KAJIAN BERBAGAI JENIS KEMASAN == Muliansyah   Leave a comment

KAJIAN BERBAGAI JENIS KEMASAN PLASTIK TERHADAP SIFAT FISIKOKIMIA BUAH RAMBUTAN TEROLAH MINIMAL

 (Study Of Various  Plastic Packaging on Physicochemical  Characteristic

Of Minimally Processed Nephelium lappaceum Fruit)

Muliansyah

Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya

E-mail : muliansyah_tpp@ymail.com

                                                                                                ABSTRACT

The purpose of this study was to determine changes in physicochemical characteristic of minimally processed Nephelium lappaceum fruit in various types of plastic packaging are stored at different temperatures. Experimental design used was Completely Randomized Design (CRD) with two factors. The first factor was the treatment of type packaging material (P), as follow P1 ( polyethylene plastic), P2 (polypropylene plastic) and P3 (stretch plastic).  The second factor was the storage temperature (T) consist of  T1 (room temperature) and T2 (10° C). Each treatment was repeated three times. The results showed that a decrease in O2 consumption and CO2 production at room temperature storage and cold temperatures for all types of packaging. Water content increased, especially in stretch plastic packaging that was stored at cold temperatures, while the total acid at room temperature was lower than other packaging.  Flesh fruit texture decreased weak during storage both at room temperature or cold temperatures for all types of packaging, while the total dissolved dolids tend to declined with the same storage time.

Keywords: rambutan fruit, minimally processed, type of packaging

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan sifat fisikokimia buah rambutan terolah minimal pada berbagai jenis plastik kemasan yang disimpan pada suhu yang berbeda. Rancangan Percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama adalah perlakuan jenis bahan pengemas (P), yaitu : P1 (Plastik polietilen), P2 (Plastik polipropilen) dan P3 (Plastik stretch). Faktor kedua adalah suhu penyimpanan (T) terdiri dari : T1 (suhu ruang) dan T2 (10oC).  Tiap perlakuan diulang 3 kali.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi penurunan konsumsi O2 dan produksi CO2 pada penyimpanan suhu ruang   maupun suhu dingin untuk semua  jenis kemasan. Kadar air meningkat setelah disimpan baik pada suhu ruang maupun suhu dingin. Total asam meningkat terutama pada kemasan plastik  stretch  yang disimpan pada suhu dingin, sedangkan pada suhu ruang total asamnya lebih rendah dari kemasan lainnya.  Pada tekstur daging buah terjadi penurunan  kekerasan selama penyimpanan baik pada suhu ruang maupun suhu dingin untuk semua  jenis kemasan.  Sedangkan total padatan terlarut cenderung menurun dengan waktu penyimpanan yang sama.

Kata Kunci : Buah rambutan, terolah minimal, jenis kemasan

PENDAHULUAN

Rambutan (Nephelium lappaceum, L) dalam perdagangan internasional dikelompokkan sebagai buah tropis eksotis. Permintaan komoditas itu semakin meningkat, karena masyarakat negara maju mulai cenderung mengkonsumsi makanan segar demi alasan kesehatan. Konsumsi dan permintaan pasar rambutan di dalam negeri juga meningkat. Peningkatan di pasar domestik terutama didorong oleh meningkatnya jumlah penduduk, kesadaran gizi masyarakat, pendidikan dan konsekuensi dari meningkatnya pendapatan masyarakat.

Produk rambutan budidaya dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan agroindustri. Kendala lain masih banyak, diantaranya pengetahuan dan keterampilan pekebun mesih kurang dalam hal pasca panen.

Rambutan dapat dimakan secara langsung sebagai buah segar. Buah ini sangat baik sebagai sumber vitamin C. Selain itu rambutan juga dapat dikonsumsi setelah diolah. Sebagai makanan olahan rambutan digunakan untuk campuran koktail, manisan dan sirup rambutan.

Teknologi pengolahan dan pengawetan rambutan sangat diperlukan, terutama untuk menghindari buah yang mubazir pada musim panen. Bila sebagian besar rambutan yang melimpah itu diolah sebagai makanan awetan, ketersediaan rambutan akan selalu ada di pasar sehingga bisa dinikmati sepanjang tahun.

Untuk mempertahankan mutu rambutan agar tetap segar,  dapat dilakukan penyimpanan sementara dengan cara memasukkan rambutan yang telah diikat ke dalam kantung plastik (PE, polyetilene) yang diberi lubang-lubang dengan jarum. Pada suhu ruangan sekitar 290C, rambutan yang disimpan dengan cara tersebut ternyata mampu bertahan selama 2 hari dalam kondisi yang masih baik. Untuk pengiriman jarak jauh, yang membutuhkan waktu 2 – 3 hari perjalanan, ada kalanya rambutan dipak dalam peti.

Dengan semakin majunya teknologi khususnya dalam hal penanganan buah-buahan, maka akan semakin beragam pula jenis produk yang dihasilkan. Banyak hal yang dapat diterapkan dalam penanganan buah-buahan sebagai usaha mempertahankan mutu, salah satunya dengan penerapan teknologi olah minimal. Melalui teknologi ini diharapkan sebagai upaya mendiversifikasikan produk sehingga tetap dapat dikonsumsi dalam kondisi segar. Shewfelt (1987) mengemukakan bahwa teknologi olah minimal adalah seluruh kegiatan pengolahan seperti pencucian, sortasi, pembersihan, pengupsan, pemotongan, dan lain sebagainya yang tidak mempengaruhi sifat mutu bahan segarnya, khususnya kandungan gizinya.

Produk yang diolah minimal, bila dilihat secara biologis maupun fisiologis tetap aktif, oleh karena itu produk yang dihasilkan hanya mampu bertahan dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan dengan bahan bakunya. Namun demikian penerapan teknologi olah minimal ini agak sedikit berbeda dengan pengolahan lainnya yang dapat dipertahankan dalam waktu yang relatif lama dan lebih stabil.

Film kemasan akan memberikan lingkungan yang berbeda sehingga dengan berkurangnya konsentrasi O2 dan bertambahnya konsnetrasi CO2 dalam udara lingkungan buah, akan memperlambat perubahan fidiologis yang berhubungan dengan proses pematangan buah.  Pengemasan dengan menggunakan film kemasan merupakan salah satu cara mempertahankan RH udara agar tetap tinggi (Pantastico, et al., 1986).  Muhidin (1989) melaporkan bahwa buah rambutan Lebak Bulus yang disimpan dalam kantong plastik tertutup rapat yang diisi gas CO2 10% pada suhu kamar memberikan kerusakan paling kecil dalam hal kandungan vitamin C, kadar gula dan penampakan buah selama penyimpanan 8 hari.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan sifat fisikokimia buah rambutan terolah minimal pada berbagai jenis plastik kemasan yang disimpan pada suhu yang berbeda..

BAHAN DAN METODE

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Teknik Pengolahan Pangan dan Hasil Pertanian (TPPHP) Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor. Waktu pelaksanaan penelitian mulai bulan Januari sampai Pebruari 2004.  Bahan baku yang digunakan adalah buah rambutan segar, bahan untuk pengemas, yaitu plastik polietilen, polipropilen dan stretch film dan styrofoam. Sedangkan bahan untuk analisis kimia adalah NaOH 0.1 N dan fenolftalein. Alat-alat yang digunakan adalah oven, cawan porselin, refraktometer, pnetrometer, kosmotektor, timbangan analitik, bak plastik, stoples, selang plastik, rak tempat penyimpanan buah rambutan, refrigerator, styrofoam, masker kain, sarung tangan, kantong plastik, desikator dan alat-alat gelas untuk analisis. Rancangan Percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor perlakuan dan diulang 3 kali.  Faktor pertama adalah perlakuan jenis bahan pengemas (P), yaitu : P1 (Plastik polietilen), p2 (Plastik polipropilen) dan P3 (Plastik stretch). Faktor kedua adalah suhu penyimpanan (T) yang terdiri dari : T1 (ruhu ruang) dan T2 (10oC).

Penelitian diawali dengan  melakukan sortasi buah rambutan segar, pengupasan kulit dan pengambilan daging buah utuh. Sebelum diberi perlakuan daging buah utuh dilakukan pengamatan awal terhadap kadar air, kekerasan, total padatan     terlarut, total asam. Selanjutnya daging buah utuh diletakan pada Styrofoam dan dikemas dengan plastik pengemas sesuai perlakuan. Buah rambutan yang sudah dikemas disimpan pada suhu ruang (t1) dan 10oC (t2) selama 8 hari. Pengamatan yang dilakukan meliputi laju respirasi (pengukuran konsentrasi O2 dengan menggunakan Cosmotector type XPO-318 dan CO2 menggunakan Cosmotector type Xp-314), kadar air (Metode Oven (AOAC), 1984), Kekerasan (menggunakan Rheometer Model CR-300), total asam (metode titrasi).

Diagram alir percobaan adalah sebagai berikut :

Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan analisis ragam (Uji F) pada taraf kepercayaan 95% dan 99%.  Apabila hasil analisis ragam berpengaruh nyata atau sangat nyata maka dilakukan analisis data lanjutan dengan menggunakan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf  α 5%.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Laju Respirasi Buah Rambutan Terolah Minimal

Hasil perhitungan perubahan laju konsumsi O2 dan produksi CO2 dalam masing-masing kemasan plastik pada penyimpanan suhu ruang disajikan dalam Gambar 1 dan 2 dan suhu dingin (10oC) disajikan dalam Gambar 3 dan 4.

Hasil pengukuran respirasi buah rambutan terolah minimal pada berbagai jenis kemasan terlihat bahwa perubahan konsentrasi gas O2 cenderung terus menurun karena O2 yang terdapat dalam kemasan digunakan untuk respirasi buah rambutan atau kegiatan metabolisme lainnya. Sedangkan CO2 cenderung meningkat karena CO2 ini terus diproduksi selama buah rambutan tersebut tetap melangsungkan kegiatan respirasi. Selain itu terdapat beberapa komposisi O2 dalam kemasan mengalami peningkatan dan komposisi CO2 yang mengalami penurunan, hal ini disebabkan karena keadaan buah yang kritis sehingga membutuhkan O2 yang lebih besar dari keadaan biasa atau normal.  Burn (1995) menyatakan bahwa kehilangan kulit dan gangguan keutuhan sel akibat pengupasan, pengirisan maupun pemotongan menyebabkan terjadinya perubahan fisiologis sehingga mengakibatkan peningkatan transpirasu, akitivitas enzim dan respirasi.

Pada pengemasan stretch film dengan suhu penyimpanan ruang dan penyimpanan dingin memiliki sifat lebih permeabel dibandingkan polietilen dan polipropilen. Hal ini terlihat dari pengembunan yang terjadi pada masing-masing kemasan, pada kemasan stretch film uap air hasil respirasi lebih sedikit karena uap air dapat merembes keluar sedangkan pada polietilen dan polipropilen sebagian uap air tidak dapat merembes keluar, maka terbentuk titik-titik air dibalik kemasan. Perubahan konsentrasi oksigen maupun CO2 menunjukkan penurunan yang nyata pada penyimpanan suhu ruang, sedangkan pada penyimpanan dingin terjadi penurunan yang kecil.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Laju Respirasi Buah Rambutan Terolah Minimal

Hasil perhitungan perubahan laju konsumsi O2 dan produksi CO2 dalam masing-masing kemasan plastik pada penyimpanan suhu ruang disajikan dalam Gambar 1 dan 2 dan suhu dingin (10oC) disajikan dalam Gambar 3 dan 4.

Hasil pengukuran respirasi buah rambutan terolah minimal pada berbagai jenis kemasan terlihat bahwa perubahan konsentrasi gas O2 cenderung terus menurun karena O2 yang terdapat dalam kemasan digunakan untuk respirasi buah rambutan atau kegiatan metabolisme lainnya. Sedangkan CO2 cenderung meningkat karena CO2 ini terus diproduksi selama buah rambutan tersebut tetap melangsungkan kegiatan respirasi. Selain itu terdapat beberapa komposisi O2 dalam kemasan mengalami peningkatan dan komposisi CO2 yang mengalami penurunan, hal ini disebabkan karena keadaan buah yang kritis sehingga membutuhkan O2 yang lebih besar dari keadaan biasa atau normal.  Burn (1995) menyatakan bahwa kehilangan kulit dan gangguan keutuhan sel akibat pengupasan, pengirisan maupun pemotongan menyebabkan terjadinya perubahan fisiologis sehingga mengakibatkan peningkatan transpirasu, akitivitas enzim dan respirasi.

Pada pengemasan stretch film dengan suhu penyimpanan ruang dan penyimpanan dingin memiliki sifat lebih permeabel dibandingkan polietilen dan polipropilen. Hal ini terlihat dari pengembunan yang terjadi pada masing-masing kemasan, pada kemasan stretch film uap air hasil respirasi lebih sedikit karena uap air dapat merembes keluar sedangkan pada polietilen dan polipropilen sebagian uap air tidak dapat merembes keluar, maka terbentuk titik-titik air dibalik kemasan. Perubahan konsentrasi oksigen maupun CO2 menunjukkan penurunan yang nyata pada penyimpanan suhu ruang, sedangkan pada penyimpanan dingin terjadi penurunan yang kecil.

Gambar 1. Laju konsumsi O2 buah rambutan terolah minimal dalam kemasan plastik selama penyimpanan pada suhu ruang.

Gambar 2. Laju produksi CO2 buah rambutan terolah minimal dalam kemasan plastik selama penyimpanan pada suhu ruang.

Gambar 3.  Laju konsumsi O2 buah rambutan terolah minimal dalam kemasan plastik selama penyimpanan pada suhu dingin (10oC).

Gambar 4.  Laju produksi CO2 buah rambutan terolah minimal dalam kemasan plastik selama penyimpanan pada suhu dingin (10oC).

Kadar Air

Tabel 1. Rata-rata kadar air buah rambutan terolah minimal yang disimpan pada kemasan dan suhu berbeda

Kemasan

Kadar Air

Awal

Akhir

Suhu Ruang

Suhu Dingin

————–   %   —————–

Polietilen

84.852

86.689

85.057

Polipropilen

84.852

86.786

85.576

Stretch Film

84.852

86.688

85.722

Berdasarkan Tabel 1 terlihat adanya peningkatan kadar air buah rambutan setelah penyimpanan, baik pada suhu ruang maupun pada suhu dingin. Peningkatan kadar air lebih tinggi pada suhu ruang dibandingkan suhu dingin. Tingginya kadar air pada suhu ruang disebabkan karena sudah mulai terjadi perubahan pada buah, buah menjadi lebih lembek karena kerusakan komponen sehingga kadar air meningkat. Tingginya kadar air pada suhu ruang dibandingkan suhu dingin karena adanya perbedaan laju respirasi, dimana diketahui bahwa respirasi yang lebih cepat akan menghasilkan uap air yang tentunya akan berpengaruh pada kadar air. Desrosier (1988) mengemukakan bahwa bahan pangan yang disimpan memerlukan perlindungan sedemikian rupa sehingga suhu dapat terkendali dan kehilangan air minimum dengan cara penyimpanannya pada suhu rendah dan dengan memberikan pengemasan yang memadai.

 

Kekerasan

Kekerasan buah rambutan terolah minimal diukur dengan menggunakan rheometer. Pada buah rambutan terolah minimal, kekerasan merupakan salah satu indikator kerusakan, artinya semakin lunak daging buah maka dikatakan semakin rusak dan tidak disukai.

Tabel 2. Rata-rata kekerasan buah rambutan terolah minimal yang disimpan pada kemasan dan suhu berbeda

Kemasan

Kekerasan

Awal

Akhir

Suhu ruang

Suhu dingin

—————————–   kg   ————————

Polietilen

0.1372

0.0823

0.0870

Polipropilen

0.1372

0.1067

0.0580

Stretch Film

0.1372

0.1190

0.1117

Berdasarkan Tabel 2 terlihat bahwa nilai rata-rata kekerasan menurun baik pada penyimpanan suhu ruang maupun suhu dingin. Hal ini menunjukkan bahwa selama proses penyimpanan buah rambutan terolah minimal pada pengemasan dengan stretch film mengalami penurunan yang lebih kecil dibandingkan dengan pengemasan polietilen dan polipropilen. Secara umum dapat dikatakan bahwa rambutan yang dikemas dengan stretch film dapat mempertahankan kekerasan, sedangkan yang dikemas dengan polietilen dan polipropilen relatif tidak dapat mempertahankan kekerasan. Winarno dan Wirakartakusuma (1981) menyatakan bahwa perubahan kekerasan pada buah selama penyimpanan terutama disebabkan oleh pembongkaran protopektin yang tidak larut menjadi senyawa pectin yang larut sehingga ketegaran buah berkurang. Pantastico, et.al., (1986) menambahkan melunaknya buah selama penyimpanan juga disebabkan oleh aktivitas enzim poligalak-turonase yang menguraikan protopektin dengan komponen utama asam poligalakturonat menjadi asam-asam galakturonat.

 

Total Asam

Asam tertitrasi buah rambutan terolah minimal yang disimpan pada suhu ruang dan suhu dingin cenderung mengalami peningkatan selama penyimpanan.

Tabel 3. Rata-rata total asam buah rambutan terolah minimal yang disimpan pada kemasan dan suhu berbeda

Kamasan

Total asam

Awal

Akhir

Suhu ruang

Suhu dingin

 ————————–   (%)   ————————

Polietilen

7.29

8.0500 b

7.0933 a

Polipropilen

7.29

7.8867 b

7.5633ab

Stretch Film

7.29

7.1500 a

8.0467 b

Keterangan : angka dalam kolom yang sama dan diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada uji BNJ 5 %

Berdasarkan Tabel 3 terlihat bahwa pada suhu ruang untuk kemasan stretch film nilai total asamnya nyata lebih rendah dibandingkan kemasan polipropilen dan polietilen sebaliknya pada penyimpanan suhu dingin, total asamnya nyata lebih tinggi terhadap bahan kemasan lainnya. Hal ini diduga karena pada suhu ruang, laju produksi CO2 lebih rendah dan penurunannya lebih sedikit (Gambar 2), demikian pula dengan konsumsi O2 (Gambar 1)dibandingkan dengan laju produksi CO2 dan konsumsi O2 pada kemasan polietilen dan polipropilen. Wills, et. al. (1992) menyatakan bahwa menurunnya asam organic selama penyimpanan biasanya digunakan untuk respirasi.  Asam-asam tersebut digunakan sebagai sumber energy bagi buah, dengan demikian maka jumlah asam yang terkandung dalam buah semakin menurun

Sebaliknya pada suhu dingin terjadi peningkatan total asam untuk kemasan stretch film nyata lebih tinggi dibandingkan dengan kemasan polietilen dan polipropilen. Hal ini diduga karena pada suhu dingin laju produksi CO2 lebih tinggi (Gambar 4) demikian pula dengan laju konsumsi O2 (Gambar 3) dibandingkan dengan laju produksi CO2 dan konsumsi O2 pada kemasan polietilen dan polipropilen.

 

Padatan Terlarut

Tabel 4. Rata-rata padatan terlarut buah rambutan terolah minimal yang disimpan pada kemasan dan suhu berbeda

Kemasan

Padatan Terlarut

Awal

Akhir

Suhu Ruang

Suhu Dingin

  ——————————–   (oBrix)    ————————–
Polietilen

21.2

20.100

20.000

Polipropilen

21.2

21.333

19.433

Stretch Film

21.2

20.300

20.267

Berdasarkan Tabel 4 terlihat bahwa terjadi penurunan total padatan terlarut, kecuali pada kemasan polipropilen pada suhu ruang terjadi kenaikan sedikit (0.13 oBrix). Berdasarkan analisis ragam bahwa bahan pengemas yang digunakan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap total padatan terlarut.

Hidrolisis pati akan terus berlangsung selama penyimpanan buah rambutan terolah minimal. Hal ini akan menyebabkan terjadinya perubahan nilai total padatan terlarut, karena pati yang tadinya tidak larut dalam air melalui proses hidrolisis akan dipecah menjadi gula sederhana yang larut dalam air. Menurut Syarief (1994), kenaikan gula disebabkan oleh hidrolisis pati menjadi senyawa-senyawa sukrosa, glukosa dan fruktosa dan kecepatan hidrolisis ini lebih besar daripada kecepatan pengubahan glukosa menjadi energi dan air sehingga dalam jaringan terjadi penimbunan gula selama penyimpanan.

Penurunan total padatan terlarut pada berbagai jenis kemasan yang digunakan disebabkan karena terjadinya hidrolisis gula menjadi energi dan air sehingga total total padatan terlarutnya menurun namun menyebabkan peningkatan kadar air (Tabel 3). Penyebab lainnya diduga karena hidrolisis pati sudah sedikit dengan semakin lamanya penyimpanan, sedangkan proses respirasi menurun dan sintesa asam yang mendegradasi gula berjalan terus. Anzueto dan Rizvi (1985) menyatakan bahwa kecepatan konsumsi gula dalam buah apel dikurangi selama penyimpanan buah pada suhu 3oC yang mungkin disebabkan oleh pengurangan dalam kecepatan respirasi dan proses-proses metabolisme.

Pengamatan Visual

            Hasil pengamatan secara visual terlihat bahwa terjadi perubahan penampakan terutama terhadap warna. Perubahan warna terjadi pada buah rambutan terolah minimal yang disimpan pada suhu ruang.  Pada hari ketiga penyimpanan warna buah berubah dari warna putih menjadi kuning dan berlendir. Perubahan warna ini lebih banyak terjadi pada kemasan stretch film dibandingkan dengan kemasan lainnya. Pada penyimpanan suhu dingin tidak terjadi perubahan warna buah dari ketiga jenis kemasan yang digunakan sampai pengamatan terakhir (hari ke-8), tetapi sudah tercium aroma asam yang menandakan sudah terjadi penurunan mutu.

Perubahan lainnya adalah adanya uap air pada kemasan polietilen dan polipropilen, sedangkan pada Stretch tidak ditemukan adanya uap air (suhu ruang dan suhu dingin). Hal ini disebabkan karena adanya sifat permeabilitas yang berbeda  antara kemasan stretch film dengan kedua jenis kemasan yang lainnya. Rusmono (1989), menyatakan adanya pengembunan uap air pada permukaan film kemasan akibat proses respirasi dan transpirasi.

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat ditarik beberapa kesimpulan, bahwa pada penyimpanan buah rambutan terolah minimal menggunakan suhu ruang maupun suhu dingin dengan semua jenis kemasan menurunkan konsumsi O2 dan produksi CO2, meningkatkan kadar air, menurunkan kekerasan dan menurunkan total padatan terlarut.  Sedangkan pada total asam pada penyimpanan suhu ruang dengan kemasan stretch lebih rendah dibandingkan dengan kemasan lainnya, sebaliknya pada penyimpanan suhu dingin total asamnya lebih tinggi dari bahan kemasan lainnya.


DAFTAR PUSTAKA

Anzueto, C.R., dan S.S.H. Rizvi. 1985. Individual Packaging of Apples For Shelf Life Extension. J. Food Sci. 50: 897-900, 904.

Pantastoco, E.B., H. Subramanyam, M.B. Bhatti, N. Ali dan E.K. Akamine. 1986. Petunjuk Untuk Pemanenan Hasil. Didalam : Pantastico, E.B. (ed) Fisiologi Pasca Panen, Penanganan dan Pemanfaatan Buah-buahan dan Sayur-sayuran Tropik dan Subtropik. Gadjah Mada Press, Yogyakarta.

Syarief, R. 1994. Pemodelan Pengemasan Sistem Atmosfer Termodifikasi dan Pendugaan Masa Simpan Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) Laporan Penelitian Lembaga Penelitian, IPB.

Posted Mei 11, 2012 by Jurnal Ilmiah Agripeat in Penelitian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: