tanaman sayur-sayuran, jagung dan pepaya.

Mempertimbangkan hasil analisis yang menunjukan adanya perubahan pola usahatani petani lidah buaya, jika KSA Lidah Buaya yang ada di Kotamadya Pontianak akan dipertahankan dan dikembangkan, maka disarankan pihak yang terkait baik secara langsung maupun tidak langsung dapat berkoordinasi untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh petani lidah buaya

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Bank Indonesia. 2008. Pola Pembiayaan Usaha Kecil (PPUK), Budidaya Lidah Buaya. Direktorat Kredit, BPR dan UMKM, Bank Indonesia. Email : tbtkm@bi.go.id.

Burhansyah, R. 2002. Analisis Ekonomi Usahatani Lidah Buaya Di Kota Pontianak. Tesis.  Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan Propinsi Kalimantan Barat. 2008. Ekspor Komoditi Unggulan di Kalimantan Barat.  Makalah Pertemuan Konsultasi Pengembangan Komoditi Unggulan Dalam Rangka Meningkatkan Ekspor Nasional dan Potensi Daerah. Pontianak, 7 Juli 2008.

Ellyta. 2006. Analisis Jaringan Komunikasi Petani Dalam Pemasaran Lidah Buaya (Kasus di Kawasan Sentra Agribisnis Pontianak Kalimantan Barat). Tesis. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Muin, Sudirman; Erlinda Yurisinthae dan Nurliza, (2010). Analisis Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Keuntungan Usahatani Lidah Buaya Di Sentra Produksi Lidah Buaya Provinsi Kalimantan Barat. Jurnal Aloe Vera, IX (2) : 5-9.

Suratiyah,  K. 2008. Ilmu Usahatani. Cetakan ke 2. Penebar Swadaya. Jakarta.

UPTD Terminal Agribisnis, Dinas Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Kotamadya Pontianak. 2010Data Perkembangan Luas Tanaman dan Produksi Lidah Buaya Tahun 2004 – 2009 dan Perkembangan Ekspor dan Penjualan Antar Pulau Produk Lidah Buaya Tahun 2000 – 2007. Dinas Ketahanan pangan dan Penyuluhan Kotamadya  Pontianak.

Posted Mei 11, 2012 by Jurnal Ilmiah Agripeat in Penelitian

UJI PENGGUNAAN BERBAGAI == Saputera; Maria A; Yuda A   2 comments

UJI PENGGUNAAN BERBAGAI JENIS KOAGULAN TERHADAP KUALITAS BAHAN OLAH KARET (Hevea brasiliensis)

(Usage Test Various Coagulant Types To Quality Of Material Process Rubber (Hevea brasiliensis))

H. Saputera*;  Maria Agustina dan Yuda Anugraha Rangkai

1 Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Palangka Raya

2 Mahasiswa Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Palangka Raya

E-mail: putracondo@yahoo.com

 

ABSTRACK

Quality of dry rubber material  was determined by the weight of dry rubber content and content contained therein. This study aims is to determine the effect of several types of coagulant on the quality of rubber materials produced though. The study was conducted on April 2011, at the Seed and Garden Produsi Pundu Plantation Office of Central Kalimantan Province Jl. Tjilik Riwut Km. 129 Pundu Kec. Cempaga Upper East Waringin City District, Central Kalimantan Province and Laboratory of Department of Agriculture Faculty of Agriculture, University of Palangkaraya. This research used Completely Randomized Design (CRD), one factor (single factor experiment), which consists of treatment, namely the addition of synthetic coagulant formic acid and acetic acid and natural coagulant dieorub, extract ubi gadung, extract nenas, extract belimbing wuluh and coconut water. Each treatment was repeated 4 times, so that there are 28 units in research experiments. In this study coagulant K3 (deorub) is the best treatment in improving the quality if the rubber material which has a dry rubber content (coagulum) an average of 60% so as to produce the highest Notary price on every kilogram of Rp. 14.000, -. Based on the use of best treatment in the process of coagulation of rubber, though the quality of rubber produced in this research is if the rubber material based on dry rubber content quality II which has a dry rubber content> 60%.

 

Keyword: dry rubber material, coagulant, and the dry rubber content.

 

ABSTRAK

Kualitas bahan olah karet ditentukan oleh bobot isi dan kadar karet kering yang terkandung didalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian beberapa jenis koagulan terhadap kualitas bahan olah karet yang dihasilkan. Penelitian dilaksanakan pada bulan April 2011, di  Balai Benih dan Kebun Produsi Pundu Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah Jl. Tjilik Riwut Km. 129 Pundu Kec. Cempaga Hulu Kabupaten Kota Waringin Timur, Provinsi Kalimatan Tengah dan Laboratorium Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor (single factor experiment),  yang terdiri dari perlakuan, yaitu penambahan koagulan sintetik asam semut dan asam asetat dan koagulan alami dieorub, ekstrak ubi gadung, ekstrak nenas, ekstrak belimbing wuluh dan air kelapa. Setiap perlakuan yang diulang sebanyak 4 kali, sehingga dalam penelitian terdapat 28 satuan percobaan. Dalam penelitian ini koagulan K3 (deorub) merupakan perlakuan terbaik dalam meningkatkan kualitas bahan olah karet dimana memiliki kadar kering karet (koagulum) rata-rata 60 % sehingga menghasilkan harga notary tertinggi pada setiap kilogramnya sebesar Rp. 14,000,-. Berdasarkan pengunaan perlakuan terbaik dalam proses koagulasi karet, mutu bahan olah karet yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah bahan olah karet berdasarkan kadar karet kering mutu II yaitu memiliki kadar karet kering > 60 %.

 

Kata Kunci : bahan olah karet, koagulan, dan kadar karet kering.

PENDAHULUAN

 

Karet (termasuk karet alam) merupakan kebutuhan yang vital bagi kehidupan manusia sehari-hari, hal ini terkait dengan mobilitas manusia dan barang yang memerlukan komponen yang terbuat dari karet seperti ban kendaraan, conveyor belt, sabuk transmisi, dock fender, sepatu dan sandal karet . Kebutuhan ka­ret alam maupun karet sintetik terus meningkat sejalan dengan meningkatnya standar hidup manusia. Kebutuhan karet sintetik relatif lebih mudah dipenuhi karena sumber bahan baku relatif tersedia walaupun harganya mahal, akan tetapi karet alam dikonsumsi sebagai bahan baku industi (Haryanto, 2010).

Bahan olah karet (bokar) berasal dari lateks atau getah yang digumpalkan dengan asam semut atau dengan bahan penggumpal laInnya yang direkomendasikan oleh Pusat Penelitian Karet atau gumpalan yang dihasilkan pekebun dan tidak tercampur dengan kontamina

Standar mutu kualitas dari lateks ditentukan melalui, 1)  Bobot atau isi lateks: Penyadap menuangkan lateks dari ember-ember pengumpul ke dalam ember-ember takaran melalui sebuah saringan kasar dengan ukuran lubang 2 mm, maksudnya untuk menahan lump yang terjadi karena prakoagulasi; 2) Kadar Karet Kering (KKK): Penentuan kadar karet kering (KKK) sangat penting dalam usaha mencegah terjadinya kecurangan para penyadap (Bina UKM, 2010).

Pada proses penanganan pasca panen lateks tanaman Karet yang dikelola pada perkebunan rakyat masih memiliki banyak kendala seperti produktivitas karet rakyat jauh lebih rendah dibanding PTP / PNP dan perusahaan besar swasta dan mutu bokar (bahan olah karet) masih rendah, beragam, dan tidak konsisten serta sistem pemasaran yang kurang menguntungkan petani. Rendahnya mutu ini disebabkan oleh penanganan pasca panen lateks tanaman karet diantaranya penggunaan koagulan yang beragam sehingga menyebabkan kualitas mutu dari bokar petani juga beragam yang dapat menurunkan kualitas mutu dari bokar tersebut    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian beberapa jenis koagulan terhadap kualitas bahan olah karet yang dihasilkan.

 

BAHAN DAN METODE

 

Penelitian dilaksanakan pada bulan April 2011, di  Balai Benih dan Kebun ProduKsi Pundu Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah Jl. Tjilik Riwut Km. 129 Pundu Kec. Cempaga Hulu Kabupaten Kotawaringin Timur, Provinsi Kalimatan Tengah dan Laboratorium Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya.

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah lateks karet, koagulan alami dan sintetik koagulan asam semut, asam asetat, deorub, ekstrak ubi gadung, ektrak ekstrak nenas, belimbing wuluh, dan air kelapa. Bahan lainnya yang digunakan adalah ragi. Sedangkan alat-alat yang digunakan yaitu alat-alat sadap, oven, bak koagulasi, timbangan, penggilingan, pH meter, cawan petridish, gunting, kamera, alat-alat tulis, dan alat pendukung lainnya.

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor (single factor experiment),  yang terdiri dari perlakuan, yaitu penambahan koagulan sintetik asam formiat dan tawas dan koagulan alami dieorub, ekstrak belimbing wuluh, ekstrak nenas, ekstrak ubi gadung dan air kelapa dengan dosis disesuaikan dengan nilai pH pada titik isoelektriks 4,7 untuk masing-masing koagulan. Adapun  perlakuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. Koagulan sintetik: K1 = Asam Semut, dan K2 = Asam Asetat. Koagulan alami : K3 = Deorub, K4 = Ekstrak Ubi Gadung,  K5 = Ekstrak Nenas, K6 = Ekstrak Belimbing Wuluh, dan    K7 = Air Kelapa.

Pada penelitian ini setiap perlakuan yang diulang sebanyak 4 kali, sehingga dalam penelitian terdapat 28 satuan percobaan.

Metode linier aditif yang digunakan dalam penelitian ini menurut Yitnosumarto (1993) adalah:

Yij = µ + ti + eij

Yijk  =         Nilai respon lateks yang diamati

µ     =   Nilai tengah umum

ti    =   Pengaruh pemberian beberapa jenis koagulan  ke-i

eij   =   Komponen acak (galat pengamatan perlakuan ke-i dan ulangan ke-j).

Adapun proses pelaksanaan uji pengunaan berbagai jenis koagulan terhadap kualitas bahan bahan olah karet (Hhevea brasiliensis) adalah sebagai berikut yaitu pembuatan koagulan (meliputi koagulan sintetik dan alami), pembuatan bak koagulasi, pengambilan sampel lateks, proses koagulasi, penimbangan lateks, pengukuran mutu kualitas bahan olah karet ( meliputi pengukuran ketebalan dan kkk (kadar karet kering) koagulum )

Variable yang diamati dalam penelitian ini adalah ph lateks. Volume lateks (gram), ketebalan (cm), bobot atau isi lateks (gram), kkk koagulum (kadar kering karet) (%) dan harga notaring bahan olah karet (rupiah).

Data hasil  penelitian akan dianalisa dengan menggunakan RAL satu factor (single factor experiment), untuk mencari pengaruh  antara masing-masing perlakuan. Jika uji F pada analisis ragam menunjukkan pengaruh yang nyata, maka dilanjutkan dengan uji BNJ taraf 5%, untuk melihat perbedaan antara jenis koagulan.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. 1.        pH Bahan Olah Karet

Berdasarkan nilai rata-rata tertinggi pada penelitian ini koagulan yang menghasilkan perubahan pH dengan rata-rata tertinggi adalah koagulan K2 (asam asetat) dengan rata-rata pH 4,65 sedangkan perlakuan yang menghasilkan perubahan pH dengan rata-rata terendah adalah koagulan    K4 (ekstrak ubi gadung) dengan rata-rata pH 4,80.

Tingginya pH lateks memberikan indikasi bahwa pH lateks tersebut berada jauh diatas titik isolelektrisnya (pH 4,6). Hal ini membuktikan keadaan lateks masih stabil dan ketahanan terhadap penyimpanan akan lebih lama. Penurunan pH lateks menjadi 4,6 pada lateks menyebabkan terjadinya proses pengumpalan lateks sehingga dapat mengakibatkan rusaknya sistem emulsi pada lateks. Sifat asam dari bahan pengumpal (koagulan) menyebabkan menurunnya sifat basa dari lateks yang memiliki pH 6,0–7,0

Pada penilitian ini nilai pH pada saat proses koagulasi lateks pada masing-masing koagulan menghasilkan perubahan pH yang relative sama yaitu antara 4,6–4,7. Penambahan jenis koagulan menurunkan pH lateks segar yang berasal dari proses penyadapan adalah 6,0–7,0 menjadi 4,7 yang disebabkan pada bahan koagulan terdapat bahan asam, basa atau larutan elektrolit dapat mempengaruhi kestabilan atau kemantapan lateks akibatnya lateks akan menggumpal dimana dalam penelitian ini bahan asam dihasilkan oleh koagulan baik koagulan sintetik ataupun alami.

Pada koagulasi sintetik K1 (asam semut) dan          K2 (asam asetat) bahan asam adalah asam anorganik dimana asam yang diperoleh dari mineral anorganik melalui reaksi kimia (Hariana, 2004). Pada koagulan K5 (ekstrak buah nanas) dan K6 (ekstrak belimbing) sifat asam tersebut dapat dapat diketahui dari rasa buah yang masih belum masak dimana bagian tersebut yang diekstrak. Pada bahan koagulan alami seperti nanas mengandung asam cukup tinggi. Kandungan asamnya dapat ditingkatkan melalui proses fermentasi.  Pada koagulan K3 (deorub) kandungan asam diperoleh melalui proses pengasapan bahan cangkang kelapa sawit sehingga menghasilkan senyawa-senyawa asam dan sifat asap. Pada koagulan K7 (air kelapa) sifat asam tersebut diperoleh dari proses fregmentasi dari bakteri dari penambahan bahan ragi dan pada bahan koagulan K4 (ekstrak ubi gadung) kadungan asam tersebut terkadung dalam ubi sebagai senyawa-senyawa asam organik yang terkandung di dalamnya.

Pada koagulan alami kandungan alami dapat dihasilkan melalui suatu proses kimia ataupun kadungan asam tersebut sudah merupakan kandungan penyusun bahn tersebut. Asam – asam yang dihasilkan oleh bahan alami berupa asam – asam organik dimana asam yang diperoleh dari mineral anorganik melalui reaksi kimia. Asam sulfat, asam khlorida (HCl), asam nitrat (HNO3) dan asam fosfat (H3PO4) merupakan asam anorganik yang banyak dijumpai (Hariana, 2004).

 

  1. 2.        Volume

Dalam penelitian ini koagulan menghasilkan volume tertinggi adalah koagulan K5 (ekstrak nenas) dengan rata-rata berat volume 1,07 kg sedangkan koagulan yang menghasilkan volume terendah adalah koagulan K3 (Deorub) dengan rata-rata volume 0,89 kg dan tidak berbeda nyata dengan koagulan K7 (air kelapa) dengan rata-rata volume 0,91 kg.

Volume bahan olah karet adalah berat keseluruhan bahan olah karet hasil dari proses koagulasi lateks pada bak-bak percobaan dalam satuan kilogram. Pada penelitian ini lateks yang digunakan pada tiap perlakuan sebanyak 1 liter yang pada penimbangan awal sebelum proses koagulasi memiliki volume 1,17 kg. Volume bahan olah karet diukur setelah proses koagulasi lateks berlansung. Koagulan K5 (ekstrak nenas) memiliki volume yang lebih besar dibading koagulan lainnya hal ini disebabkan pada koagulasi yang dihasilkan bahan ekstrak nenas masih banyak mengandung air di dalam bahan olah karetnya. Koagulan K5 (ekstrak nenas) memiliki sifat menahan air yang  memudahkan  berkembangnya mikroorganisme pengurai protein dan hidrokarbon karet.

Hasil rata-rata uji tengah volume bahan olah karet (Havea brasiliensis) uji penggunaan berbagai jenis koagulan sintetik dan alami disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1.    Hasil Rata-Rata Uji Tengah Volume Bahan Olah Karet (gram).

Koagulan

Rata-rata

K1 (Asam semut)

0,96 ab

K2 (Asam Asetat)

0,99 ab

K3 (Deurob)

0,89 a

K4 (Ekstrak Ubi Gadung)

1,01 ab

K5 (Ekstrak Nenas)

1,07 b

K6 (Ekstrak Belimbing Wuluh)

0,99 ab

K7 (Air Kelapa)

0,91 a

BNJ 5% = 0,16

Pada koagulan K5 (ekstrak nenas) terjadi proses fregmentasi oleh bakteri secara alami pada saat penyimpanan koagulan, sebelum digunakan sebagai bahan penggumpal. Melalui proses fregmentasi tersebut selain menghasilkan kandungan asam koagulan juga menghasilkan senyawa alkohol. Penambahan senyawa alkohol akan mengakibatkan terjadinya ikatan hidrogen antara alkohol dengan air, ikatan ini lebih kuat dari ikatan hidrogen antara air dengan protein yang melapisi karet, sehingga kestabilan partikel karet di dalam lateks akan terganggu dan akibatnya karet akan menggumpal. Alkohol dan asteon merupakan senyawa penarik air, dimana pengumpalan dengan cara penambahan senyawa penarik air, jarang dilakukan karena karet yang dihasilkan memiliki mutu yang kurang baik.

Secara umum yang dipakai sebagai penggumpal lateks adalah bahan yang mampu menetralkan muatan negatif dari lateks dan yang mampu mengikat air dari fasa karet. Zat-zat seperti asam , alkohol, dan elektrolit yang mengandung ion logam dapat digunakan untuk menggumpalkan lateks (Dalimunthe,1983).

  1. 3.        Ketebalan Lateks

Hasil rata-rata uji tengah ketebalan bahan olah karet (Havea brasiliensis) dari uji penggunaan berbagai jenis koagulan disajikan dalam Tabel 2.

Tabel 2.  Hasil Rata-Rata Uji Tengah Ketebalan Bahan Olah Karet Koagulan (cm)

Koagulan

Rata-rata

K1 (Asam semut)

4,13 a

K2 (Asam Asetat)

4,18 ab

K3 (Deurob)

3,70 a

K4 (Ekstrak Ubi Gadung)

6,03 d

K5 (Ekstrak Nenas)

6,60 d

K6 (Ekstrak Belimbing Wuluh)

5,70 c

K7 (Air Kelapa)

4,65 b

BNJ 5 % = 0,76

 

Dalam penelitian ini koagulan yang menghasilkan ketebalan bahan olah karet tertinggi adalah koagulan K5 (ekstrak belimbing wuluh) dengan rata-rata ketebalan 6,60 cm dan tidak berbeda nyata dengan koagulan K4 (ekstrak ubi gadung) dengan rata-rata ketebalan 6,03 cm. Sedangkan koagulan yang menghasilkan ketebalan bahan olah karet terendah adalah koagulan K3 (deorub) dengan rata-rata ketebalan bahan olah karet 3,70 cm dan tidak berbeda nyata dengan koaguluan K1 (asam semut) dengan rata-rata ketebalan 4,13 cm.

Ketebalan bahan olah karet selain menunjukan tingkat kandungan lateks pada bahan olah karet juga menunjukkan spesifikasi mutu dan penggunaan bahan olah karet. Semakin tipis (ketebalan kecil) maka semakin tinggi mutu bahan olah karet hal ini disebabkan pada bahan olah karet yang tipis memiliki jumlah kadungan air yang kecil (Dalimunthe, 1983).

Pada penelitian ini ketebalan bahan olah karet yang dihasilkan sangat beragam dan secara umum berbanding lurus dengan besar volumenya. Pada koagulan K5 (ekstrak nenas) yang bersifat mengikat air yaitu memiliki ketebalan yang tinggi dibandingkan koagulan lain, dimana kandungan selain lateks didalam bahan olah karet terutama air masih tingggi sehingga menambah ketebalan bahan olah karet.

Ketebalan bahan olah karet yang tidak merata juga dapat disebabkan karena pencampuran lateks dan asam yang tidak seragam, pemberian asam yang tidak cukup, lateks terlalu encer, atau letak bak yang miring. Gelembung gas yang timbul bahan olah karet dapat disebabkan karena penggumpalan terjadi terlalu cepat dengan menggunakan asam yang berlebih, atau asam yang terlalu pekat, penyaringan yang kurang baik, waktu penggumpalan terlalu lama dan kurang sempurna (Dalimunthe, 1983). Selain itu disebabkan protein dan komponen bukan karet mengabsorbsi air dan meningkatkan berbagai efek yang tidak diinginkan, antara lain mengurangi modulus.

  1. 4.        Bobot Isi

Berdasarkan nilai rata-rata bobot isi masing-masing koagulan, koagulan yang menghasilkan bobot isi tertinggi adalah perlakuan koagulan K4 (ekstrak ubi gadung) dengan rata-rata bobot isi 0,76 kg. Sedangkan koagulan yang menghasilkan rata-rata bobot isi terendah adalah perlakuan  koagulan K2 (asam asetat) dengan rata-rata bobot isi 0,61 kg.

Bobot isi adalah berat dari kandungan lateks murni yang terdapat di dalam lateks terutama selain air dan bahan lainnya yang terdapat didalam bahan olah karet. Untuk memperoleh bobot isi bahan olah karet harus melalui pengepresan atau penggilingan dengan ketebalan gilingan 3-5 mm, dimana proses penggilingan tersebut bertujuan untuk menyusutkan jumlah kandungan air didalam air selain juga digunakan sebagai langkah dalam pengujian kadar kering karet.

Pada penelitian ini koagulan alami khususnya koagulan hasil ekstraksi menghasilkan bobot isi diatas 0,70 kilogram, hal ini menunjukkan perbandingan lurus dengan volume yang dihasilkan koagulan tersebut. Pada pengukuran bobot isi tidak terdapat perbedaan yang nyata bobot isi yang dihasilkan oleh masing-masing koagulan meskipun koagulan-koagulan ektraksi menghasilkan rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan koagulan lainnya. Hal ini disebabkan proses penggilingan  konstan (sama) pada tiap pengukuran bobot isi dan kemantapan bahan olah karet yang bervariasi sesuai dengan bahan koagulasinya.

Proses penggilingan yang dilakukan adalah penggilingin sebanyak 7 kali dengan ukuran celah 5 mm ini dilakukan konstan (sama) untuk tiap bahan olah karet hasil koagulasi yang bertujuan tahapan uji tersebut besifat homogen dan dapat menghasilkan perbandingan pada masing-masing bahan olah karet. Kemantapan koagulan yang berbeda mempengaruhi jumlah air yang dikeluarkan pada proses penggilingan dimana ikatan protein-protein yang melapisi bahan karet juga mengikat partikel air (terutama pada koagulan hasil ekstraksi), sehingga proses penggilingan belum dapat mengeluarkan kandungan air di dalam bahan olah karet dan perlu proses pengovenan untuk mengetahui jumlah bahan karet murni yang terdapat didalam bahan olah karet.

Pada proses pengilingan menurunkan berat bahan olah karet mencapai 30 % dari berat volume bahan olah karet tersebut. Penyusutan tersebut akibat berkurangnya partikel air yang terdapat didalam bahan olah karet akibat penggilingan. Pada lateks yang diperoleh dari penyadapan tanaman karet mengandung sekitar 25-40 % bahan karet mentah (crude rubber) dan 60-75 % serum (air dan zat yang terlarut). Bahan karet mentah mengandung 90-95 % karet murni; 2-3 % protein; 1-2 % asam lemak; 0,2 % gula; 0,5 % garam- garam Na, K, Mg, P, Ca, Cu, Mn, dan Fe. Partikel karet tersuspensi dalam serum lateks dengan ukuran 0,04-3,00 µ (Goutara, 1985).

  1. 5.        Kadar Kering Karet Koagulum

Dalam penelitian ini koagulan menghasilkan kadar karet kering (koagulum) tertinggi adalah koagulan K1 (asam semut) dengan rata-rata kadar karet kering (koagulum) 63,09 % dan tidak berbeda nyata dengan koagulan K3 (deorub) dengan rata-rata kadar karet kering (koagulum) 62,81 %. Sedangkan koagulan yang menghasilkan kadar kering karet terendah adalah perlakuan K5 (ekstrak nenas) dengan rata-rata kadar karet kering (koagulum) 31,21 % dan tidak berbeda nyata dengan koagulan K4 (ekstrak ubi gadung) dan K7 (air kelapa) dengan rata-rata kadar karet kering (koagulum) 33,97 % dan 42,53 %.

Hasil rata-rata uji tengah kadar kering karet koagulum bahan olah karet (Havea brasiliensis) uji penggunaan dari pemberian berbagai jenis koagulan sintetik dan alami disajikan dalam Tabel 3.

Tabel 3.    Hasil Rata-rata Uji Tengah Kadar Kering Karet Koagulum Bahan Olah Karet (%) persen.

Koagulan

Rata-rata

K1 (Asam semut)

63,09 b

K2 (Asam Asetat)

55,19 ab

K3 (Deurob)

62,81 b

K4 (Ekstrak Ubi Gadung)

33,97 a

K5 (Ekstrak Nenas)

31,21 a

K6 (Ekstrak Belimbing Wuluh)

43,05 ab

K7 (Air Kelapa)

42,53 a

BNJ 5 % = 26,17

Penentuan KKK (koagulum) pada dasarnya adalah mengukur kandungan karet kering per satuan berat. Untuk itu diperlukan proses pembersihan dan pengeringan contoh uji. Koagulum dibersihkan dengan penggilingan dan pencucian. Jenis gilingan yang cocok untuk pembersihan adalah mesin creper. Untuk bekuan yang sangat kotor harus dilengkapi dengan mesin hammermill. Tingkat kebersihan contoh diukur dengan pengujian kadar kotoran dan kadar abu sesuai dengan norma skema pengujian SIR (Standard Indonesian Rubber).

Pada penelitian ini bahan olah karet yang digumpalkan dengan menggunakan koagulan K1 (asam semut) dan K3 (Deorub) memberikan rata-rata tertinggi dalam menghasilkan pada kadar karet kering koagulum. Namun koagulan terbaik dalam meningkatkan kualitas bahan olah karet adalah koagulan K3 (Deorub), meskipun berdasarkan uji Beda Nyata Jujur    taraf 5 % menunjukan hasil yang berbeda nyata dengan koagulan K1 (asam semut). Koagulan K3 (deurob) memiliki kelebihan diantaranya adalah koagulan K3 (deorub) merupakan koagulan alami yang aman, baik bagi petani ataupun tanaman dibandingkan koagulan sintetik sehingga lebih ramah lingkungan; Koagulan  tersebut dapat diproduksi oleh petani sendiri secara swadaya sehingga dapat menurunkan biaya produksi dan dapat menjadi sumber ekonomi apabila koagulan diproduksi secara masal dan dijual oleh petani untuk meningkatkan pendapatan petani; Dapat mengawetkan bahan olah karet sehingga dapat meningkatkan lama penyimpanan bahan olah karet sebelum digunakan dalam pembuatan karet spesifikasi; dan Mengandung senyawa-senyawa yang dapat menurunkan jumlah air dalam bahan olah karet sehingga meningkatkan kadar kering karet.

Deorub merupakan koagulan yang terbuat dari bahan alami. Yang dibuat melalui proses pendinginan atau pengembunan asap, yang berasal dari proses pengasapan cangkan buah kelapa sawit. Deorub dapat mengatasi masalah tersebut di atas karena mengandung senyawa-senyawa yang dapat berfungsi sebagai antibakteri, antioksidan, pembeku, dan mengandung senyawa-senyawa yang mudah menguap. Ketika bahan deorub disemprotkan di karet maka air yang ada di karet tersebut akan dengan cepat menguap keluar, maka karet cepat kering dan kadar karet meningkat dan sebelum diolah bisa mencapai 10-15 % yang khas. Senyawa karbonil, fenol, alkohol dan ester kan menyebabkan warna coklat dan akan memberikan bau asap khas pada bokar. Deorub merupakan koagulan yang berasal dari proses pengasapan sehingga memiliki sifat seperti bahan-bahan yang dihasilkan melalui pengasapan. Asap memiliki kemampuan untuk mengawetkan bahan makanan karena adanya senyawa asam, fenolat dan karbonil.

Pengaruh Deorub terhadap pembekuan (pH larutan, pH bekuan, kecepatan bekuan, kondisi bekuan) dan mutu teknis seperti kadar kering karet antara Deorub  dan asam semut (format) dan asam asetat  tidak terjadi perbedaan yang nyata. Dalam S solihin, dkk (2006) untuk beberapa sifat fisik vulkanisat menunjukkan bahwa kuat tarik, modulus 500 % dan perpanjangan putus dari kompon karet yang menggunakan pembeku Deorub K lebih tinggi dibandingkan dengan asam semut sedangkan kekerasan sama. Hal inimenunjukkan bahwa pembeku Deorub K lebih baik sedikit dibandingakan dengan asam semut.

Pada koagulan K3 tersebut memiliki kandungan asam amino yang lebih besar, sehingga selain bertujuan menggumpalkan koagulan tersebut dapat mengeluarkan air yang terdapat didalam karet. Ciri khas struktur protein diturunkan oleh asam amino, yaitu mengandung gugus –COOH dan –NH2 yang terikat pada atom karbon yang sama, saling bergabung melalui gugus amino dari salah satu molekul asam dan gugus karboksil asam berikutnya sambil menghilangkan air (Cowd, 1991).

  1. 6.        Harga Notari

Pada penelitian ini koagulan menghasilkan harga notari tertinggi adalah K1 (asam semut) dengan rata-rata harga notari Rp.14.946,44,- dan tidak berbeda nyata dengan koagulan K3 (deurob) dengan rata-rata harga notari  Rp. 13.892,28,- . Sedangkan koagulan yang menghasilkan harga notari terendah adalah K5 (ekstrak nenas) dengan rata-rata notari Rp. 8.295,38,- dan tidak berbeda nyata dengan koagulan K4 (ekstrak ub gadung) dan K7 (Air kelapa) dengan rata-rata notary Rp. 8.550,00,- dan Rp. 9.662,28.

Hasil rata-rata uji tengah harga notari bahan olah karet (Havea brasiliensis) uji penggunaan dari pemberian berbagai jenis koagulan sintetik dan alami disajikan dalam Tabel 5.

Tabel 5.  Hasil Rata-Rata Uji Tengah Harga Notari Rupiah (Rp)

Koagulan

Rata-rata

K1 (Asam semut)

14.946,44 b

K2 (Asam Asetat)

13.545,55 ab

K3 (Deurob)

13.892,28 b

K4 (Ekstrak Ubi Gadung)

8.550,00 a

K5 (Ekstrak Nenas)

8.295,38 a

K6 (Ekstrak Belimbing Wuluh)

10.046,56 ab

K7 (Air Kelapa)

9.662,28 a

BNJ 5 % = 5.324,55

 

Koagulan K3 (deorub) adalah koagulan terbaik dalam meningkatkan harga notari dari bahan olah karet , deorub merupakan koagulan alami yang pembuatan bisa dilakukan sendiri oleh petani sehingga menurunkan biaya produksi dan sehingga meningkatkan pendapatan petani. Koagulan K3 (deorub) merupakan koagulan yang baik dalam memberikan harga yang tinggi untuk bahan olah karet pada tingkat notari atau perusahaan karet yang menjadikan kadar kering karet sebagai salah satu faktor penentu harga karet. Dengan penggunaan koagulan K3 (deorub) bahan olah karet yang dijual memiliki keuntungan ekonomi yang lebih besar dibandingkan dengan perlakuan lainnya.

Volume dan bobot dari bahan olah yang tinggi tidak menjamin mutu dari bahan olah karet. Bedasarkan Standar Nasional Indonesia mutu dari bahan olah karet ditentukan kadar kering karet, sehingga bahan olah karet yang memiliki kadar kering karet yang tinggi memiliki mutu yang baik. Dalam meningkatkan mutu bahan olah karet terutama pada tingkat petani, petani terutama dalam penanganan pasca panen perlu menggunakan bahan koagulan yang dapat meningkatkan kadar kering karet dan menghindari perlakuan pasca panen yang dapat menurunkan mutu bahan olah karet seperti proses pra-koagulasi (koagulasi secara alami), perendaman bahan olah karet didalam air, dan pengelolaan bahan olah karet yang tidak bersih.

Sebagai gambaran 2 (dua) buah truk memiliki muatan maksimal 8 ton, apabila truk a menggunakan koagulan dengan mutu rendah seperti ekstrak nenas dengan hasil pengukuran kadar karet kering (koagulan) 40 % dan harga notary Rp. 25.000,- maka total pembayaran yang diterima petani adalah Rp. 80 juta; sedangkan truk b menggunakan koagulan dengan mutu tinggi seperti koagulan deorub meskipun mengalami penurunan berat sebanyak 20 % akibat hilanganya air pada proses koagulasi sehingga berat tersisa 6,5 ton dengan hasil pengukuran kadar karet kering (koagulan) 60% dan harga notari Rp. 25.000,- maka total pembayaran yang diterima  adalah Rp. 96 juta. Hal ini menunjukan penggunaan koagulan K3 (deorub) selain meningkatkan kualitas bahan olah karet juga meningkatkan harga jualnya terutama harga notari bahan olah karet.

Berdasarkan pengunaan perlakuan terbaik               K3 (deorub) dalam proses koagulasi karet, mutu bahan olah karet yang terbaik dihasilkan dalam penelitian ini adalah bahan olah karet berdasarkan kadar karet kering mutu II yaitu memiliki kadar karet kering > 60 % . sedangkan kualitas bahan olah karet yang terendah dihasilkan koagulan            K5 (ekstrak nenas) dalam standar SNI termasuk dalam mutu III yaitu memiliki kadar karet kering < 60 %.


KESIMPULAN

 

Berdasarkan hasil penelitian uji penggunaan berbagai jenis koagulan terhadap mutu bahan olah karet (Hevea brasiliensis) dapat disimpulkan sebagai berikut :

1.  Seluruh perlakuan koagulan dapat digunakan sebagai bahan koagulasi dimana seluruh koagulan yang digunakan sebagai bahan koagulasi dapat menurunkan pH lateks segar dari pH 6,0 menjadi 4,7 yang merupakan titik isoelektriks koagulasi lateks.

2.  Koagulan K5 (ekstrak nenas) menghasilkan volume, ketebalan tertinggi, dan koagulan K4 (ekstrak ubi gadung) menghasilkan bobot isi yang tertinggi, hal ini dikarenakan bahan koagulan tersebut dapat mengikat air dalam bahan olah karet sehingga kandungan air didalam bahan olah karet tersebutlah yang meningkatkan volume, ketebalan, dan bobot bahan olah karet.

3.  Dalam penelitian ini koagulan K3 (deorub) merupakan perlakuan terbaik dalam meningkatkan kualitas bahan olah karet dimana memiliki kadar kering karet (koagulum) rata-rata 60 % sehingga menghasilkan harga notari tertinggi pada setiap kilogramnya sebesar             Rp. 14.000,-

4.  Berdasarkan penggunaan koagulan terbaik dalam proses koagulasi karet K3 (deorub), mutu bahan olah karet yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah bahan olah karet berdasarkan kadar karet kering mutu II yaitu memiliki kadar karet kering > 60 %. Sedangkan kualitas bahan olah karet yang terendah dihasilkan koagulan K5 (ekstrak nenas) dalam standar SNI termasuk dalam mutu III yaitu memiliki kadar karet kering < 60 %.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Bina UKM, 2010. Pengolahan Getah Karet (Lateks) (hptt:www.binaukm.co.htm) (31 Januari 2011)

Birt,T.1993.Kimia Fisika Untuk Universitas. PT.Gramedia Pusaka Utama,Jakarta.

Cowd, M. A. 1991. Kimia Polimer. Terjemahan. ITB, Bandung.

Dalimunthe, R.,1983. Kandungan Lateks serta Keterkaitannya dengan Pembuatan Barang Jadi, Medan.

Goutara. 1985. Dasar Pengolahan Karet. Agro Industri Press Departemen Teknologi Industri Pertanian, Bogor.

Haryanto, Dwi. 2010. Budidaya Tanaman Karet (hptt://www.htysite.co.tv.htm) (31 januari 2011)

Hariana, H. A, 2004. Tanaman Obat dan Khasiatnya. Seri I. Penebar Swadaya, Jakarta.

Sunarti, 2010. Pedoman Penanganan Pasca Panen Direktorat Penanganan Pasca Panen Direktorat Jendral Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (hptt://bloger.co.htm)

Ompusunggu, M dan Darussamin, A. 1989. Pengolahan Umum Lateks. Balai Penelitian Sungai Putih, Sumatra Utara.

Priyanto, I. 2010. Investasi Kebun Karet (hptt://www.deptan.com) (31 Januari 2011)

Riset, P. 2004. Pengaruh Bahan Skunder Pada Kestabilan lateks Alam Irridiasi. Badan Tenaga Nuklir Nasional, Jakarta.

Safitri, 2010. Pengaruh Ekstrak Belimbing Wuluh (Averrhoa Blimbi L) sebagai Penggumpal Lateks Terhadap Mutu Karet. Jurusan Kimia MIPA USU, Sumatra Utara.

Tarbiyatul, 2009. Kaji Kerap Lateks Dadih Pada Perkebunan Karet Rakyat Untuk Meningkatkan Kualitas Olahan Karet di Kalimantan Timur (http://www.litbang.deptan.go.id)

Tim Penulis, 2004. Karet, Strategi Pemasaran Tahun 2005Budidaya dan Pengolahan. Cetakan keenam. Penebar Swadaya, Jakarta.

Zahara, 2005. Pengeruh Campuran Pengawet (Amonia-AsamBorat) Terhadap Nilai Plastisitas Awal (Po) dan Plastisitas Retensi Index (PRI) Karet Dengan Penggumpalan Asam Asetat. Skripsi Jurusan MIPA USU, Sumatra Utara.

Posted Mei 11, 2012 by Jurnal Ilmiah Agripeat in Penelitian

Naskah Agripeat Edisi Maret 2010   Leave a comment

Kepada Penyumbang Naskah yang sudah konfirmasi via email dan via telphone untuk segera menyerahkan hard copy dan soft copy ke pelaksana tata usaha jurnal ilmiah agripeat
demikian terima kasih
salam
gambut hutan lestari

Posted April 8, 2010 by Jurnal Ilmiah Agripeat in Uncategorized