PEMETAAN DAERAH PENYEBARAN == Melhanah; Giyanto; Warismun   Leave a comment

PEMETAAN DAERAH PENYEBARAN SERANGAN TIKUS PADA TANAMAN PADI DI KALIMANTAN TENGAH

(Mapping the distribution of rat attack on rice plants in Central Kalimantan)

Melhanah1*), Giyanto1),  dan Warismun2)

1) Staf Pengajar Jurusan Budidaya Pertanian Faperta UNPAR

2)Balai PerlindunganTanaman pangand dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Tengah

*E-mail : melhanah@yahoo.co.id

ABSTRACT

The objective of the study was to analyze and identify and map the spread of the rat attack on rice crops during the dry season in Central Kalimantan. The data collected consists of 13 districts and 1 city in the province of Central Kalimantan. Data during the period of 7 (seven) years (2002-2008) obtained the data set 6 planting season and 6 during the dry season. Analysis and mapping of regional distribution in rat attack rice plants using the method of analysis of seasonal crops. The results showed that: The attack rats for 7 years (2002-2008/6 dry season) as a whole has caused damage and loss of rice crops in Central Kalimantan province, spread across 11 districts (78.57%), with an average the highest attack  an area of 95.02 ha  occurred in Kapuas district, and area attacks rats are endemic in the district of Kapuas and Pulang Pisau.

Keyword : Mapping, rat attack, rice plant

 

ABSTRAK

 Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengidentifikasi  serta pemetaan penyebaran  daerah serangan tikus pada tanaman padi selama musim kemarau di Kalimantan Tengah.   Data yang dikumpulkan terdiri atas data sekunder serangan tikus dan luas serangan berasal  dari 13 kabupaten dan 1 kota di Provinsi Kalimantan Tengah.  Data selama periode 7 (tujuh) tahun (2002-2008) diperoleh kumpulan data 6 musim tanam dan 6 musim kemarau.  nalisis dan pemetaan daerah penyebaran serangan tikus pada tanaman padi menggunakan metode analisis tanaman musiman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: serangan tikus selama 7 tahun terakhir (2002-2008/ pada 6 musim kemarau) secara keseluruhan telah menimbulkan kerusakan dan kerugian pada tanaman padi di Provinsi Kalimantan Tengah yang tersebar di 11 kabupaten (78,57%); dengan rata-rata tertinggi serangan seluas 95,02 ha terjadi di kabupaten Kapuas, dan daerah serangan tikus endemis terdapat di kabupaten Kapuas dan Pulang Pisau.

.Kata kunci : pemetaan,serangan tikus,tanaman padi

 PENDAHULUAN

Pengembangan produksi padi dewasa ini terus ditingkatkan karena  padi merupakan makanan pokok penduduk Kalimantan Tengah, selain itu  usaha tani padi  dapat memberikan keuntungan yang cukup tinggi.  Salah satu  kendala yang dihadapi dalam usaha peningkatan produksi padi di Kalimantan Tengah adalah adanya serangan tikus.

Tikus merupakan salah satu hama penting pada tanaman padi dengan risiko yang harus diperhitungkan dalam setiap budidaya tanaman padi, karena tingkat serangannya selalu dominan  pada setiap musim tanam, baik musim kemarau maupun musim penghujan.   Serangan tikus sawah dijumpai sepanjang musim dan menyerang pertanaman mulai stadia persemaian, vegetatif, generatif, bahkan sampai di gudang penyimpanan (Anonim, 2006;  Balai Proteksi Tanaman Pangan VIII Banjarmasin, 1993).

Luas serangan hama tikus pada tanaman padi di Kalimantan Tengah dalam 7 tahun terakhir (th 2002-2008) mencapai 6.925,3 ha atau  rata-rata seluas 989,33 ha/tahun.  Selama kurun waktu tersebut luas serangan tikus dari tahun ke tahun berfluktuasi namun ada kecenderungan meningkat (Anonim, 2008). Kumulatif luas tambah serangan tikus pada tanaman padi di Provinsi Kalimantan Tengah pada tahun 2010 mencapai 1.239,83 Ha (Anonim, 2010)

Prioritas utama yang diperlukan untuk mengetahui serangan tikus adalah pemetaan daerah penyebaran serangan tikus. Penyebaran serangan tikus dapat menjadi dasar untuk menentukan strategi menghadapi permasalahan yang timbul akibat adanya serangan tikus.  Informasi ini juga penting bagi para petani dan pengusaha padi sehingga dapat memahami dan dapat mengantisipasi terhadap kemungkinan timbulnya serangan tikus yang dapat menurunkan kualitas dan produksi usaha taninya (Lanya dan Suwardiwijaya, 2003). Dalam upaya memberikan informasi yang dapat digunakan sebagai dasar dalam membuat perencanaan dan pengambilan kebijakan pengendalian tikus  pada musim kering di Kalimantan Tengah, maka diperlukan analisis dan identifikasi daerah penyebaran serangan tikus di Provinsi Kalimantan Tengah .

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menganalisis dan mengidentifikasi daerah penyebaran serangan tikus pada tanaman padi menurut kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Tengah dan (2) Pemetaan daerah penyebaran serangan tikus pada tanaman padi di Provinsi Kalimantan Tengah berdasarkan kategori serangannya (endemis, sporadik, potensial dan aman).

 

BAHAN DAN METODE

Penelitian dilaksanakan di Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Kalimantan Tengah, Kota Palangka Raya, pada bulan November 2009 sampai dengan Januari 2010. Bahan yang digunakan adalah data-data sekunder serangan tikus, peta Kalimantan Tengah skala 1:1.250.000 (Digital, batas administrasi kabupaten).  Sedangkan alat-alat yang digunakan terdiri atas alat tulis, kalkulator, seperangkat komputer dan printer.

Data yang diolah dan dianalisis adalah data skunder berupa laporan musiman, laporan tahunan berdasarkan data historis luas tambah serangan (LTS).  Data dikumpulkan  dari 14 lokasi di Provinsi Kalimantan Tengah yang terdiri atas 13 kabupaten dan 1 kota, data yang dikumpulan selama 7 (tujuh) tahun ( periode April 2002-Maret 2008), sehingga diperoleh data 6 musim tanam yang terdiri atas  6 musim kemarau (data serangan dari bulan April sampai September) Data dikumpulkan dari Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Tengah.

Pelaksanaan

Tahapan mengidentifikasi daerah penyebaran serangan tikus pada tanaman padi menurut kabupaten/kota dan  proses pembuatan peta,  langkah langkah yang  dilaksanakan adalah: 1) Menentukan kriteria luas terkena serangan untuk masing masing kabupaten/kota. Diawali dengan; a). Menghitung  Klasifikasi Rata-rata Terkena (RTJ);  dimana, RTj=  Rata-rata T untuk masing-masing K-j; m=Banyaknya musim tanam yang disertakan dalam analisis dan  Tij=Luas T pada masing-masing K-j disetiap musim-I, i=1, 2, 3,  m=musim dan j=1, 2, 3, , k; b). Menentukan  selang klasifikasi rata-rata T (SRT)

Maks RTj = Nilai tertinggi dari RT dari seluruh K yang terlibat dalam analisis. Nilai 3 =Tiga kelompok data RT (rendah, menengah, dan tinggi), 3), Menentukan kelas RTj. Nilai SRT yang diperoleh  selanjutnya dimasukkan dalam Tabel 1

 

Tabel 1.    Klasifikasi rata-rata terkena untuk masing-masing kabupaten/kota

KRTj

Kisaran RTj

Kriteria

0

0

Tidak pernah terkena serangan

1

>0 sampai SRT

Luas terkena serangan rendah

2

>SRT sampai 2 * SRT

Luas terkena serangan menengah

3

>2 * SRTsampai 3 * SRT

Luas terkena serangan tinggi

Sumber: Balai Besar Peramalan Organisme Penganggu Tumbuhan Pangan dan Horiultura.  2003

Tabel 2.Klasifikasi frekuensi serangan untuk masing-masing kabupaten/kota

KFj

Kisaran Fj

Kriteria

0

0

Tidak pernah terjadi serangan

1

> 0 sampai SF

Frequensi serangan rendah

KFj

Kisaran Fj

Kriteria

2

> SF sampai 2 * SF

Frequensi serangan menengah

3

> 2 * SF sampai 3 * SF

Frequensi serangan tinggi

Sumber: Balai Besar Peramalan Organisme Penganggu Tumbuhan Pangan dan Hortikultura.  2003

Tabel 3.  Batasan pemetaan daerah penyebaran serangan tikus pada tanaman padi di Kalimantan Tengah berdasarkan kelas dan kriteria

Kelas

Kisaran KRTFj

Kategori daerah serangan

Batasan

Rata-rata Luas Serangan

Frekuensi Kejadian

0

0

Aman

Tidak pernah terjadi serangan

1

1 – 2

Potensial Rendah Pernah Terjadi

2

3 – 4

Sporadik Rendah Sering sampai terus menerus terjadi

  Menengah Pernah sampai sering terjadi

  Tinggi Pernah terjadi

3

5 – 6

Endemik Menengah Terus menerus

  Tinggi Sering terjadi

 


2) Menentukan  Klasifikasi Frekuensi Serangan.  Langkah yang dilaksanakan adalah: a) Menghitung frekuensi terkena serangan (Fj); b) menentukan selang klasifikasi frekuensi terkena serangan (SF) dengan rumus: SF=1/3 Maks F. Maks F = Banyaknya musim tanam yang dilibatkan dalam analisis; Nilai 3 = Tiga kelompok frequensi serangan (rendah, menengah, dan tinggi; c). Menentukan kelas Fjsesuai dengan klasifikasi yang seperti pada Tabel 2.

 

3). Analisa Kriteria Daerah SeranganLangkah yang dilaksanakan adalah  a); menghitung jumlah kombinasi KRTj dan KFj.   KRTFj=KRTj+KFj j=1,2,3, b). Menentukan kelas kategori daerah serangan.  Nilai klasifikasi daerah serangan (KKRTFj) didistribusikan kedalam masing-masing  lokasi (K) untuk dibuat peta. Peta  menggunakan fasilitas Sistem Informasi Geografis (SIG). Formulasi  dan tabel yang digunakan untuk mengidentifikasi penyebaran serangan tikus berdasarkan formula berasal dari Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan Pangan dan Hortikultura (2003).

4). Menentukan batasan pemetaan daerah penyebaran serangan tikus pada tanaman padi di Kalimantan Tengah. Penetapan batasan-batasan daerah serangan tikus pada tanaman padi (Lanya, dkk., 2002), seperti pada Tabel 3.

Untuk menyamakan persepsi dan memudahkan dalam membaca peta,  maka dalam membuat peta digunakan simbol arsiran  berwarna hitam (Wahyudin dan Suwardiwijaya, 2003).

Analisa Data

Metode analisis dan pemetaan daerah penyebaran serangan tikus pada tanaman padi di Kalimantan Tengah menggunakan metode analisis tanaman musiman, dengan parameter yang diamati adalah rata-rata luas tambah serangan terkena (T), dan frekuensi serangan (F) atau banyaknya kejadian serangan.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis dan identifikasi daerah penyebaran serangan tikus pada tanaman padi  di Provinsi Kalimantan Tengah

Hasil identifikasi menunjukkan bahwa di provinsi Kalimantan Tengah tikus menyerang di 11  Kabupaten dengan frekuensi serangan tertinggi mencapai enam (6) kali terjadi di empat (4) Kabupaten dan tidak pernah terjadi serangan  terdapat di tiga (3) Kabupaten/Kota. Rata-rata  luas terkena terkena dan rata-rata puso pada  tanaman padi yang diserang tikus  selama musim kemarau mencakup 11 kabupaten (78,57%) dari seluruh kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Tengah (Tabel 4).

Nilai maksimun rata-rata terkena (RTj) pada musim kemarau sebesar 95,02 ha terdapat di kabupaten Kapuas, dengan demikian maka selang klasifikasi rata-rata terkena (SRT) termasuk kategori luas serangan tinggi (Tabel 5)

 

 

Tabel 4.  Frekuensi (F),  Rata-rata luas terkena (T) dan puso (P) serangan tikus pada tanaman padi selama musim kemarau (2002-2007) menurut kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Tengah.

No.

Kabupaten/Kota

Frekuensi Serangan

(Kali)

Rata-rata luas terkena (T) (Ha)

Puso (P) (Ha)

1.

Kapuas

6

95,02

0,5

2.

Pulang Pisau

5

85,67

0

3.

Gunung Mas

1

2,59

0

4.

Kotawaringin Timur

6

15,81

0

5.

Seruyan

1

1,41

0

6.

Katingan

1

1,92

0

7.

Kotawaringin Barat

5

15,08

1,08

8.

Lamandau

2

0,58

0

9.

Sukamara

0

0

0

10.

Barito Selatan

6

29,10

0

11.

Barito Timur

5

9,17

0

12.

Barito Utara

6

3,44

0

13.

Murung Raya

0

0

0

14.

Palangka Raya

0

0

0

Kalimantan Tengah

44

259,78

1,58

 

 

 

 

Tabel 5   Klasifikasi rata-rata T (RTj) serangan hama tikus pada musim kemarau

Kelas

Kisaran

Kriteria

0

0 Tidak pernah terjadi serangan

1

> 0 – 31,67 ha Luas serangan rendah

2

> 31,67 – 63,34 ha Luas serangan menengah

3

> 63,34 ha – 95,02 ha Luas serangan tinggi

 

Hasil Pemetaan

Berdasarkan 2 (dua) parameter rata-rata terkena serangan (RTj) dan frekuensi kejadian serangan (Fj) di atas maka dapat diidentifikasi kategori daerah serangan hama tikus untuk masing-masing kabupaten/kota (Tabel 6)

Hasil pemetaan kategori daerah penyebaran serangan tikus menurut kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Tengah pada musim kemarau dapat dilihat pada gambar 1 berikut.

Kegiatan pemetaan pada dasarnya bertujuan membantu manusia dalam proses pengambilan keputusan dalam menangani permasalahan.  Pengambilan keputusan melalui pemetaan dan analisis keruangan dapat dibuat sebuah perencanaan yang mengacu pada alternatif terbaik, akurat, efektif dan efisien, baik ditinjau dari sasaran, waktu maupun biaya.

 

 

Tabel 6.  Jumlah dan persentase kabupaten/kota menurut kategori daerah serangan tikus di Provinsi Kalimantan Tengah pada musim kemarau

Kategori daerah

serangan

Jumlah Kabupaten

%

Kabupaten

Aman

3

21,4

Sukamara, Murung Raya ,Palangka Raya

Potensial

4

28,6

Gunung Mas, Seruyan, Katingan,Lamandau

Sporadis

5

35,7

Kotawaringin Timur, Kotawa-ringin Barat, Barito Selatan, Barito Timur, Barito Utara

Endemis

2

14,3

Kapuas, Pulang Pisau

Jumlah

14

100,0

14

Gambar 1    Peta penyebaran daerah serangan tikus pada tanaman padi musim kemarau menurut kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Tengah

 

Pada Gambar 1 menunjukkan tikus sudah menyerang pada 11 Kabupaten di Provinsi Kalimantan Tengah, dan Kabupaten Kapuas dan Pulang Pisau  termasuk kategori endemis sehingga perlu diwaspai juga  kemungkinan serangan tikus akan menyebar ke kabupaten yang terdekat di dua kabupaten tersebut.  Hasil pemetaan penyebaran serangan tikus tersebut dapat digunakan sebagai informasi awal untuk mengetahui kemungkinan menyebarnya tikus ke daerah kabupaten lain, maupun terjadinya migrasi tikus ke daerah lain.  Hal ini sesuai dengan pendapat Daryanto (2002) bahwa pemetaan merupakan langkah awal untuk mengetahui penyebaran organisme pengganggu tanaman, sebagai dasar menentukan langkah-langkah dalam menghadapi masalah yang timbul, sehingga dampak pada masa yang akan datang penurunan kualitas dan kuantitas produksi dapat padi dapat ditekan.

Data dan hasil pemetaan  yang diperoleh dapat digunakan untuk memprediksi serangan tikus pada tahun yang akan datang dan langkah langkah pengendalian yang dapat dilaksanakan. Prediksi tersebut antara lain: a). Kabupaten Kapuas dan Pulang Pisau masih akan terserang tikus; b) Serangan tikus akan menyebar ke daerah tetangga terdekat seperti Kabupaten Barito Selatan, Barito Utara, Katingan dan Gunung Mas; Langkah pengendalian yang dapat dilakukan antara lain dengan memanfaatkan musuh alami yang tersedia di lapangan, dan pelaksanaan pengendalian harus dilakukan oleh petani secara berkelompok dan terkoordinasi dalam cakupan skala yang luas.  Hal ini sesuai dengan pendapat Natanegara dan Suwardiwijaya, (2003), Lanya dan Suwardiwijaya, (2003),  Departemen Pertanian (2008) bahwa hasil pemetaan dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan mendasar seperti : (a) dimana organisme pengganggu tanaman itu menyerang?; (b) kemana organisme pengganggu  akan menyebar?; (c) berapa luas serangannya?;  dan (d) bagaimana cara mengatasi hama/penyakit tersebut? serta perlunya pengendalian hama tikus secara terpadu dengan memanfaatkan berbagai teknologi pengendalian yang sesuai.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pemetaan dan penyebaran serangan tikus pada tanaman padi di provinsi kalimantan Tengah disimpulkan sebagai berikut: 1) Serangan tikus selama 7 tahun terakhir (tahun 2002-2008) atau (selama 6 musim kemarau tahun 2002- 2007) secara keseluruhan telah menimbulkan kerusakan dan kerugian pada tanaman padi di Provinsi Kalimantan Tengah yang tersebar di 11 kabupaten (78,57%) ; 2).     Rata-rata tertinggi serangan tikus pada tanaman padi selama 6 musim kemarau seluas 95,02 ha terjadi di kabupaten Kapuas; 3).Berdasarkan hasil analisis dan pemetaan daerah serangan tikus menunjukkan bahwa pada musim kemarau yang dikategorikan daerah endemis ada di dua kabupaten, yaitu kabupaten Kapuas dan Pulang Pisau.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2006. Pemetaan Daerah Penyebaran Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) Tanaman Padi Di Kalimantan Tengah. Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalimantan Tengah. Palangka Raya. Hal 1. Tidak dipublikasikan.

_________, 2008. Kumulatif Luas Tambah Serangan OPT Pangan di Provinsi Kalimantan Tengah Selama 7 tahun (2002-2008 Data Sampai Dengan Bulan Maret 2008). Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Tengah Tahun. Palangka Raya.

_________, 2010. Laporan Tahunan Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2010. Palangka Raya.

Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan Pangan dan Hortikultura. 2003. Analisis Daerah Endemis Organisme Pengganggu Tumbuhan. Pelatihan Analisis Data dan Pemetaan OPT/GIS di Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan Pangan dan Hortikultura. Jatisari-Karawang, 9-16 September 2003.

Balai Proteksi Tanaman Pangan VIII Banjarmasin.1993. Brosur Pengendalian Tikus Dengan Bubu dan Strategi Pengendalian Penggerek Batang Padi.Balai Proteksi Tanaman Pangan VIII Banjarmasin Bekerjasama dengan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan. Banjarbaru. Hal. 1-2.

Lanya, H., Natanegara, F., Suwardiwijaya, E., Kusprayogie, Y., Wahyudin, Hendarto, T., Srimulyati, T., Limbong, R., Dulalim, Nurpiah, Mulyaman, S., Antulat, M.T., Wahyudin Y. 2002. Peta Daerah Endemis OPT Hortikultura (Penyakit Layu Fusarium dan Layu Bakteri pada Pisang, Hama Penggerek Ranting pada Mangga, Penyakit CVPD pada Jeruk). Balai Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan. Karawang.

 

 

Lanya, H., Suwardiwijaya, E. 2003. Peranan Pemetaan Dalam Pengembangan Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan. Pelatihan Analisis Data dan Pemetaan OPT/GIS. Balai Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan Jatisari-Karawang, 9-16 September 2003.

Natanegara, F., Suwardiwijaya, E. 2003. Sistem Informasi Geografis dan Pemetaan. Pelatihan Analisis Data dan Pemetaan OPT/GIS. Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan Pangan dan Hortikultura Jatisari-Karawang, 9-16 September 2003.

Wahyudin, Y., Suwardiwijaya, E. 2003. Analisis Daerah Endemis Organisme Pengganggu Tumbuhan. Pelatihan Analisis Data dan Pemetaan OPT/GIS. Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan Pangan dan Hortikultura Jatisari-Karawang, 9-16 September 2003.

Posted Mei 11, 2012 by Jurnal Ilmiah Agripeat in Penelitian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: